Skip to content

Ibu, Aku Menyayangimu

by pada 31 Desember 2012
(republika.co.id)

(republika.co.id)

Oleh Farida Yasribi

Ibu adalah kata yang pertama kali terlontar dari bibir mungilku ketika aku belajar berbicara. Bahkan hingga kini, kata itulah yang paling sering terucap dari lisan dan hati ini.

Ibu adalah guru yang pertama kali mengajariku banyak hal dan nilai-nilai kehidupan. Sosok wanita terhebat itu adalah yang pertama kali mengajarkanku arti kesabaran. Aku masih sangat ingat, pancaran cahaya raut wajahnya penuh kesabaran.

Ibu adalah yang pertama kali mengajariku sholat. Dengan sabar, ibu menuntunku, membimbingku bagaimana caranya sholat, bacaan sholat, membaca al-quran hingga berpuasa.

Aku juga masih ingat ketika ibu mengajariku cara menulis. Mulai dari mengajariku cara memegang pensil yang baik hingga menghapus tulisan itu. Dengan sabar, ibu membantu jemari tanganku memegang pensil, membantuku menggoreskan garis di atas kertas. Ibu juga yang mengajariku cara menghapus.

Aku masih ingat saat SD dulu. Aku merengek dan mengeluh tidak bisa mengikat tali sepatuku. Lalu ibu dengan sabar mengikatkan tali sepatuku. Berulang kali aku kesulitan mengikat tali sepatu. Tapi ibu tetap sabar membantuku hingga aku bisa mengikat tali sepatu sendiri.

Ibu adalah yang pertama kali mengajariku arti ketulusan. Ibu selalu memberi segala yang aku butuhkan. Ibu memberi tanpa mengaharap imbalan. Aku masih sangat ingat. Ketika lelah menghampiriku hingga aku masuk angin, ibu selalu membuatkanku teh manis hangat dan bubur kacang hijau.

Setiap pagi, ibu selalu memasak sarapan untuk kami sekeluarga. Ibu adalah yang paling tahu makanan yang aku suka. Aku suka semua makanan yang dimasak oleh ibu. Ibu yang pertama kali mengenalkanku kepada rasa lezatnya beragam makanan. Mulai dari capcay, cumi kecap pedas, pepes ayam, pepes tahu, sop iga, puding, hingga brownies.

Ibu adalah yang pertama kali mengajariku memasak. Ibu suka sekali memasak, membuat kreasi masakan, kue hingga puding. Setiap hari libur kuliah, aku membantu ibu memasak di dapur. Meski ibu selalu melarang dan berkata “Jangan, udah ga usah, belajar aja sana, selesaikan tugas kuliahnya!”, tetapi aku tetap berada di dapur, membantunya.

Aku juga masih sangat ingat bagaimana nikmatnya berbuka puasa dan makan sahur bersama ibu (tentunya sekeluarga) tapi yang paling penting bersama ibu. Nikmat sekali rasanya, menyantap menu berbuka puasa dan sahur bersama ibu. Sholat bersama ibu. Berangkat solat tarawih, sholat ‘Id bersama ibu.

Aku juga masih sangat ingat waktu aku kecil dulu. Bagaimana susah payahnya ibu memberiku segelas air minum. Tapi aku lalai, sehingga menumpahkannya. Dan gelasnya jatuh, pecah.

Saat ibu memberiku sepiring nasi lengkap dengan laukpauknya, tapi aku ceroboh. Lalu piring itu jatuh, pecah.

Saat terindah dalam hidupku adalah ketika aku berada disamping ibu. Ketika ibu berada di dekatku, saat itulah aku merasakan ketenangan yang luar biasa.

Aku masih sangat ingat ketika aku berada di perjalanan pulang dari kampus—kira-kira bulan September lalu—saat itu hujan sangat deras mengguyur jalanan bercampur kilat yang menyambar, aku langsung teringat ibu. Saat itu aku merasa ketakutan sekali. Aku ingin segera sampai di rumah bertemu ibu.

Ibu adalah pendengar yang paling setia. Ibu selalu mendengarkan ketika aku bercerita. Aku pun senang pada saat mendengarkan ibu bercerita.

Saat ia tertidur lelap, tampak guratan lelah di wajahnya. Aku tahu ibu lelah. Tapi, ibu tidak pernah mengeluh lelah atau cape. Cahaya kasihnya selalu memancar menghiasi wajahnya.

Seorang Ibu pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Pernah suatu malam aku terbangun dari tidur dan melihat ibu sedang solat malam. Lalu aku mendengar suara lirih ibu sedang berdoa memohon kepada Allah supaya  putrinya, menjadi anak sholeha, selalu dalam keberkahan, sehat dan dimudahkan segala urusannya.

Saat yang paling berkesan di dalam hidupku adalah ketika aku bersama ibu. Saat aku berpamitan, mencium tangannya, saat itulah aku merasakan ketenangan yang teramat indah. Aku bersyukur hingga detik ini masih dapat mencium tangannya.

Semua hal yang berhubungan dengan ibu itu selalu membuatku bahagia. Aku akan selalu berusaha melakukan dan memberi segala yang terbaik untuknya. “Ibu, aku menyayangimu.”

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: