Skip to content

Garis Hidup

by pada 1 Januari 2013
(nerdeka.com)

(merdeka.com)

Oleh Ruri Rubi Sari

Bekerja di sebuah pasar yang kumuh, kotor, becek. Setiap hari bangun pagi-pagi sekali untuk mengambil sayur mayur untuk dijualkan. Berjam-jam berdiri di pasar menunggu sang pembeli datang, berharap penghasilannya akan bertambah kali ini. Rutinitas yang tiada henti dan tiada bosan selalu diulangi dari waktu ke waktu oleh para penjual sayur mayur.

Sebuah pasar yang bernama pasar Sawo. Pasar yang terletak dibilangan Otista, Jakarta Timur ini merupakan pasar yang sudah ada sejak jaman Belanda. Sebuah pasar yang hanya ada dari jam lima pagi sampai jam sebelas siang. Sebuah pasar yang menjadi pencarian sesuap nasi Bapak Enong.

Bapak Enong dahulunya merupakan seorang tukang becak yang sering berada di depan Pasar Sawo. Setiap hari ia selalu berharap ada seseorang yang habis berbelanja di pasar akan menaiki becaknya. Awalnya kehidupannya sebagai tukan becak berjalan dengan lancar, sampai akhirnya dua minggu yang lalu ia terlibat masalah dengan temannya sesama tukang becak.

“Kejadian yang gak bakal saya bisa lupain. Hanya gara-gara masalah penumpang, saya sampai dikroyok. Teman-teman saya sendiri lagi yang mengroyok saya,” kata Bapak Enong, saat sedang beristirahat melepas lelah berdagang.

Masalah ini bermula ketika Bapak Enong sudah memiliki beberapa pelanggan tetap becaknya. Pelanggan becaknya selalu ingin menaiki becak Bapak Enong. Namun peraturan yang ada untuk tukang becak yang telah disepakati seluruh tukang becak yang ada di pasar tersebut adalah jika sudah mendapat penumpang, untuk penumpang selanjutnya diverikan pada tukang becak yang belum mendapatkan penumpang. Hal ini secara tidak langsung dilanggar Bapak Enong.

“Saya cuma gak mau ngecewain penumpang yang udah percaya dengan saya,” tutur Bapak Enong.

Pada waktu itu Bapak Enong menarik penumpang sampai dua kali, dan teman sesama tukang becaknya kesal karena Ia belum mendapatkan penumpang, alhasil mereka terlibat pertengkaran. Hal ini semakin besar, ketika tidak ada satu temannya pun yang memihak Bapak Enong. Semua temannya menyudutkannya. Akhirnya Bapak Enong tidak diizinkan untuk menunggu penumpang disana.

Bapak Enong sempat berpindah menarik becak dekat sekolah SD Cipinang Cempedak 01 Pagi, namun penghasilannya tidak sebesar, ketika Ia di pasar, hanya sedikit penumpang yang mau menaiki becaknya. Penghasilan Bapak Enong menjadi berkurang. Ia berpikir jika penghasilannya terus berkurang, Ia akan tidak mempunyai muka untuk menemui anak dan istrinya di rumah.

Sampai akhirnya Ia mendapat tawaran untuk berjualan di pasar Sawo dari salah satu pelanggannya yang prihatin dengan Bapak Enong. Tawaran tersebut Ia ambil tanpa harus berpikir dua kali, mengingat ia harus menafkahi keluarganya.

Awalnya Bapak Enong kesulitan karena tidak terbiasa berjualan di pasar, berjam-jam berdiri menunggu pembeli membeli sayur-mayurnya. Datang ke pasar induk pagi-pagi buta untuk mengambil sayur-mayur untuk dijual. Namun lama kelamaan Bapak Enong terbiasa dengan kehipannya yang baru.

Dua minggu berlalu dan Bapak Enong sudah lebih mahir melayani pembeli. Ia selalu tersenyum melayani pembeli, dan selalu bergurau dengan para pembeli, sehingga membuat pembeli nyaman berbelanja dagangannya. Bapak Enong berpendapat setelah Ia berjualan di pasar, penghasilannya ternyata lebih besar dari hasil ia menarik becak. dan Ia mensyukuri apa yang sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Seberapa pun kita berusaha, sebarapa pun kita mempersiapkan sebaik mungkin, seberapa kita nyaman dengan apa yang telah kita kerjakan. Kita tidak akan mengetahui apa yang telah digariskan Tuhan pada kita. Tuhan pasti akan memberikan apa yang terbaik untuk hambanya, seperti yang telah Bapak Enong rasakan.

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Senin 07 Januari 2013, pukiul 15.57 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3052/2013/Sebuah-Garis-Tuhan).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi. Ruri cukup datang untuk tandatangan berita ujian saja, tanpa harus mengikuti ujian. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Ruri dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: