Skip to content

Ibuku, Pahlawanku

by pada 6 Januari 2013
(islamituagamaku.wordpress.com)

(islamituagamaku.wordpress.com)

Oleh Retno Ayu Fandini

Pepatah yang menyatakan “Kasih ibu sepanjang masa, kan abadi untuk selamanya”, memang sangat pantas diberikan untuk seorang ibu. Pepatah itu telah menunjukkan bagaimana kasih sayang seorang ibu yang tiada henti diberikan untuk anaknya. Begitu tulus dia mencintai aku, walaupun aku sering membuatnya kecewa.

Ibuku adalah pahlawan dalam hidupku. Sembilan bulan lamanya ibu mengandungku. Membawaku kemana pun dia pergi, tak peduli betapa berat dan betapa menyusahkannya aku ketika di dalam perut. Setelah sembilan bulan waktu di mana aku harus terlahir ke dunia. Dia berjuang keras mempertaruhkan nyawa demi aku, buah hatinya. Begitu besar pengorbanan yang dia berikan untuk aku, anaknya.

Perjuangannya sangat berat. Setelah aku lahir di dunia, dia pun berkewajiban untuk merawat, membesarkan, dan mendidik aku hingga dewasa. Sewaktuku kecil, dia selalu menyuapiku dengan penuh kasih sayang, menggantikan popok jika aku buang air, menyusui aku disaat aku haus, memandikan aku, dan merawat aku ketika aku sakit.

Selain itu, ibu juga mengajariku bagaimana cara berbicara, bagaimana cara berjalan, bagaimana cara salat, bagaimana cara mengucap, membaca, menulis, dan menghitung. Semuanya ia ajarkan kepadaku dengan sangat sabar.

Ketika aku beranjak dewasa, dia juga selalu merawatku ketika sakit, menyiapkan makan untukku. Bahkan setiap pagi, ia selalu bangun lebih pagi dariku, ia selalu menyiapkan sarapan untukku. Hal itu menjadi pekerjaan yang wajib baginya, karena menurutnya, ia tak ingin bila nanti aku jajan diluar, karena makanan yang dibeli kurang sehat, aku akan rentan sakit.

Sejak aku dewasa, ibu juga mengajarkanku bagaimana menyikapi sebuah masalah, mengajarkan aku untuk menjadi pribadi yang baik, mengajarkan aku untuk mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci baju dan piring, menjemur, menyetrika pakaian, menyapu, mengepel, dan lain-lain.

Untuk hal yang terakhir itu awalnya aku kurang suka, dalam hati aku sering bertanya mengapa aku harus belajar mengerjakan pekerjaan rumah?. Namun tanpaku bertanya, ibu pernah menjelaskan kepadaku, ia menyuruhku untuk mempelajari itu semua, karena dia ingin, kelak disaat aku berkeluarga nanti, aku dapat mandiri dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa berpangku tangan dengan orang lain. Betapa pedulinya dia kepadaku.

Sembilan belas tahun sudah ia telah merawatku tanpa mengenal rasa lelah. Padahal selain harus merawatku, dia juga harus mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian, menjemur, menyapu, mengepel, memasak, menyetrika pakaian, dan lain sebagainya. Tak terbayang betapa lelahnya dia.

Pernah kulihat ia dalam tidurnya, di sana terpancar sinar penuh kelelahan dari wajahnya, guratan-guratan nadi menyembul yang menandakan arti kelelahan itu. Namun, tak pernah ada sedikit pun keluhan yang ia keluarkan dari mulutnya.

Di kala sakitnya pun ia masih berusaha untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Prinsipnya, selagi ia dapat bangun dari tempat tidurnya, ia pasti akan tetap mengerjakan semua pekerjaan rumahnya. Dia tak ingin karena sakitnya itu keluarga maupun pekerjaan rumahnya menjadi terlantarkan. Sungguh mulianya ibu. Begitu banyak jasa yang ia berikan tanpa mengharapkan pamrih. Ibu benar-benar sosok yang wajib dibanggakan.

Ibuku adalah pahlawan dalam hidupku. Begitu besar pengorbanan yang dia berikan untuk aku, anaknya. Sembilan belas tahun sudah ia telah merawatku tanpa mengenal rasa lelah. Tak pernah ada sedikit pun keluhan yang ia keluarkan dari mulutnya. Ibu benar-benar sosok yang wajib dibanggakan.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: