Skip to content

Berkenalan dengan Gaya Sederhana Lewat Pasar Tradisional

by pada 16 Januari 2013
(rilisindonesia.com)

(rilisindonesia.com)

Oleh Sisilia Azmi Alyyanti

Sederhana, tidak semua orang memahami betul konsep hidup sederhana. Karena di zaman yang disebut modern ini, kata “sederhana” diartikan sebagai kemiskinan, ketidakmampuan untuk menghadapi gaya hidup yang berdasarkan percepatan alias instan, juga diukur dengan materi. Seperti pasar tradisional khas tanah air, yang dianggap ketinggalan zaman.

Jika kita melihat kondisi dari pasar tradisional selalu memikirkan suasana yang kotor, bau, becek, menyeramkan dan yang lainnya. Masyarakat yang dianggap kelas bawah dan kehadiran mereka terlupakan dengan adanya restoran mewah, gedung-gedung tinggi pencakar langit sampai adanya supermarket dan pasar modern sehingga, pedagang kecil dan pasar tradisional semakin terimpit.

Suara pedagang terasa sangat kencang saat menjual barang dagangnya. Mereka harus bersaing dengan pedagang lainnya untuk mendapatkan pembeli yang lalu lalang. Memang banyak orang-orang yang lewat tapi mereka tampak acuh mendengar teriakan dari Pedagang. Aktifitas dari pedagang pun padat, Mereka bangun saat fajar tiba dan menyiapkan dagangannya  ketika kita semua sedang tidur pulas atau bahkan kita masih hang out dan berkumpul di café-café.

Pengemis memenuhi ruang jalan dengan pakaian yang lusuh, raut muka yang pucat sambil tangan nya yang terbuka untuk meminta uang. Ditambah dengan adanya anak anak membawa karung karung besar dan keringat khas seketika keluar dari tubuhnya. Preman atau pentolan pasar terlihat tertawa bersama dengan teman-temannya sambil mencari mangsa untuk memenuhi kebutuhan perutnya.

Ketika berada di pasar tradisional, membuat kita berkaca dalam kehidupan, Banyak hal positif yang bisa diambil .Di pasar, mereka masih tertawa dan bersenda gurau sembil memperbincangkan tokoh dalam sinetron atau bola yang mereka tonton kemarin malam. Dengarkan juga bagaimana mereka membicarakan kesulitan keuangan diselingi guyon dan kepasrahan, atau penindasan yang dilakukan kepada mereka.

“ Saya sudah 5 tahun mbaa jualan di sini, banyak suka duka saya di sini tapi saya betah karena walaupun di sini banyak penjual yang menjual barang yang sama tapi tidak pernah berebut pembeli”Ungkap Ary (45 tahun) pedagang buah

Dengan demikian, kita bisa melihat walaupun pasar tradisional kurang nyaman saat berbelanja tetapi harga yang ditawarkan lebih murah. Lagi pula banyak sesuatu yang unik dijual di pasar tradisional. Jutaan orang menggantungkan hidupnya di pasar tradisional dan pasar tradisional sebagai salah satu penyumbang pendapatan asli daerah.

Pasar ini memang telihat sederhana, becek dan bau yang kurang enak tapi di balik itu semua, jutaan orang menggantungkan hidupnya beserta keluarga dari penghasilan jualan yang mereka dapat. Seribu satu warna terlihat di dalam pasar ada sedih, senang, takut, kasihan dan lainnya. Semua itu dapat terlihat jika kita memperhatikannya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: