Skip to content

Ketika Laboratorium Menjadi Tempat Penciptaan

by pada 7 Januari 2013
(ilustrasi)

(ilustrasi)

Oleh Riana Utami Putri

Satu penemuan merupakan pembuka gerbang menuju ke penemuan-penemuan selanjutnya. Tahun ini, sayap dan dada ayam bisa ditumbuhkan di laboratorium. Apa yang terjadi di tahun 2050? Apakah laboratorium sudah mampu menumbuhkan bagian tubuh manusia? Lalu apa yang terjadi di tahun 3000? Apakah manusia masih manusia?

“We shall escape the absurdity of growing a whole chicken in order to eat the breast or wing by growing these parts separately,” ujar Winston Churchill di pertengahan tahun 1932. Pemikiran ini pula yang menjadi konsep awal pembuatan in vitro meat. Daging yang bisa kita nikmati tanpa membunuh hewan mana pun.

In vitro meat merupakan daging yang ditumbuhkan di laboratorium. Konsep awal pembuatan in vitro meat muncul dari pertanyaan: “Untuk apa memotong seekor ayam apabila hanya memakan bagian dada atau sayapnya saja?” In vitro meat menjadi jawabannya.

Penelitian terhadap in vitro meat awalnya dilakukan oleh NASA. Penelitian ini  dilakukan untuk memenuhi perbekalan jangka panjang para astronot di luar angkasa. Setelah disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration) pada tahun 1995, Nasa langsung melakukan percobaan. Di tahun 2001, NASA berhasil memproduksi in vitro meat dari sel kalkun. Akan tetapi, produksi yang dilakukan oleh NASA sebatas hanya untuk kebutuhan astronot, bukan untuk kebutuhan komersial.

Melihat konsumsi masyarakat akan daging semakin meningkat, rasanya in vitro meat perlu turun ke pasaran. Tahun 2008, PETA (People for the Etnical Treatment of Animals) mengumumkan akan memberikan hadiah $1 juta kepada laboratorium pertama yang berhasil membuat in vitro meat, sebelum bulan Juni 2012, untuk produksi masal. Sebagian orang awalnya menganggap hal ini sebagai sesuatu yang mustahil terjadi. Namun, keberhasilan in vitro meat hamburger  pada Oktober 2012, telah menjawab berbagai macam keraguan.

Proses pembuatan in vitro meat diawali dari pengambilan sel otot dari hewan. Sel otot yang diambil yaitu sel yang mampu tumbuh dan bereproduksi. Kemudian ditambahi protein yang akan membantu sel untuk tumbuh menjadi daging yang proporsional. Proses ini akan menghasilkan daging tiruan yang bisa dimasak dan dimakan.

Melalui proses panjang di laboratorium, nantinya kita bisa memasak sayap ayam tanpa harus membeli satu ayam utuh. Laboratoruim bisa manumbuhkan bagian mana saya yang paling banyak diminati. Mungkin nantinya membeli daging ayam akan sama halnya dengan membeli boneka barbie. Di jual terpisah.

Satu hal lagi yang bisa saja menjadi mungkin yaitu menumbuhkan bagian tubuh manusia. Mengapa bagian tubuh manusia tidak bisa ditumbuhkan di laboratorium apabila sayap ayam bisa? Mungkinkah nantinya manusia bisa membeli paha langsing tiruan? Lagi-lagi, apa yang tidak mungkin terjadi.

 Dalam kasus ini, mungkin akan lebih banyak menimbulkan perdebatan dari berbagai pihak. Akan tetapi ada paham baru yang membenarkan segala tindakan mengenai perbaikan kondisi manusia. Bukan hal yang baru sebenarya, hanya saja paham ini belum banyak diketahui oleh masyarakat awam di Indonesia. Paham ini bernama Transhumanism.

 Arti dari transhumanisme itu sendiri dibayangi oleh salah satu professor futurology, di The New School of New York City, yang memikirkan tentang new concept of human (konsep baru tentang manusia) sekitar tahun 1960an. Diawali dari mengamati kebiasaan  dan gaya hidup masyarakat yang semakin bersahabat dengan teknologi.

 Di tahun 1957, seorang ahli biologi, Julian Huxley menuliskan pengertian transhumanisme sebagai man remaining man, but transcending himself, by realizing new possibilities of and for his human nature. Dengan sesederhana mungkin, Julian Huxley menjelaskan mengenai sifat dasar manusia yang akan terus berkembang. Semakin maju demi mengikuti perubahan alam sekitarnya.

Akan tetapi, paham ini dinilai terlalu menghalalkan segala cara. Penemuan sebelumnya yang dipayungi oleh paham ini, menjadikan pembuatan organ atau bagian tubuh manusia di laboratorium terlihat begitu mungkin. Cloning, genetic devide dan implant menjadi beberapa contoh nyata.

Salah satunya yang sudah merambah ke Indonesia yaitu implan. Pada prosesnya, akan ditanamkan sesuatu ke dalam tubuh, biasanya untuk memperbaiki bentuk. Sebut saja yang sedang hangat-hangatnya, implan payudara.

Dengan ditemukannya in vitro meat, mungkin saja nantinya implan payudara menjadi tidak diminati lagi. Mengingat hasil dari implan payudara terkadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Belum lagi efek samping yang dirasakan. Bukankah lebih baik mengganti daripada memasukan benda asing ke dalam tubuh? Atau tidak keduanya?

Segalanya menjadi mungkin, terlebih dengan paham ini. Paham yang sedikit banyaknya dipengaruhi oleh science fiction. Ya. Science fiction yang kita anggap hanya khayalan belaka. Siapa sangka bisa menjadi nyata?

Kaum keagamaan menjadi yang paling kontra terhadap paham ini. Beberapa ulama mengusung ayat mengenai merubah ciptaan Tuhan seperti yang terkandung dalam Alquran surat An-Nisa ayat 119. Akan tetapi tak sedikit pula pemuka agama yang menyatakan kekhawatirannya mengenai superhuman (manusia super) dan bahkan manusia imortal.

Bukan hal yang tidak mungkin. Apabila ini benar-benar terjadi, akan semakin jelas terjadi ketimpangan di masyarakat. Perbedaan antara yang kaya dan yang miskin akan semakin terlihat. Mengingat hanya yang punya uang banyaklah yang mampu membayar jasa laboratorium untuk memperbaiki diri.

Pelik memang, ketika teknologi lebih dipercaya ketimbang Tuhan. Berkembangnya manusia memang penting. Akan tetapi, apakah masih bisa disebut “demi kepentingan umat manusia” apabila masih banyak manusia yang tak bisa merasakannya? Ada baiknya apabila semua umat manusia bisa turut merasakan hasil dari penemuan yang ada. Akan lebih baik pula apabila penemuan-penemuan tersebut mampu membawa seluruh manusia ke arah yang lebih baik. Bukan hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmatinya.

===============================================================

Referensi:

En.m.wikipedia.org/wiki/in_vitro_meat

United Nations Food and Agriculture Organization.  “Livestock’s Long Shadow.” 2006. http://www.fao.org/docrep/010/a0701e/a0701e00.HTM

Bittman, Mark.  “Rethinking the meat guzzler.”  New York TImes.  Jaunuary 27, 2008.  http://www.nytimes.com/2008/01/27/weekinreview/27bittman.html

Mead, P. et al.  “Food—Related Illness and Death in the United States.”  Emerging Infectious Diseases.  1999. 5: 607.

Jones, N.  “Food: A taste of things to come?” Nature.  December 8, 2010.  468: 752-753.

In vitro Meat Consortium. “The in vitro Meat Consortium Preliminary Economics Study Project 29071.” March 31, 2008. http://www.new-harvest.org/img/files/culturedmeatecon.pdf

One Comment
  1. azhmyfm permalink

    Alhamdulillah, satu lagi, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Senin 07 Januari 2013, pukul 22.12 (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3056/2013/KETIKA-LABORATORIUM-MENJADI-TEMPAT-PENCIPTAAN).. Ayo, siapa lagi menyusul

    Janji nilai A untuk Ujian Akhir Semester akan saya penuhi untuk Riana. Ayo, siapa lagi menyusul?

    Semoga hal ini menjadi penyambung langkah kesuksesan bagi Riana dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: