Skip to content

Pengorbanan Ibu

by pada 1 Januari 2013

Oleh Lanjar Wiratri

(nasional.news.viva.co.i)

(nasional.news.viva.co.id)

Kadang ada satu pertanyaan yang selalu terbayang dalam benakku. Layakkah aku mendapatkan semua ini? Pertanyaan yang terus menerus menghantuiku setiap harinya. Belum ada hal berarti yang bisa kulakukan untuk sosok wanita satu ini.

Waktu kecil aku selalu berpikir ini menyedihkan jika aku tidak mempunyai mainan seperti yang dimiliki teman-temanku,bahkan aku sering ngambek pada ibu kalau ia tidak bisa membelikanku. Sampai pada suatu titik ketika aku menjadi semakin dewasa, aku menyadari semua kelakuanku ini sangat keliru.

Bapak memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena terserang stroke ringan, sehingga sudah tidak mampu lagi untuk bekerja. Tinggalah Ibu yang bekerja seorang diri. Ibu bekerja di sebuah rumah sakit sebagai seorang perawat biasa. Meskipun begitu tidak pernah sekalipun aku mendengar keluhan dari mulut ibu. Aku tidak pernah mendengar ia berteriak atau marah pada bapak yang sudah tidak sanggup lagi bekerja, ibu tetap menghomati Bapak sebagai seorang suami.

Ibu bekerja selama 9 jam, jika ia mendapat shift bekerja jam 2 siang, maka ia akan pulang ke rumah lagi pukul 9 malam, hal inilah yang membuatnya tidak punya banyak waktu di rumah seperti ibu-ibu lainnya. Sangat melelahkan tentu saja, aku bisa membayangkannya. Berdesak-desakan dalam kereta setiap harinya untuk tiba di tempat kerja, dan setibanya di sana harus segera bekerja untuk melayani pasien rumah sakit. Itulah rutinitas yang harus ibu jalani setiap harinya, tidak peduli hari libur atau bukan ibu harus selalu siap dengan semua itu.

Meski begitu aku tidak pernah melihat ibu bersedih, menangis, atau apapun itu. Dia tetap menjadi sosok seorang ibu yang ceria dan bahagia untukku. Setiap hari akU selalu menunggunya tiba di rumah kemudian aku akan bercerita dan juga mengeluh padanya tentang semua hal yang kualami hari itu, begitu juga ibu. Dia selalu menceritakan kejadian-kejadian lucu dan menyenangkan yang ia alami saat di tempat kerja. Entah itu tentang teman sesama perawatnya, ataupun tentang pasien-pasien rumah sakit yang membuatnya kesal atau senang.

Tak terbersit sedikitpun ia lelah dengan semua beban yang harus dipikulnya selama ini. Dia selalu merubah kesedihannya menjadi kebahagiaan untukku. Ibu tidak pernah menuntut banyak hal dariku. Ia hanya ingin aku belajar dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, ia tidak peduli meskipun harus “berdarah-darah” demi menyekolahkanku dan juga adikku.

Gaji yang didapat ibu sebagai perawat biasa memang tidak besar, namun cukup untuk membiayai sekolahku dan adikku, juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibu selalu mendidikku untuk mengerti dengan keadaan keluarga kami. Awalnya sulit bagiku untuk seperti itu, terkadang aku iri dengan teman-temanku yang lain.

Uang jajan yang banyak dan fasilitas lebih yang mereka miliki membuatku terkadang mengeluh, mengapa Tuhan  tidak membuatku ada dalam posisi mereka saja? Mudah mendapat apa yang mereka inginkan dari orang tua mereka tanpa harus bersusah payah.

Lambat laun aku paham dengan semua itu. Ibu harus bekerja keras di luar dan aku adalah orang yang tidak tahu diri sekali jika masih saja mengeluh dengan apa yang tidak aku miliki. Padahal ibu saja tidak pernah mengeluh dengan posisinya saat ini. Harus memikul tanggung jawab besar demi aku dan juga adikku, tak membuatnya protes pada Tuhan. Jadi kenapa aku harus protes?

Satu nasehat yang selalu ibu tanamkan untukku. Jangan selalu melihat ke atas karena hal itu akan selalu membuatmu tidak pernah bersyukur dengan apa yang kamu peroleh. Tapi cobalah melihat ke bawah, karena di sana banyak orang-orang yang hidupnya jauh lebih berat dari kita. Itulah kata-kata ibu yang akan selalu menjadi pengingat bagiku.

Walau ibu tidak pernah menangis dan mengeluh di depanku, aku sadar, ia selalu berdoa kepada Allah agar memberikan hal-hal yang paling baik untukku di masa depan. Dapat mewujudkan cita-citaku dan menjadi orang berhasil, adalah harapan yang kuyakin akan ia akan selalu panjatkan untukku. Meski begitu ia tidak akan meminta balasan apapun atas semua yang ia lakukan demi kebahagiaanku.

Tidak ada manusia yang sempurna, tapi kuyakin ibu adalah sosok ibu yang paling sempurna untukku.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: