Skip to content

Teguran ‘Malaikat Kecil’ Kala Hujan

by pada 14 Januari 2013
(kodzan.blogspot.com)

(kodzan.blogspot.com)

Oleh Farida Yasribi (Pb 3A)

Cahaya mentari tak nampak seperti biasanya. Dedaunan berguguran terhempas angin. Gumpalan awan mendung menyelimuti langit siang itu. Gemuruh menggelegar dari arah selatan. Tetes demi tetes air mulai membasahi jendela mobil yang aku tumpangi. Tampak para pengendara sepeda motor satu persatu mulai berteduh di depan kios-kios di sepanjang jalan.

Hanya dalam hitungan detik, hujan mengguyur ruas Jalan Raya Jakarta-Bogor. Makin lama makin deras. Air bercampur angin kencang membuyarkan jarak pandang para pengguna kendaraan kala itu.

Desember 2012, memang sudah waktunya memasuki musim penghujan. Sejak berminggu-minggu yang lalu, Bogor dan sekitarnya selalu diguyur air dari langit tiap menjelang sore. Gumamku dalam hati, sambil memandangi jendela mobil yang kacanya mulai buram berembun terguyur derasnya hujan.

Tak seperti cuaca yang berubah di bulan ini. Sebagai mahasiswi semester tiga, rutinitasku masih seperti biasa. Belum ada yang berubah. Disibukan berbagai aktivitas perkuliahan di kampus. Sesekali ketika ada tugas kerja kelompok, aku baru bisa melangkah keluar dari gedung kampus sekitar pukul 6 sore. Berangkat pagi, pulang sore. Ya, rasanya nyaris setiap hari seperti itu. Datar saja.

Namun, hari ini, Rabu, 5 Desember 2012, aku mendapatkan sesuatu yang berbeda.

“Ibu, payungnya, Bu? Kakak, payungnya, Kak?,” sapa beberapa anak kecil yang menghampiri pintu angkot, sesaat setelah kendaraan itu berhenti.

Tiba di Cibinong, beberapa penumpang, termasuk aku, mulai turun dari angkot nomor 41 berwarna biru jurusan Cisalak-Cibinong. Hujan semakin deras. Aku tak punya pilihan selain menerima tawaran jasa sewa payung mereka. “De, saya sewa payungnya,” ucapku seraya mendekati salah satu dari mereka.

Payung warna biru bercorak kembang pun diarahkannya ke atas kepalaku. Ketika akan aku ambil alih payungnya dia menolak. “Gak apa-apa, Kak! Saya aja yang pegang payungnya,” responnya dengan suara lembut, seperti kedinginan.

Sambil berjalan beriringan, aku mulai membuka percakapan.

”Harga sewa payungnya berapa, De?”

“Seikhlasnya aja, Kak,” jawab bocah laki-laki itu dengan wajah polosnya.

“O ya, Ade rumahnya dimana?” tanyaku.

“Rumah saya di situ. Gak jauh, kok, dari sini.” Telunjuk mungilnya mengarah ke sebelah kiri jalan yang kami lewati.

“Ade, sekolahnya kelas berapa?,” tanyaku lagi.

“Saya udah gak sekolah, Kak,” jawabnya singkat. Wajahnya menunduk lesu, melihat jalan yang tergenang air kira-kira setinggi lima sentimeter.

Mendengar  jawabannya, hatiku tersentak. Tak kusangka, bocah sekecil itu sudah putus sekolah. Terlihat dari wajah dan postur tubuhnya, aku bisa mengira berapa umurnya sekarang. Kukira anak itu berumur sekitar sebelas tahun.

“Terus aktivitas Ade ngapain aja?,” aku kembali melanjutkan percakapan.

“Ya, begini aja, Kak. Main, ngojek payung, ngebantu orangtua cari uang.”

Suaranya parau karena kedinginan. Hatiku semakin gemetar. Kali ini aku tak berani bertanya lagi. Mulutku seolah terkunci dengan sendirinya. Mengapa dia tidak sekolah? Apa pekerjaan orangtuanya? Sudah berapa lama ia menjajakan jasa sewa payung? Apapun yang akan aku tanyakan, sudah bisa kutebak apa jawabannya.

Hujan tak menunjukan tanda reda, sementara kemacetan mulai terjadi. Aku dan dia masih mengayunkan kaki menerobos lalu lintas yang padat merayap. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mulutku diam tapi hatiku menjerit. Miris dan pilu rasanya. Aku menyaksikan sendiri kenyataan hidup seorang bocah yang begitu pelik.

Ya Allah, di sampingku kini ada sesosok polos yang kurang beruntung. Sungguh, aku tak tega melihatnya. Namun, apa yang bisa aku perbuat untuknya? Beberapa ribu rupiah yang akan aku berikan, tak mungkin cukup untuk membantunya. Kelelahan terpancar dari wajah polosnya. Pintaku dalam hati.

Kristal cair di pelupuk mata, sudah mulai menggumpal. Mataku pun mulai berkaca-kaca. Namun, sebisa mungkin aku tahan untuk tidak menangis di depan bocah berjiwa pejuang ini.

Perjalanan kami tinggal beberapa meter menuju tempat pemberhentian angkot jurusan Pasar Anyar-Citeureup. Tanpa sadar, ternyata sepatu dan celana jeansku basah kuyup, tenggelam oleh genangan air kira-kira setinggi lima sentimeter. Kerudung, tas, dan switer yang aku kenakan pun tak menyisakan bagian yang tak terkena air hujan.

Rupanya tanpa aku sadari, dari tadi  aku berjalan menggiring anak itu. Payung yang kusewa, malah aku arahkan ke kepala anak itu. Kakiku mulai keram dan gemetar kedinginan. Sepertinya kakiku terlalu lama terendam air.

“De, sampai di sini aja. Angkotnya udah datang,” ucapku saat tiba di halte pemberhentian angkot.

“Terima kasih, ya.” Sambil tersenyum aku menyodorkan beberapa rupiah sebagai balasan atas jasa sewa payungnya. Kemudian aku bergegas menaiki angkot yang telah aku stop.

Melalui jendela angkot hijau jurusan Pasar Anyar-Citeureup, kupandangi bocah kecil itu. Tampak badannya kurus. Ia mengenakan kaos lengan pendek tipis berwarna biru, dan celana pendek berwarna hitam. Tanpa selembar jaket. Tanpa alas kaki. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Tangan dan kakinya gemetar. Betapa kedinginannya ia.

Astagfirullah. Aku saja yang memakai switer, sudah sedingin ini. Bagaimana dengan anak itu yang tak berjaket dan tak beralas kaki? Tak terbayang betapa kedinginannya dia. Sudah sedari tadi ia hujan-hujanan menyodorkan payung ke sana ke mari. Demi beberapa rupiah, yang mungkin hasilnya pun masih jauh di bawah uang saku harianku.”

Sungguh miris, hatiku remuk melihatnya. Rasa iba pun tak terbendung lagi. Tanpa kusadari, tetes demi tetes air mata mengalir membasahi pipi. Namun, segera aku kuasai diri. Segera kuhapus air mata itu, karena malu oleh penumpang lain.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku terdiam. Namun, pikiran dan hatiku berkecamuk,  Membayangkan bagaimana jika aku berada di posisi anak kecil tadi. Sungguh aku begitu malu pada diriku  sendiri.

Tiga puluh menit sebelum aku bertemu dengan anak kecil itu, sempat aku mengeluh, “Betapa menjenuhkan dan melelahkan. Tugas dari dosen A, dosen B, dosen C, banyak banget.  Numpuk, belum diselesaikan. Lelah. Cape. Sepekan ini berangkat pagi, pulang sore. Kapan aku punya waktu untuk membereskan semuanya.”

Astagfirullah, berkali-kali kuucapkan dalam hati. Betapa seringkali aku tak bersyukur. Aku tak mensyukuri nikmatnya menjalani aktivitas ini. Di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung belum bisa merasakan indahnya  menuntut ilmu.

Harusnya aku tak boleh mengeluh, meski lelah .Tugasku kini hanya kuliah, belajar, menuntut ilmu. Aku tidak perlu susah payah menjajakan jasa sewa payung sambil hujan-hujanan, demi lembaran rupiah seperti anak itu.

Sedangkan anak itu? Tak nampak sedikit pun rona mengeluh dari wajahnya. Senyumnya memancarkan semangat dalam menjalani kehidupan. Tampaknya ia menjalani semua itu dengan ikhlas.

Anak itu tidak mengeluh, di saat teman-teman sebayanya yang lebih beruntung merasakan indahnya masa sekolah. Dia rela menanggalkan seragam sekolahnya, demi sesuap nasi. Bocah itu tidak merengek, di saat teman-temannya yang lebih beruntung sedang puas bermain. Dia rela hujan-hujanan, demi menyambung hidupnya.

Banyak pelajaran berharga dari pertemuanku dengan anak itu. Kini kusadari, tak seharusnya aku berleha-leha lagi. Bermalas-malasan dan mengeluh. Aku harus tetap semangat menjalani semua rutinitas ini. Meski melelahkan, aku harus tetap bersyukur menjalani semua ini. Terima kasih, malaikat kecil.

Selama aku mengetik tulisan ini, aku masih berpikir, merenungkan semua itu. Saat ini aku sedang duduk di kasur kamarku yang nyaman, diselimuti cahaya lampu dan kehangatan rumah.

Sedangkan di luar sana, hujan masih begitu deras. Mungkin anak itu dan teman-temannya, masih menyodor-nyodorkan payung di jalanan. Mungkin sekujur badannya menggigil dan perutnya kosong, belum makan.

Astagfirullah. Hanya doa yang bisa aku panjatkan, semoga Allah selalu menjaga kalian, malaikat- malaikat kecil.

*******

Kutulis cerita ini, semata mata untuk menyemangati diri sendiri dan teman-teman semua. Di saat kita merasa lelah dan jenuh dengan aktivitas kita, ingatlah tuk  bersabar. Di saat kita merasa serba kekurangan, ingatlah tuk selalu tetap bersyukur.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: