Skip to content

Mini Novelet: Surat Cinta (bagian 2)

by pada 15 Januari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semesteran. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran

Oleh Niken Ari S (Pb 3B)

(santosa-hospital.com)

(santosa-hospital.com)

Bagian Kedua

Sambil menghapus air mata, wanita itu berjalan keluar ruangan sambil merangkul suaminya. Ruangan ini kembali sunyi. Hanya suara mesin rekam jantung dan detak jam, yang membuatnya sedikit ramai.

“Radit, ngga apa-apa, kan, aku di sini malam ini? Ngga apa-apa, kan, nemenin kamu begini? Orang tua kamu tadi ngizinin lh0. Biasanya kamu, kan, yang paling cerewet, kalau aku pulang malam atau bahkan menginap di rumah teman,” ujarku sambil menggenggam tangan Radit.

Aku ambil kembali binder-jeans dan kembali menuliskan sesuatu yang tadi sempat terhenti karena kedatangan orang tua Radit.

Radit, inget kan sama semua kenangan yang udah kita lewatin bareng? Aku mau ceritain ini di sini, supaya kamu bisa baca ini pas kamu bangun nanti.

Radit, inget kan waktu pertama kali kita ketemu? Waktu itu kamu masih sama Bella. Sebenernya aku kurang suka inget-inget tentang masa lalu kita yang ini, karena buat aku ini nyakitin banget dan kamu juga gak suka kalo aku ingetin kamu tentang Bella.

Aku minder lho, Dit. Waktu tau kamu sukanya sama Bella. Cewek cantik, pinter, dan kata orang-orang dia lucu. Tapi menurutku dia itu jahat, soalnya pernah disukain sama kamu dan itu yang bikin aku gak suka.

Aku seneng banget pas tau akhirnya kamu milih aku, jadi pacar kamu dibandingkan Bella. Temen-temen dan kakak kamu aja lebih setuju kamu sama Bella, dibandingkan sama aku. Karena ya, aku gak cantik kayak Bella, gak pinter. Trus kata temen-temen kamu, aku genit, kan? Dan mereka pernah ngelarang kamu deket sama aku. Sumpah, waktu itu aku bener-bener sedih lho, pas denger itu semua.

Tapi, yang bikin aku makin seneng adalah pas kamu bilang kamu percaya sama aku, dibandingkan dengan orang-orang yang banyak bicara itu. Aku seneng. Aku kesel. Aku terharu. Semua campur aduk, deh, jadi satu.

Sekilas aku mengalihkan pandangan, dari kertas ke muka Radit yang masih pucat.

I love you, Radit. I love you no matter what they say,” bisikku sambil mencium tangannya yang hangat.

Ada satu yang kusesali dari hubungan kita, Dit. Aku menyesal. Kenapa kita ngga dari dulu aja pacarannya? Kenapa aku masih ragu-ragu sama kamu, padahal udah kelihatan jelas semua kebaikan kamu? Kenapa kita masih menghindar, saat Tuhan bilang kita adalah pasangan yang tepat? Kenapa, Dit? Kenapa? Banyak pertanyaan yang aku pikirin saat itu. Tapi setelah sama kamu, semua pertanyaan itu seolah-olah sudah terjawab.

Radit, inget gak waktu kita pura-pura jadian, cuma karena kita iri sama mereka yang punya pacar. Hihihi. Lucu, ya, Dit. Tapi Dit, kalo dipikir-pikir waktu kita study-tour ke Jogja, juga bertepatan dengan tanggal bagus lh0. Tanggal 5 Mei 2010. 5-5-10. Itu sama aja kayak 5+5=10. Bagus, kan, Dit?

Kita jadian 4 hari, ya, waktu itu, kita putus tanggal 9 Mei 2010. Kadang aku suka ketawa sendiri, lho, kalo inget itu. Ada ya, orang mau pacaran kontrak gitu. Hihihi. Sumpah, Dit. Waktu di Jogja, aku canggung banget, lho. Jadi ngerasa gimana, gitu. Belum lagi diledekin, sama temen-temen kita.

Kalo temen-temenku, sih, sebenernya ngedukung kita banget, Dit, buat jadian aja, tapi temen-temen kamu, tuh, yang gak setuju. Apalagi Navy, yang bilang aku genit, ganjen, gak cocok sama kamu. Sedih aku, dibilang kayak gitu sama temen-temen kamu. Tapi untungnya, kamu selalu nguatin aku. Kamu bilang, gak usahlah ngedengerin kata-kata mereka. Mereka cuma orang yang iri.

Radit, setelah jadian bohong-bohongan itu, kita jadi intens sms-an ya. Eh, belum, deh. Belum sms-an. Kita kirim-kirim wall di Facebook. Waktu itu, kamu ngatain aku melulu. Padahal di wall aku muji-muji kamu, eh, balesannya malah ejekan. Huhuhu. Jahat kamu.

Tapi ngga apa-apa, kok, Dit. Aku suka. Seru. Saking seringnya kita wall-to-wall, kita jadi nyampah di home Facebook. Hihihi. Sampai-sampai kita dimarahin, ya, sama Kak Alya. Setelah insiden dimarahin itu, baru deh kita pindah ke sms sampe sekarang dan mulai menghilang dari Facebook.

Pas kita sms-an, kamu masih deket sama Bella kan? Dan aku deket sama Kak Aldy. Ngga deket juga, sih. Aku lebih semacam kayak penggemarnya, gitu. Kita curhat tentang pasangan masing-masing. Seru, ya. Apalagi pas aku cerita, kalo aku mau di-bully sama Kak Tasya dan geng-nya itu. Aku jadi gak berani keluar kelas. Karena di-bully itulah, aku jadi ngga sreg lagi sama Kak Aldy. Aku ngejauhin dia dan mulai deket ke kamu. Tapi saat itu, kamu masih sama Bella. (bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: