Skip to content

Songsong Semua Asa

by pada 31 Desember 2012
(iki-saiin.blogspot.com)

(iki-saiin.blogspot.com)

Pengantar: Barangkali, puisi yang khusus dibuat untuk waktu yang khusus ini, dapat dibaca saat kita rehat. Semoga bermanfaat.

Oleh Dasril Piliang (Alumni TGP)

Untuk Sebuah Nama

Menapaki jejak demi jejak..
Terpancing asa merentas purnama
Kurangkai indahnya sayap-sayap di pucuk berbintang
Tuk terbang  di galaksi indah ciptaanNya

Untuk sebuah nama..
Mata pena yang tak tajam kujadikan senjata
Berkawan dengan pahit dan deru derita
Luka bersimbahpun tak mengapa
Asal rangkaian indah senyum bisa tersungging di wajahnya

Hanya untuk sebuah nama
Membaktikan jiwa dan raga
Dalam raut duka sang mahadaya
Dalam durjana racun dunia
Untuk satu iman yang sempoyong tuk bertahan

Ya, hanya untuk sebuah nama..
Selalu tertatih kaki ini melangkah, tapi tak jua kan padam semangat yang membara…

Harga Setetes Susu

Mak….
Jiwaku rela berkorban tuk bahagiamu.
Kau tanggung derita demi derita saat mengandungku.
Dua tahun lamanya kau tumbuhkan dagingku dengan air susu kesucian.

Kau kokohkan tulangku dengan air susu ketabahan.
Kau alirkan darahku dengan air susu kegigihan.
Kau hidupkan harapanku dengan keteguhan imanmu.
Kau bangun masa depanku dengan untai doamu.

Tuhan mengasihi setiap tetes airmatamu.
Tuhan memberkati tiap keringat dari tubuhmu.
Tuhan merahmati setiap jejak tapak kakimu.
Tuhan mencatat kebaikan dalam tiap hembus nafasmu.

Mak…..
Tak pernah kau pedulikan nasib dirimu.
Kau jadikan tubuhmu
Benteng yang melindungi anakmu.

Mak…
Telah kau berikan hidupmu padaku.
Kini, mudah bagiku mempersembahkan nyawa untukmu.
Andai seluruh dunia berada dalam genggamanku…
Kan kutumpahkan segala isinya di bawah tapak kakimu.

Ingin kutumpahkan air mataku…
Dan bersimpuh di hadapanmu…
Kurangkai kata maaf atas kekuranganku.
Meski kuhidup berjuta tahun…

Kulalui siang dan malam tuk berbakti padamu.
Semua itu takkan mampu membayar setetes susu yang kau berikan padaku..

Indonesiaku Sayang, Indonesiaku Malang

Malang nasibmu, Indonesiaku..
Tiga setengah abad engkau dijajah
Kucuran keringat dan darah,
Harta sekalipun nyawa di korbankan para pejuang.

67 tahun silam engkau bebas dari penjajahan,

Kata mereka.
Malang nasibmu, Indonesiaku…
Engkau berada di tangan para penjilat harta dan tahta

Sang merahputih pun tetap berkibar di sana,

seakan menampar muka para penguasa korup
Burung garudapun tetap bertengger di sana.
Burung garuda berkata “hai penguasa…! turunkan aku dari sini, kau merongrong Indonesiaku”

Merekapun diam membisu, di anggapnya patung tiada guna.
Malang nasibmu, Indonesiaku..
Mereka berebut kekuasaan..

Selamat Tahun Baru Indonesiaku

Satu dekade setelah reformasi
Negeri ini masih terpuruk
Hukum bagai pisau
Tajam namun tak berbekas ke atas

Korupsi dianggap budaya
Yang menjadi prioritas untuk dilestarikan
Mengangkangi warisan leluhur lainnya
Yang diobok-obok sang tetangga

Pemimpin hanya bertutur
Tanpa perilaku
Menjaga wibawa
Tanpa rasa malu

Biarlah lembaran kelabu
Menjadi lembaran masa lalu
Selamat tahun baru Indonesiaku
Jadilah lembaran putih di tahun baru

Semoga semua indah pada waktunya
Mari kita songsong dengan semua asa
Untukmu Indonesia tercinta..

From → Puisi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: