Skip to content

Mini Novelet: Surat Cinta (bagian 1)

by pada 13 Januari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semester. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran

Oleh Niken Ari S (Pb 3B)

(m.okezone.com)

(m.okezone.com)

Bagian Pertama

Ruangan ini sepi. Sunyi. Hujan pula di luar. Yang terdengar hanya suara mesin rekam jantung, detak jam, dan langkah kaki di luar ruangan yang samar terdengar. Dingin. Bahkan jaket kulitku tidak dapat melawan dinginnya malam ini.

Tak ada yang bisa aku lakukan, selain duduk di kursi kayu di samping kasur. Di kasur ini, terbaring lelaki pucat berusia 20 tahun. Tampan, cerdas, namun sekarang terlihat sangat lemah.

Lelaki yang terbaring ini adalah pacarku sejak tiga tahun yang lalu. Sejak kami SMA. Dulu ia lelaki yang kuat, tegap, dan selalu semangat dengan sorot matanya yang menusuk siapapun yang memandangnya.

Aku menggenggam tangannya. Hangat. Aku genggam erat dan berharap dapat menularkan semangat, agar ia cepat terbangun. Ku tempelkan tangannya di pipi yang mulai basah dengan air mata.

“Radit, bangun. Dua hari lagi aku berangkat ke Kanada. Kita berangkat ke Kanada. Ingat, kan, Dit? Dit, bangun. Kita udah lama memimpikan ini terjadi. Belajar di negara tetangga.”

Tidak ada jawaban apa-apa dari Radit. Hanya bunyi napasnya yang naik turun. Samar. Air mataku makin deras mengalir, melihat Radit tetap tenang terbaring tak bergeming.

Sudah pukul delapan malam. Seharusnya aku pulang dan mempersiapkan semua keperluan untuk program pertukaran pelajar itu. Tapi aku juga gak bisa meninggalkan Radit sendiri, di sini.

Aku membuka tas untuk mengambil binder-jeans dan mulai menulis sesuatu untuk menenangkan hati. Aku akan menulis surat untuk Radit.

Dear Radit,

Sudah dua bulan, sejak kamu terbaring sakit di ruangan ini. Kamu gak kangen sama aku? Kamu gak mau bangun? Asal kamu tau, Dit, aku nungguin kamu terus sejak dua bulan yang lalu. Aku kangen. Kangen peluk kamu. Kangen jalan-jalan lagi, kangen ke toko buku bareng kamu. Kangen makan di warung pinggir jalan sama kamu, Pokoknya, aku kangen kamu. Kangen semua yang ada di kamu.

Radit, inget kan? Dua hari lagi tanggal berapa? Iya Dit, tanggal 1 September. Harusnya kita berdua udah masuk asrama kan, Dit? Harusnya kita mulai training untuk program pertukaran pelajar itu.

Dit, bangun. Inget, kan, betapa susahnya kita ikut seleksi itu sampai akhirnya kita lolos? Kita ujan-ujanan dan uang kamu ilang pas pulang tes sampe akhirnya kita harus jalan kaki dari Menteng.

Tiba-tiba pintu ruangan terjeblak membuka. Seorang wanita paruh baya bersama suaminya yang berkumis dan tampan, masuk ke ruangan yang berisi aku dan Radit. Aku segera menutup binder-jeans dan menghapus sisa-sisa air mata.

“Icha, gak pulang? Sudah malam, lho,” wanita dengan suara lembutnya itu menyapaku.

Ngga, Tante. Aku masih mau di sini. Nemenin Radit. Siapa tahu, Radit nanti bangun,” jawabku.

Wanita itu tersenyum sedih, menatapku dan suaminya bergantian. Kemudian ia mendekatiku, memeluk dan mencium rambutku dengan sayang.

“Icha, jangan terlalu berharap Radit bangun, ya.. Itu susah sayang,” ujarnya sambil memelukku dan aku merasakan sesuatu yang basah menyentuh rambut. Wanita itu menangis.

“Memangnya kenapa, Tante?”

“Karena….” Wanita itu menarik napas, seolah tak kuasa menahan kesedihannya, “Karena sangat kecil kemungkinan Radit bangun lagi. Dia sudah terlalu sakit.” Suaranya bergetar.

Gak ada yang gak mungkin, kan, Tante,” ujarku menenangkan diri.

Hening. Tidak ada jawaban dari wanita itu, maupun suaminya. Hanya sesenggukan wanita itu yang terdengar.

“Iya, Icha. Apapun bisa terjadi. Makanya, Icha doakan Radit terus, ya.. Semoga Radit diberikan yang terbaik,” suara pria pun terdengar menguatkan. Dengan nada kebapakannya, yang meyakinkanku.

“Ya sudah, Icha pulang, ya. Sudah malam. Nanti orang tuamu mencari..”

“Icha masih mau tetap di sini, Om. Tadi Icha sudah pamit ke Mama,” potongku.

Wanita dan pria itu bertatapan dan akhirnya, pria itu angkat bicara.

“Ya sudah, kalau kamu masih mau tetap di sini, silahkan. Om dan Tante tidak memaksa kamu. Tapi maaf, Om dan Tante tidak bisa menemani kamu, karena Om dan Tante harus menyelesaikan pekerjaan,” ujar pria itu menjelaskan.

“Iya, Om. Ngga apa-apa, kok, Icha sendiri,” ujarku tersenyum, untuk meyakinkan mereka.

“Jaga Radit, ya, sayang. Tante percaya sama kamu. Kalo ada apa-apa, sms atau telepon Tante, ya,” wanita itu memelukku.

“Radit, malam ini kamu ditemenin Icha, ya, sayang. Cepat bangun. Icha kangen sama kamu.” Wanita itu memeluk dan mencium kening Radit, yang tetap tak bergeming. (bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: