Skip to content

Rumah Gerobak Ala Erick

by pada 13 Januari 2013
Inilah "rumah" Erick dan keluarga

Inilah “rumah” Erick dan keluarga (Foto: ODP)

Oleh Oktarina Dwi Purwanti

Saat ditanya yang diinginkannya, jawabannya sederhana. “Zaman sekarang susah cari kerja, yang modal ijazah S1, S2, dan S3 aja belum tentu dapat kerja,” jelasnya.

Erick berkerja serabutan untuk tetap bisa membayar kontrakan dan biaya anak sekolah. Ia mampu membayar kontrakan dari pekerjaannya tersebut, namun pemilik rumah kerap marah ketika telat membayar kontrakan. Akhirnya, Erick dan keluarga diusir.

Erick menitipkan ketiga anaknya di Tangerang bersama sanak saudaranya. Istri dan anak keempatnya Andre (5) tinggal di jalanan bersamanya.

“Saya memilih menitipkan anak saya di rumah saudara, agar mereka dapat hidup layak dan mendapat bantuan biaya sekolah. Andre masih kecil dan terpaksa saya ajak pergi bersama saya dan istri, meskipun harus luntang-lantung di jalanan,” papar Erick.

Ketiga anaknya tidak pernah tahu, kalau Erick menjadi pemulung hingga sekarang.

“Saya tidak mau mengganggu sekolah anak saya, jika mereka tau kedua orangtua dan adiknya hidup susah. Saya ingin kelak mereka sukses dan mengajak kami tinggal bersama,” lanjutnya dengan suara tercekat.

(maskurblog.wordpress.com)

(maskurblog.wordpress.com)

Erick dan Lina, istrinya, menjadi pemulung di daerah Depok. Mereka mengumpulkan aqua bekas maupun barang-barang bekas layak pakai yang dapat dijual dan didaur ulang.

Bermodalkan gerobak yang dibeli dari hasil memulung, kemudian diubah menjadi rumah –yang setidaknya bisa sebagai tempat berteduh– bagi istri dan anak ketiganya. Erick menempatkan rumah gerobaknya di kolong jembatan sekitar Bundaran Universitas Indonesia, Depok.

“Sesekali saya diusir Satpol PP. Mungkin karena mereka iba, saya tetap diperbolehkan berteduh –tapi di pojok kolong– asal tidak menginjak tanaman di sekitar kolong jembatan,” jelasnya.

Ia tidak pernah mengemis. Akan tetapi sesekali pejalan kaki, pengendara sepeda motor dan mobil, berhenti untuk memberikan uang.  Mungkin dikarenakan pakaiannya terlihat lusuh, seperti pengemis.

“Saya tidak mau terus-terusan terpuruk. Sejauh ini, saya memang hanya tinggal di rumah gerobak yang ala kadarnya ini, tapi saya akan tetap berusaha menghidupi anak dan istri saya. Semoga kalangan atas melihat keadaan orang kecil, seperti kami. Tidak melupakan, tapi merangkul kami,” jelasnya.

Dulu ia seorang petugas Dinas Kebersihan di Bantar Gebang, sedangkan istrinya, Lina (32), berjualan gorengan. Mereka memiliki empat orang anak: Yulianti (17) kelas 2 SMA, Andre (15) kelas 3 SMP, Risky kelas 5 SD, dan Andre (5) yang belum sekolah.

“Penghasilan kami digabungkan untuk menyekolahkan anak-anak dan mengontrak rumah yang layak huni,” papar Lina, istri Erick.

Saat kontrak kerja Erick di Dinas Kebersihan habis, ia keluar. Akibatnya, Lina tidak memiliki modal lagi untuk berjualan. Erick berusaha mencari pekerjaan, namun sulit karena hanya bermodalkan ijazah SMP.

Semangat Erick untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga kecilnya, patut dijadikan contoh. Meski hidup di jalanan, namun tidak pernah meminta belas kasih orang lain.

“Saya memang orang kecil, tapi saya yakin Tuhan selalu membimbing keluarga kami,” papar Erick.

From → Feature

3 Komentar
  1. Alhamdulillah, tulisan ini berhasil dimuat di Radar Online pada Rabu 09 Januari 2013 pukul 16.20 WIB (lihat disini: http://www.radar.co.id/berita/pembaca/3066/2013/Rumah-Gerobak-Ala-Erick).Ayo, siapa menyusul?

    Semoga hal ini menjadi langkah awal bagi keberhasilan Okta dan semua mahasiswaku, memasuki dunia jurnalistik dalam arti sebenarnya di media massa.. Aamin ya Rabb..

  2. Amin ya Allah, terima kasih bapak atas dukungan dan doanya. Jangan pernah lelah untuk selalu memberikan pembelajaran yang sangat berarti untuk pengetahuan kami Pak Azhmy :) …

  3. azhmyfm permalink

    Okta, tema pilihanmu bagus, karena sarat muatan human interest-nya. Kegigihan dan besarnya semangat hidup orang kecil, selalu saja menjadi masalah yang menarik untuk dikisahkan. Terlebih lagi karena memuat hal yang di luar batas kewajaran, seperti menempati rumah gerobak, Sebab kisah begini, kian membuktikan betapa lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Hal ini semoga dapat memberdayakan kasih sayang kaum yang berpunya dalam menyalurkan belas kasih yang pada tempatnya.

    Dari teknis penulisan, kamu cuma kurang cermat saja melihat kalimat yang dipilih untuk lead. Sepertinya kurang “nyambung” antara kalimat pertama dan selanjutnya di lead, sehingga saya terpaksa menggantinya. Tapi untuk lainnya sudah bagus, termasuk pemilihan kalimat judul..

    Ok, teruskan berlatih. Karena tulisanmu yang lain sudah cukup bagus, kok. Jangan lupa juga untuk kirimkan ke media massa ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: