Skip to content

Cerpen: Kerinduan yang Ibu Sembunyikan

by pada 4 Januari 2013
(styagreennotes.blogspot.co)

(styagreennotes.blogspot.co)

Oleh Linda (Pb 1A)

Dua minggu setelah pelaksanaan ujian nasional, semua temanku sibuk mengurus keperluan masuk perguruan tinggi yang mereka minati. Meskipun sebelum ujian dilaksanakan, sebagian temanku telah terlebih dahulu mempersiapkannya. Mulai dari memfotokopi raport, melegalisasi, meminta surat rekomendasi sekolah, hingga mencetak foto diri.

Pagi itu, aku masih termenung setelah melaksanakan shalat Subuh. Sesekali aku melihat Rita adikku, yang masih terbuai tidur. Duh Rita, masa depan kita pasti kan suramkah? Kuhembusan nafas panjang beberapa kali, demi mengusir keputusasaan yang mulai mnyergap. Segera kulipat mukena dan meletakkannya di atas meja belajar. Lamat-lamat terdengar suara air keran yang berasal dari dapur, pasti ibu sudah memulai kegiatannya.

Bergegas ku menuju sumber suara. Ibu sedang sibuk membereskan sayuran, yang tiap pagi akan di,jual di depan rumah. Aku sadar, begitu berat beban yang dipikulnya setelah ayah tiada. Ibu menjadi tulang punggung keluarga seorang diri. Selain mengurusi aku dan adikku, beliau harus mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari.

“Biar aku yang bereskan, Bu.” Aku mengambil alih tugas ibu.

“Kamu sudah shalat, Nak?” Seulas senyuman menghias wajahnya, yang membuat aku selalu tegar menghadapi semua yang terjadi.

Alhamdulillah, sudah Bu,” sahutku.

“Syukur deh, Nak,” ibu mengelus lembut kepalaku. Lalu kepeluk erat tubuh ibu, ada kehangatan yang aku rasakan. Aroma napasnya memberiku kenyamanan.

Ayah, aku berjanji akan menjaga, merawat serta membahagiakan ibu dan adik, teguhku sebatas dalam benak.

“Andai saja ayahmu masih ada, mungkin kamu akan melanjutkan pendidikan, ” Suara lirih ibu membuat aku sedih.

“Asalkan ibu selalu ada untuk aku dan Rita, semua itu tidak menjadi masalah, Bu.” jawabku berusaha meyakinkan ibu. Kutatap wajah separuh baya itu sembari melebarkan senyuman, agar wajah kesedihan tak terpancar darinya.

“Ibu dan kakak sedang apa?” Adikku mendekati kami, sambil mengucek kedua matanya. Aku tersenyum saat melihat adikku yang baru saja terbangun. Kemudian dia duduk di sampingku.

“Rita, kemari, Nak. Ibu ingin sekali memelukmu.” Si empunya wajah yang belum mengerti akan pahitnya kenyataan hidup ini perlahan mendekat dan tenggelam dalam pelukan ibu. Keharuan  pagi itu seakan larut di dalamnya.

“Emm, sekarang kamu mandi. Habis itu shalat, terus siap-siap sekolah,” pinta ibu kepada Rita, membuyarkan lamunanku. Rita hanya mengangguk, ia mengerti yang ibu perintahkan.

Baru beberapa saat aku membereskan semua keperluan yang akan ibu jual, para pembeli satu persatu mulai berdatangan. Aku membantu ibu melayani pembeli, yang makin siang semakin ramai. Dalam keramaian itu, tak sedikit pun aku melihat keluh kesah pada raut wajahnya. Ibu seakan menikmati semua yang dilakukannya saat ini.

Terkadang aku merasa kasihan melihat ibu yang harus membagi waktu, tanpa pernah memerdulikan kepentingan dirinya. Bahkan waktu istirahatnya hanya sekejap saja. Tapi ibu selalu tampil gembira dan menunjukkan senyuman padaku, juga Rita.

*******

Waktu libur setelah ujian akhir, kugunakan sepenuhnya membantu ibu. Biarlah, aku tak merasakan nikmatnya melanjutkan ke perguruan tinggi yang kuidamkan. Sekarang yang ada dalam pikiranku hanyalah membantu ibu, mencukupi biaya Rita yang sebentar lagi masuk SMP.

Malam teramat dingin, begitu terasa hingga di rongga persendian. Tapi tak mengurungkan niat ibu ke pasar, membeli berbagai sayuran yang akan  dijual esok hari. Pasar yang menjadi tempat ibu berburu sayur mayur, terbilang jauh. Sekitar satu jam perjalanan untuk menuju ke sana, Ibu harus menggunakan ojek hingga ke tempat angkutan umum. Kaadaan malam yang berbahaya bagi kaum perempuan, seakan sudah menjadi sahabat bagi ibu.

Tiba-tiba kuterbangun di tengah sunyinya malam, teringat keadaan ibu. Segera ku beranjak dari tempat tidur, perlahan menuju kamarnya. Pintu kamar ibu terlihat renggang. Makin cepat kumelangkah, takut sesuatu terjadi pada ibu. Berbagai pertanyaan menyelimuti pikiranku.

Alhamdulillah, semua pertanyaaku terjawab sudah. Kulihat ibu tengah melaksanakan ibadah malam, tergambar jelas kekhusyuan dalam setiap sujudnya. Aku masih berdiri, mamandangi sosok ibu dari renggangan pintu. Setiap gerakan tubuhnya seakan memberiku sebuah makna yang sangat besar. Aku dengarkan kata-kata yang terucap dari bibirnya.

Ingin rasanya aku memeluk erat tubuhmu,
hingga kekhawatiran ini bisa terpulihkan.
Ingin rasanya aku melihat senyum hangatmu,
hingga semua beban ini dapat aku pikul.
Ingin rasanya aku mendapatkan belai lembut tanganmu,
hingga sakit di kepalaku tak lagi nyeri.
Ingin rasanya aku menggenggam tanganmu,
agar aku menyadari tidaklah sendiri menghadapi semua ini.

Dari setiap kata yang terlontar dari bibir Ibu, membuat butiran bening membanjiri kedua pipiku. Kusadari, ternyata semua kegiatan yang dilakukannya, terasa hampa tanpa kehadiran ayah.

Aku tak mampu menahan haru, hingga akhirnya kubuka pintu kamar ibu. Seiring tangis yang tersedu, kupeluk erat tubuhnya. Air mata kian tak tertahankan, saat kurasakan tetesan air mata Ibu membasahi pundakku.

“I..i..bu, maafkan aku. Sampai saat ini aku masih saja belum mampu membahagiakanmu.” Suaraku tersendat-sendat.

“Tidak, Nak, ini bukan salahmu. Ini semua salah ibu, yang tak bisa memberi kebahagiaan buat kamu dan adikmu.” Ibu tetap berusaha menyenangkanku.

“Tidak, Bu. Semua yang Ibu lakukan untukku, juga Rita, sudah sangat membuat kami bahagia. Kasih sayang yang Ibu berikan selama ini, sudah melebihi yang aku dan Rita harapkan, Bu,” sahutku dalam isak.

“Terimakasih, ya, Nak,” Suara ibu semakin lirih.

Kuusap air mata yang membasahi kedua pipinya. Kulebarkan senyuman untuknya. Agar ia yakin, kebahagiaan yang selama ini diberikan amatlah kami rasakan. Terimakasih juga, Bu. Kami sangat menyayangimu..

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: