Skip to content

Cerpen: Eksekusi (bagian 2)

by pada 30 Desember 2012

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan Minggu Tenang. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Niken Ari S (Pb 3B)

(bbc.co.uk)

(bbc.co.uk)

Bagian Kedua

 Pak Budi berjalan ke luar ruangan. Tak lama sesosok pria muda tampan, gagah, namun lusuh, memasuki ruangan. Sari berbalik, pemuda itu terkesiap melihat siapa tamunya yang datang.

“Mas Bayu? Mas Bayuu..” Sari berdiri dan langsung memeluk pria muda itu.

“Maaf Anda siapa?” tanya Bayu, sambil melepaskan pelukan Sari.

“Aku Sari, Mas. Ingat?” tanya Sari.

Bayu menggeleng lemah. Tatapannya lurus. Kosong. Sari mengajaknya duduk di kursi.

“Mas, kemana saja? Ibu kangen lho, Mas. Ini Ibu bawakan tahu bacem, kesukaan Mas. Mas melakukan apa, sampai di penjara dan dihukum mati pula? Ibu khawatir lho, Mas. Tapi kalau pun Mas memang harus dihukum mati seperti yang diberitakan, tidak apa-apa Mas. Ibu sudah ikhlas. Kita harus patuh hukum, kan, Mas?” Sari berbicara tanpa henti.

Bayu tetap diam. Tatapannya tetap kosong. Mulutnya bungkam, seperti ia tidak pernah menghafal kata-kata sebelumnya. Lama mereka terdiam. Hanya suara detak jam dan rintikan hujan yang mulai mereda.

“Saya bukan Bayu yang kamu cari. Maaf, kamu salah orang,” ujar Bayu dingin.

Sari menganga tak percaya. Ia menggeleng dan mulai menangis.

“Kamu Mas Bayu. Aku ingat itu. Kamu kakak laki-laki satu-satunya, yang aku punya. Kamu tega, kalau tidak ingat padaku, Mas..” isak Sari. Sari yakin, laki-laki yang duduk di hadapannya ini adalah kakaknya. Iya, kakaknya. Mana mungkin ia lupa.

Bayu tetap tidak bergeming. Dilihatnya Sari yang terus menangis.

“Dengar gadis manis,” ujar Bayu, “Ada banyak napi yang bernama Bayu di sini. Mungkin Bayu yang kau maksud, bukan saya. Dan menurut saya, kakak kamu bukan penjahat seperti saya ini, yang sisa hidupnya hanya tinggal malam ini saja.”

*******

Sari berhenti menangis. Dicernanya kata-kata Bayu tadi.

“Walaupun saya bukan orang yang kau cari, tapi, terima kasih, ya. Saya senang ada yang mau mengunjungi saya, di akhir hidup saya ini. Selama saya di penjara, belum pernah ada yang datang mengunjungi saya,” kata Bayu, yang kini mulai tersenyum, walau tipis.

“Sama-sama. Hmm..Mas melakukan kesalahan apa, sampai dihukum mati seperti ini?” tanya Sari.

“Saya menyelundupkan narkoba. Dan saya tergabung dalam sindikat perdagangan narkoba internasional. Nanti, kamu jangan sampai seperti saya, ya,” kini suara Bayu sudah sangat bersahabat.

“Mengapa Mas menyelundupkan narkoba?” tanya Sari lagi.

“Faktor ekonomi. Hasil uangnya saya kirimkan untuk ibu dan saudara saya di kampung.”

“Kampung Mas di mana?”

“Saya dari Sulawesi, Gorontalo.”

Sari manggut-manggut. Ia percaya dengan perkatan Bayu bahwa ia bukan kakaknya. Informasi yang didapatnya juga bukan menunjukkan, jika lelaki itu adalah Bayu yang ia cari. Sari melirik jam tangannya. Sudah saatnya dia pulang, pikirnya.

“Mas, saya pamit dulu. Takut dicari ibu. Maaf, sudah mengganggu. Mas yang sabar, ya. Saya doakan, Mas bisa tenang di sana,” ujar Sari, berpamitan.

“Iya, tidak apa-apa. Saya senang, ada yang mengunjungi di saat-saat terakhir saya masih bisa bernafas.”

Sari berdiri, beranjak pulang.

“Sari..” panggil Bayu, “Sekali lagi terima kasih, dan salam untuk ibumu,” Bayu berdiri dan memeluk Sari.

Sari hanya mengangguk, melepaskan pelukan Bayu, lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan.

*******

Bayu terduduk lesu di kursinya. Ia diam. Meratapi yang baru saja terjadi. Ia tidak menyangka dapat berbohong sedemikian rapinya pada Sari, adik yang sangat ia cintai.

“Itu tadi adikmu, kan?” tanya Rahma, yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam ruangan itu tanpa Bayu ketahui kedatangannya. “Maaf, saya menguping pembicaraan kalian.”

“Bagaimana Dokter tahu, kalau gadis tadi adik saya?” tanya Bayu.

“Semua gerak-gerikmu menunjukkan itu,” jawab Rahma, “Mengapa kau berbohong?”

Bayu tertunduk lesu. Rasanya ingin teriak dan menangis menyesali perbuatannya.

“Saya tidak mau Sari tahu dan malu punya kakak penjahat, seperti saya ini Dok,” jawab Bayu, “Juga tidak mau membuat ibu saya malu, karena telah melahirkan penjahat seperti saya. Dan saya rasa, dengan menutupi identitas diri saya yang sebenarnya, mereka akan lebih tenang. Setidaknya, tidak ada gunjingan dari tetangga.”

“Tapi mereka mencarimu. Mereka akan tetap memikirkanmu, sampai ada kabar yang jelas,” tandas Rahma lagi.

“Saya sudah menulis surat,” Bayu mengeluarkan surat dari saku celananya, “Ini Dok, tolong kirimkan besok setelah saya dieksekusi. Dan tolong, jangan kirimkan jasad saya ke mereka.”

Rahma mengambil surat dari Bayu, “Akan kuposkan besok. Sekarang, setelah bertemu dengan keluargamu, apakah kau merasa lebih baik?”

“Iya. Saya tenang karena dapat bertemu dengan seseorang yang saya cintai, sebelum saya pergi selama-lamanya,” jawab Bayu, dengan senyum yang lebih ringan.

“Ayo, saya antarkan ke sel. Tunggu di sana hingga waktunya tiba,” ajak Rahma.

Bayu menuruti Rahma. Kini ia lebih mantap menunggu, detik demi detik waktunya dieksekusi mati. Dan ia juga lebih tenang, karena sudah berpamitan dengan orang yang ia cintai sebelum ia pergi. Dan ia tahu, tidak pernah akan kembali. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: