Skip to content

Memperhitungkan Perilaku

by pada 9 Januari 2013
Azhmy F Mahyddin

Azhmy Fawzi My

Oleh Azhmy Fawzi My

Tresnowati berduka. Di organisasinya, kini tengah diadakan Pemilihan Ketua yang baru. Semua anggota mulai kasak-kusuk.

Mereka kemudian terpecah menjadi kelompok-kelompok yang mencalonkan tiga kandidat. Kandidat pertama adalah inkamben, yang didukung mereka yang tengah menjabat sebagai pengurus dan berambisi menjadi pengurus. Kandidat kedua berasal dari kubu oposisi, yang kemudian menjagokan sesosok boneka untuk melaksanakan semua kepentingan mereka yang bersembunyi di balik layar. Kandidat ketiga diusulkan oleh mereka yang memproklamirkan diri sebagai Kelompok Penengah, dengan pernyataan agar suasana kembali damai. Meski siapa tahu, mereka juga mempunyai kepentingan yang masih dirahasiakan.

Lantas, apa hubungannya hingga Tresnowati malah berduka?

Tres –begitu panggilan akrabnya– ingat. Betapa sejak dulu organisasinya mempunyai segudang masalah, yang tidak pernah terselesaikan secara tuntas. Suatu persoalan hilang dari peredaran gunjingan, karena ada masalah lain yang lebih heboh untuk diperdebatkan. Bukan karena tuntas-tas. Padahal, persaingan memang rumit, kotor dan kejam. Bila selalu sibuk menangani ‘perpecahan’ di dalam, kapan waktunya bersiap tempur demi memenangkan persaingan? Banyak cara yang dilakukan pesaing, seperti sikap arogansi, under estimate maupun hasutan dari organisasi sejenis, yang dapat memecah-belah solidnya organisasi yang rentan. Terlebih bila organisasi mereka merasa lebih hebat, karena lebih dulu berdiri.

Padahal membangun organisasi yang mampu menghasilkan manfaat kepada masyarakat, bukanlah diukur dari seberapa tua organisasi tersebut berdiri. Bukan pula dari jumlah modalnya maupun siapa pengurusnya. Tetapi dari penyelesaian masalah dan pencapaian tujuan, yang sedikit demi sedikit secara perlahan mampu mengejar ketertinggalan.

Untuk itu, tentu diperlukan semangat kebersamaan dan upaya berkelanjutan, yang dilakoni dengan penuh perhatian tanpa kecurigaan. Bila telah selesai pemilihan nanti, mungkinkah para kandidat bersatu, bukannya saling menjatuhkan? Dan melupakan ambisi (keinginan besar) pribadinya, yang tak tersampaikan?

*******

Bila sudah begini, Tres membayangkan suasana pemilihan di lingkup yang lebih besar. Ketatnya persaingan dan tajamnya intrik yang dihadapi, belum tentu sebesar tanggungjawab yang mesti diemban. Karena tanggungjawab dipikul bersama, sedangkan persaingan dan intrik harus dilawan sendiri. Tentu lebih parah dan menyedihkan, sehingga politik uang pun terpaksa dilakukan mereka. Tak apa mungkin, karena fasilitas dan penghasilan yang diperolehnya jika terpilih tentu lebih menggiurkan. Sesempit inikah perhitungan mereka? Ah..

Sudah menjadi rahasia umum, bahkan dibuktikan oleh kasus-kasus yang menghebohkan dewasa ini. Biaya pencalonan, kampanye, hingga proses pemenangan, bukanlah uang yang sedikit. Untuk mendapatkan modal tersebut berbagai cara ditempuh, sampai ada yang berhutang, malah berani melakukan korupsi demi mewujudkan impiannya. Sehingga tidak mengherankan, setelah terpilih kelak muncullah kasus-kasus memalukan yang menyengsarakan masyarakat pemilihnya. Semua demi target kejar setoran dan ambisi memanjakan keluarga dengan harta yang tak habis tujuh turunan.

Janji-janji hebat yang dulu dikampanyekan, tak perlu dipikirkan. Masalah-masalah yang harusnya diselesaikan, buat apa dikerjakan. Kecuali bila ada proyek yang bisa dimainkan dan memberikan sebesar-besarnya keuntungan. Bila pun masyarakat tak setuju, mereka cuma sebatas berunjuk rasa. Masih ada berjuta alasan untuk pembenaran. Waktu berkuasa memang sangat singkat, hanya beberapa tahun. Dan setelah itu, mesti keluar modal lagi untuk perpanjangan masa jabatan. Duh!

Memikirkan ini, sungguh, Tres sangat berduka.

*******

Padahal potensi (kemampuan) masyarakat pemilih –termasuk para anggota di organisasinya– bila berhasil digalang dan diarahkan untuk kemajuan pengembangan dan peningkatan kesejahteraan, tentu sangat besar. Setiap orang pastinya menginginkan perbaikan kondisi menjadi lebih baik. Jika keinginan itu diterapkan mulai dari diri, keluarga dan lingkungannya, tentu akan membawa hasil yang signifikan. Setelah berhasil, dilanjutkan ke lingkungan yang sedikit lebih luas. Secara bertahap, potensi ini dapat dikembangkan untuk menjalankan program-program pemerintah demi pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan bangsa secara nyata.

Bila saja potensi masyarakat tumbuh dalam pribadi seperti mendiang Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Widjajono Partowidagdo, yang dikenal kerabatnya sebagai sosok yang memiliki prinsip satu kata dan perbuatan. Apa yang dia anjurkan ke masyarakat, juga dilakoninya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan menekan jumlah pejabat yang biasanya berucap tanpa dasar dan menganggap tanggungjawab bukan urusannya pribadi.

Atau masyarakat yang berpotensi juga mempunyai sikap bagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan, Publik menyukai gaya dan karakter Dahlan selama bekerja. “Sebab, ia lugas; apa adanya; enggak bertele-tele; anti-birokrasi panjang; anti-mewah; sedikit bicara, banyak kerja,” aku jujur Ramadhan Pohan, anggota DPR, di sebuah media ibukota. Andai para anggota DPR dan pejabat Negara lainnya mau bercermin dan meneladani sikap Widjajono maupun Dahlan, tentu akan berkurang kekecewaan dan ketidakpercayaan rakyat kepada mereka.

Andai? Mengapa kekuasaan begitu menggelapkan mata mereka? Tres tak sanggup berkata lagi.

*******

Memperhitungkan perilaku harus menjadi salah satu pertimbangan utama, sebelum berani mencalonkan diri sebagai pemimpin. Introspeksi (mengukur dan koreksi diri) menjadi langkah awal persiapan dan pembenahan diri. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan kepada kita bagaimana pemimpin yang baik, melalui beberapa contoh kepemimpinan yang Dia firmankan dalam Al-Qur’an.

Seperti Nabi Musa alaihi salam. Dalam QS Al-Qashash: 26, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku, ambillah ia (Musa) sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat (al-qawiyy) lagi dapat dipercaya (al-amin).” Sang Maha Berkehendak juga mengabadikan perkataan Nabi Yusuf alaihi salam kepada Raja Mesir, “Yusuf berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan” (QS Yusuf: 55).

Berdasarkan kutipan ayat-ayat tersebut, inilah sifat dasar yang harus dimiliki oleh seseorang pemimpin. Yakni bersifat al-quwwah, al-amanah, al-hifzh, dan al-‘ilm. Semua itu bermakna kapabilitas, integritas, kredibilitas, dan moralitas. Jika hanya kredibel tapi tidak kapabel, akan menjadi sebagaimana sabda Rasulullah salallahu alaihi wassalam, “Jika urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” Sebaliknya, jika hanya kapabel tapi tidak kredibel, maka dia justru akan ‘minteri’ rakyat, membohongi dan merampas hak-hak rakyatnya. Tidak bisa dijadikan sebagai contoh dan teladan. Dan jika para pemimpinnya bermoral rendah, bagaimana dengan rakyatnya?

Ah, ambisi, potensi dan introspeksi memang harus berjalan seiring.

*******

Tres pun berdoa, “Dan Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di-ridhai-Nya untuk mereka, dan Dia bebar-benar akan menukar (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.(QS An-Nuur: 55).

Maha benar Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala firman-Nya. Dan semoga Ketua Organisasi dan siapa pun yang kelak menjadi pemimpin di mana pun, berkenan memperhitungkan perilakunya dan mendapat hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala..

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: