Skip to content

Kue Rangi di Kota Bogor

by pada 2 Januari 2013
(kangbison.wordpress.com)

(kangbison.wordpress.com)

Oleh Gayatri Alunnagara

“Ketika mencari nafkah menjadi sebuah kewajiban, ya harus saya lakukan.” Sebuah jawaban yang pertama kali diungkapkan oleh Ade, begitu ia disapa, ketika menjelaskan alasannya menjadi seorang pedagang.

Di usianya yang sudah hampir setengah abad ini, ia menjajakan kue rangi khas Betawi di sudut Pasar Anyar. Jika dilihat sekilas, memang tidak ada yang menarik. Namun, dengan gerobak putih yang selalu menemaninya, itulah sumber penghidupan keluarganya.

Tidak seperti kue rangi khas Betawi yang dijualnya. Ade adalah seorang pria kelahiran kota Garut. Belajar dari temannya, seorang betawi asli, Ade menceritakan awal mulanya ia berjualan di Jakarta, yaitu di Pasar Mester, Jatinegara. Pada tahun 1997, ia pindah ke Bogor dan hingga saat ini ia sudah hampir tiga puluh tahun menggeluti dagangannya.

Menjajakan daganganya dari pukul enam pagi hingga tiga sore, Ade mengaku mendapat keuntungan rata-rata Rp200.000 per-hari. Namun, pada hari Sabtu dan Minggu biasanya keuntungan yang didapatnya lebih dari itu.

Soal resep,  “Sebenarnya semua pedagang kue rangi tidak jauh berbeda. Tidak ada  resep atau bumbu khusus, ini makanan sederhana yang terbuat dari kelapa yang diserut, santan, tepung sagu, dan gula merah,” ujar Ade. Dalam menjaga kualitas sajian dagangannya, Ade mengatakan, “Bahan-bahan dipilih yang terbaik, kayak penggunaan sagu, saya memilih Sagu Tani supaya kue ranginya nggak keras. Terus, tukang kelapanya juga udah langganan dan dijamin bagus.”

Ditanya mengenai keluhannya selama berjualan, Ade mengaku, “Kesulitan sih nggak ada. Paling kalo lagi musim hujan kaya gini aja, suka jarang pembeli. Ya paling dari pagi sampe sore cuma untung balik modal. Tapi, kalo buat makan ada aja jalannya.”

Menjadi seorang pedagang kue rangi ternyata sudah memiliki kepuasan bagi Ade. “Walaupun hanya berjualan kue rangi, saya udah bisa menghidupkan ketiga anak saya, dan memberikan mereka pendidikan hingga sekolah menengah atas. Malahan anak saya yang kesatu sudah bekerja,” pungkasnya.

Keinginan Ade untuk memperluas usahanya tentu sudah menjadi impiannya. Namun ia juga berharap, dengan menjadi pedagang kue rangi, makanan asli khas betawi ini akan tidak akan sirna oleh zaman.

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Senin 07 Januari 2013, pukiul 15.25 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3051/2013/Kue-Rangi-Di-Kota-Bogor).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi. Gayatri cukup datang untuk tandatangan berita ujian saja, tanpa harus mengikuti ujian. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Gayatri dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: