Skip to content

Kegigihan Seorang Juru Parkir

by pada 31 Desember 2012
(lukevery.blogspot.com)

(lukevery.blogspot.com)

Oleh Rangga Rahadiansyah

Matahari pagi seakan malu menampakkan dirinya. Genangan air hujan semalam membuat pasar Belimbing, Kramat Jaya, Jakarta Utara menjadi becek. Belum lagi air bekas cucian ikan, menambah kesan tak enak dipandang.

Namun, hal itu tidak membuat Nana (38) enggan menginjak tanah pasar yang basah untuk melakukan profesinya sebagai tukang parkir. Baginya, hal ini sudah biasa dirasakan setiap hari.

Bermodal peluit dan tongkat bertuliskan “stop”, Nana melakukan pekerjaannya memarkir kendaraan pembeli di pasar. Pagi itu, Nana yang ditemani dua orang rekannya terlihat kewalahan memarkir kendaraan yang banyak di lahan yang sempit.

“Biasa… hari libur jadi penuh deh parkiran,” katanya menyunggingkan senyuman.

Kendaraan bermotor berjejer rapi di lahan seluas lapangan badminton. Nana tampak lelah setelah merapikan barisan kendaraan. Sembari menghisap rokok di tangannya, ia sibuk menghitung uang yang didapatkan hari ini.

“Ya… ngga seberapa sih. Yang penting anak sama istri bisa makan hari ini,” terangnya.

Ya, penghasilan Nana sebagai tukang parkir memang kurang dari upah minimum regional di Jakarta. Kebutuhan sehari-harinya hanya dipenuhi dengan serba kecukupan.

“Saya sering minjem uang tetangga untuk bayar kebutuhan sekolah anak saya. Kadang-kadang saya malu minjem uang terus. Tapi mau gimana lagi orang saya ngga punya uang,” tuturnya sambil memerhatikan orang lewat.

Penampilannya yang seperti preman pasar dengan rambut gondrong kemerahan karena terbakar terik matahari membuat beberapa orang yang lewat segan melihat wajah Nana. Bahkan, katanya, ia pernah diusir oleh hansip baru karena terlihat seperti preman.

“Padahal kan saya cuma jadi tukang parkir doang. Nyari kerjaan halal,” jelasnya.

Hari semakin siang. Suara gaduh mesin pemarut kelapa, tawar menawar pembeli, dan teriakan penjual untuk menarik perhatian membuat suasana khas pasar terasa kental. Awan hitam menjauh. Matahari mulai menampakkan dirinya. Terik matahari pagi menjelang siang terasa menyengat. Namun, Nana masih memarkirkan kendaraan dengan semangat.

Nana yang melakukan profesi sebagai tukang parkir di pasar Belimbing sejak enam tahun lalu, mengaku tidak pernah malu melakukan pekerjaan ini. Kulit hitam kecoklatannya menggambarkan betapa gigihnya ia melakukan profesi sebagai tukang parkir.

Bagi Nana, penghasilan yang tak menentu bukan menjadi alasan untuk tidak bekerja. Bahkan, ketika sakit pun ia tetap melanjutkan profesinya.

“Saya mah cuma lulusan SMP, jadi susah dapat kerjaan,” kata Nana. “Kalau ngga kaya gini anak saya ngga bisa sekolah,” sambungnya.

Perlahan, profesi ini memberikan semangat untuknya. Nana ingin putri satu-satunya bisa membanggakan keluarga. Setelah ia mampu membiayai putrinya hingga lulus SMK, ia berharap putrinya bisa mendapat pekerjaan yang layak.

“Sampai sekarang saya masih jadi tukang parkir karena butuh uang untuk nyekolahin anak. Saya ngga mau anak saya sama kaya bapaknya, cuma jadi tukang parkir atau ibunya yang jadi penjual mie ayam di rumah. Mudah-mudahan aja kerja keras saya bisa membantu anak saya jadi sukses,” harapnya seraya menyeruput kopi.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: