Skip to content

Tidak Hanya Mama, Aku Juga Menyayangimu Ayah

by pada 2 Januari 2013
(12puby.blogspot.com)

(12puby.blogspot.com)

Oleh Oktarina Dwi Purwanti

Aku seorang yang sudah beranjak dewasa. Aku tinggal dengan kedua orangtuaku dan satu adik laki-lakiku. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak pertamaku sudah menikah dan memiliki kehidupan sendiri bersama pasangannya. Aku merasa paling dekat dengan Mama, karena beliaulah yang selalu ada banyak waktu bersamaku di rumah.

Mama hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga, Ayah adalah seorang pekerja swasta. Berbeda dengan Mama, Ayah selalu terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. Saat sedang berada jauh dari rumah, aku lebih sering menghubungi Mama ketimbang Ayah.  Ya, karena Mama yang dekat denganku.

Saat aku masih kecil, Mamalah yang lebih sering mengajarkan aku berbagai hal, seperti: berbicara satu demi kata, berjalan, menyuapiku dengan sabar, dan mengantarkanku dari TK hingga aku mulai terbiasa dan memiliki keberanian untuk pergi ke sekolah sendiri. Kini aku sudah menjadi wanita yang akhil balik (dewasa). Kerap kali ketika Aku terbangun tengah malam mengeram kesakitan akibat datang bulan, Mama  yang selalu menenangkanku dengan kata-kata lembutnya sambil memelukku. “Nak, kamu pasti akan baik-baik saja sayang. Anak Mama kuat, semua wanita yang beranjak dewasa juga akan mengalami hal ini. Sakit yang kamu rasakan ini hanya sebentar sayang.”

Namun apakah yang dilakukan Ayah?

Kini, ntuk memelukku saja Ayah tidak memiliki keberanian. Hal tersebut karena pernah suatu ketika beliau ingin memelukku, aku marah dan melepaskan pelukannya. Alasanku karena aku sudah menjadi wanita dewasa. Aku malu jika mendapatkan pelukan dari Ayah. Alasan lain di fikiranku yaitu karena aku dan Ayah berbeda jenis kelamin. Ayah pria dan aku wanita. Tapi kalau alasanku seperti itu mengapa ketika dipeluk pacarku, aku mau ya? Padahal kan pacarku juga seorang pria sama seperti Ayah.

Ahh… Entahlah apakah yang ada di fikiranku saat itu.

Aku selalu merengek kalau meminta izin pergi keluar dengan seorang laki-laki yang aku sebut pacar, juga bersama teman-teman sebayaku. Mama yang lebih mengertiku, Mama yang selalu saja memberikan izin. Sedangkan Ayah dengan wajah marahnya, ketika aku ingin berangkat pasti selalu melontarkan kalimat “Jangan pulang larut malam! jangan sampai di luar nanti kamu terjerumus hal yang negatif”. Seringkali aku hanya membalas ucapannya dengan tatapan sinis. “Ah… memangnya Aku masih anak kecil yang belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah?” Gerutuku dalam hati. Bahkan seringkali aku tak menghiraukan perkataan Ayah, dan pergi begitu saja seolah tidak mendengar apa-apa dari mulut beliau.

Di luar sana aku, pacar, dan teman-temanku asik tertawa-tawa. Aku merasa bebas saat berada di luar, tidak ada yang cerewet seperti Ayah. Ayah selalu berulang-ulang kali meneleponku saat aku belum pulang ke rumah. Sampai-sampai aku kesal, karena  merasa malu di depan teman-teman. Seharusnya sekali saja beliau menelepon untuk menanyakan keadaanku di luar, aku rasa sudah cukup.

Aku kuliah di Politeknik Negeri Jakarta. Aku mengambil jurusan Teknik Grafika Penerbitan, prodi Penerbitan. Aku sangat menyukai jurusan yang aku pilih. Mama selalu mendukungku karena terlihat dari sikapnya, ketika aku merasa sedang kesulitan mengerjakan tugas. Beliau selalu memberikan aku semangat. Berbeda dengan Ayah, yang kurang sekali memperhatikanku saat itu. Mungkin karena sebenarnya Ayah berharap aku mengambil jurusan akuntansi ataupun sipil. Ayah menginginkan kelak aku menjadi pegawai negeri, bukan menjadi wartawan.

“Yah mau gimana lagi, yang menjalankan semuanya kan aku. Jadi aku berhak memilih pilihanku sendiri, gerutuku.”

Hampir setiap pagi ketika aku terbangun dan bersiap berangkat kuliah, Ayah dan mobil berwarna merah yang biasa dia kendarai pergi ke kantor sudah tidak ada. Begitulah Ayah, jarang sekali berpamitan denganku. Suatu ketika aku ingin berangkat kuliah, tidak biasanya mobil Ayah terlihat masih ada di rumah. Saat itu aku berifikir mungkin Ayah berangkat kerjanya lebih siang.

Setelah pulang kuliah, aku lihat mobil ayah tetap berada di rumah. Aku letakkan semua peralatan kuliahku di kamar sembari menghampiri Mama yang sedang memasak di dapur. “Jangan berisik Nak, Ayah sedang sakit,” bisik Mama. Mama memberitahukanku, bahwa Ayah hari itu tidak masuk kerja karena periksa ke dokter. Mama bilang kalau Ayah divonis terkena penyakit diabetes.

Awalnya, aku kurang memperdulikan penyakit Ayah. Di hari-hari berikutnya Ayah tetap giat bekerja, seperti biasa gaya Ayah sepulang kerja tidak berubah. Membawa tas hitam yang berukuran lumayan besar di tangan kirinya, dan membawa beberapa lembaran map di tangan kanannya. Kali ini ada suatu hal yang berbeda. Aku tidak heran, jika melihat wajah Ayah kelelahan sepulang bekerja, namun saat itu wajah Ayah lebih-lebih terlihat lelah dari biasanya. Keringatnya bercururan, bahkan seragam kerjan yang dulu terlihat ketat karena gemuknya badan Ayah kini kedodoran. Nafas Ayah terengah-engah saat ingin memasuki kamarnya.

“Ada yang tidak beres dengan kondisi Ayah,” fikirku.

Aku jadi penasaran mengenai penyakit diabetes. Aku mencari informasi via google. Hingga aku mendapatkan penjabaran, bahwa penyakit diabetes itu adalah penyakit gula. Diabetes dapat menyebabkan tubuh Si penderita makin kurus bahkan dapat menggerogoti tubuh mereka secara perlahan. Misalnya saja jika ada luka di tubuh penderita, luka tersebut susah sembuh bahkan dapat melebar. Diabetes dapat menyebabkan tubuh seseorang semakin lemah. Apabila terlalu banyak memakan makanan yang mengandung gula, akan memperparah penyakit itu. Sontak saat selesai membaca, aku hening dan tidak henti-hentinya memandangi secara berulang-ulang penjabaran tersebut.

Ayahku sangat menyukai makanan yang manis. Apakah Ayah bisa, meninggalkan pola hidup tanpa makan makanan yang manis? Seolah tidak percaya dan membayangkan kelak Ayahku akan seperti itu. Hatiku hancur, sesak rasanya. Tidak pernah perasaanku sesedih ini. Air matakupun tak sengaja menetes. Aku bergegas memasuki kamar Ayah, aku memandangi wajah Ayah yang sangat pucat itu. Ingin rasanya aku memeluk tubuh Ayah. Namun aku gengsi karena aku pernah memarahi Ayah yang ingin memelukku. Baru kali itu aku melihat Ayah tertidur sangat pulas. Aku mengingat saat-saat Ayah memarahiku, memberi nasihat yang tidak aku hiraukan, dan banyak lagi kenakalan yang aku perbuat.

Aku berlari menghampiri Mama yang sedang memasak di dapur. Aku menangis dan Mama melirikku sambil mengangguk. Sepertinya beliau tahu apa yang membuatku sedih. Mama selalu mengerti apa yang aku rasakan, karena dari kecil memang mama yang selalu banyak waktu denganku. Mama menceritakan tentang semua yang tidak aku ketahui tentang Ayah.

“Ingat ga Nak, waktu kamu kesakitan tengah malam karena datang bulan?” Ucap Mama.

Ketika Mama sibuk menenangkanku di kamar, Ayah yang membelikan obat di apotik. Walaupun dengan mata yang masih terlihat memerah dan sangat lelah karena pekerjaannya di kantor. Dengan wajah penuh kekhawatiran, Ayah menggunakan motor terburu-buru agar cepat membelikanku obat penahan rasa sakit. Saat Ayah marah-marah ketika aku ingin pergi, sebenarnya Ayah bukannya tidak mengerti keinginanku. Namun Ayah khawatir akan terjadi hal-hal buruk terhadapku, karena bagi Ayah tidak semua teman dapat memberikan dampak positif untukku. Berulang-ulang kali Ayah menelepon, hanya untuk memastikan kalau tidak ada sesuatu yang tidak diingkan terjadi terhadapku.

Ayah sangat menginginkanku menjadi pegawai negeri bukan menjadi wartawan, karena menurut Ayah profesi wartawan itu lebih cocok untuk pria. Ayah takut kalau terjadi apa-apa denganku ketika meliput berita di lokasi kejadian seperti kekerasan, tawuran, dan lainnya.Ayah selalu berfikir panjang ketika aku meminta sesuatu bukan karena beliau tidak mengerti keinginanku, beliau hanya memprioritaskan kebutuhanku yang jauh lebih penting.

Ketika Ayah tidak berpamitan saat berangkat bekerja bukan karena Ayah tidak memperdulikanku, namun karena Ayah tidak mau membangunkan putri cantiknya yang masih mengantuk. Ayah selalu bekerja keras sehingga terkesan tidak pernah ada waktu. Itu semua untuk hidup keluarga kecil kami: Ayah, Mama, Aku, dan adik. Demi memenuhi kebutuhan kami. Selanjutnya Mama bilang, tanpa aku sadari sepulang ayah bekerja dengan wajah lelah beliau selalu menanyakan pada Mama mengenai hal-hal yang aku perbuat hari itu, dari sikap baik hingga kenakalanku.

“Sekarang Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Ayah dan keluarga kecil kita Nak, Ayah sangat menyanyangimu, tidak ada seorang Ayah yang membenci anaknya,” jelas Mama. Badanku bergetar, lemas, seolah tidak bertulang saat mendengarkan cerita Mama. Sebenarnya Aku juga menyayangi Ayah, namun aku selalu menutupinya dengan gengsiku.

Saat Ayah terbangun, tanpa ragu aku memeluknya tanpa ingin melepasnya. Mencium keningnya dan memegang kuat genggaman tangannya sembari berkata: “Tidak hanya Mama, aku menyayangimu Ayah.” Kini aku sadar, semua perkataan Ayah untuk kebaikanku.  Ayah, aku berharap Ayah tidak akan pernah lelah mengawasiku, mengingatkanku, dan menasihatiku. Aku berharap Ayah akan tetap kuat menghadapi penyakit yang Allah berikan.

2 Komentar
  1. cerita yang biasa, tepatnya cerita remaja yang menyimpulkan perilaku bapaknya dari sudut pandangnya sendiri. sehingga komunikasi anak ayah mengalami distorsi. namun menjadi menarik karena sang penulis mampu menceritakannya dengan apik . berkaryalah terus.
    salam kenal dari saya oldman Bintang Rina

    • azhmyfm permalink

      Trims sangat atensi, dukungan dan pujiannya, Bintang Rina.. Semoga kami juga mampu terus berkarya sepertimu.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: