Skip to content

Mini Novelet: Surat Cinta (bagian 3)

by pada 17 Januari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semesteran. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran

Oleh Niken Ari S (Pb 3B)

(mremzack.wordpress.com)

(mremzack.wordpress.com)

Bagian Ketiga

Mungkin karena kita intens smsan kali ya dan kamu juga udah mulai ngertiin aku, perhatian sebagainya itulah di dalam hati aku mulai timbul rasa-rasa yang sebenarnya ngga diharapkan kedatangannya. Aku sadar kamu masih punya Bella waktu itu jadi ya perasaan itu aku simpan di dalam hati aja. Dan karena rasa itu juga aku bikin puisi tentang kamu. Karena puisi itu, kamu luluh dan waktu itu hubungan kamu sama Bella juga mulai renggang.

Hmm Radit, inget ngga sama tanggal 08-09-10 (8 September 2010)? Iyaa di tanggal itu kita jadian untuk yang kedua kalinya. Pas tanggal itu bertepatan pas libur lebaran. Aku sekeluarga mudik. Dan walaupun kita terbentang jarak yang cukup jauh, tapi tetep ya hubungan kita tetep gak pernah terputus lewat sms. Pas aku di Semarang kita telpon-telponan sampe pulsanya abis.

Di hari terakhir kita jadian (kita selalu jadian empat hari), jujur sebenernya aku ngga mau putus dari kamu Dit. Aku mau hubungan kita tetep lanjut. Tapi, aku nggak enak ngomong ke kamunya. Aku malu.

Radit, setelah jadian kita yang kedua kalinya itu, aku jadi bener-bener punya perasaan yang lebih ke kamu. Jadi ngga mau jauh dari kamu deh. Tapi sekali lagi, aku malu banget ngomong ke kamunya. Aku gak berani. Jadinya aku cari-cari tanggal bagus buat jadian bohong-bohongan lagi sama kamu. Ketemulah tanggal 10-10-10 (10 Oktober 2010). Demi apapun aku nunggu-nunggu banget tanggal itu.

Akhirnya tanggal itu tiba. Di tanggal 10-10-10 aku ngajak jadian bohong-bohongan ke kamu. Aku kaget ternyata kamu mau jadian bohong-bohongan sama aku. Aku seneng banget. Yang bikin aku makin seneng itu pas kamu nawarin, kamu maunya jadian empat hari seperti biasa atau kita jadian terus sampe tanggal 20-10-2010? Dan aku pilih jadian terus sampe 20-10-2010. Kamu juga setuju kan Dit?

Dua hari kita jadian itu adalah hari-hari yang ngga terlupakan buat aku. Aku bawain sarapan yang aku bikin sendiri ke kamu. Kita ketemu diam-diam supaya temen-temen ngga ada yang tahu. Kalau sampai mereka tahu bisa abis diejek. Tetep aja ya ada yang tahu. Irvan lihat kita pas kita ketemu diam-diam itu. Rese.

Tapi sehari setelah itu ngga seindah hari sebelumnya. Kamu tiba-tiba aja mutusin aku padahal perjanjiannya kita jadian masih tujuh hari lagi. Kamu mutusin aku karena kamu bilang ke Bella tentang apa yang kita lakuin. Tentang jadian bohong-bohongan itu. Aku sedih. Kecewa. Marah. Dan sejak saat itu, aku nggak mau hubungin kamu lagi. Aku berusaha lupain kamu Dit karena aku kecewa. Aku udah terlanjur jauh berangan bahwa aku bisa jadi pacar kamu beneran. Tapi….

Lanjutannya ngga perlu aku tulis kan Dit?

Beberapa minggu kemudian kamu hubungin aku. Disitu kamu minta maaf dan ngajak kita nonton dan makan. Dan disitu juga, kamu jujur sama aku tentang perasaan kamu sebenernya. Seneng. Seneng banget. Karena apa yang aku harapkan bisa jadi kenyataan. Saat kita jalan itu, kamu minta maaf dan akhirnya meresmikan hubungan kita. Hubungan yang tadinya cuma pura-pura bisa bertahan sampai sekarang.

Radit, itu kisah kita. Kamu cepet bangun ya biar kamu bisa baca surat dari aku ini. Dan aku sangat berharap, kalau kamu sudah bangun nanti, kamu bales surat ini.

Oh iya Radit, dua hari lagi aku harus berangkat. Aku sudah mulai training. Awalnya aku sangat berharap kamu ikut juga Dit. Makanya kamu cepet bangun ya. Supaya bisa nyusul aku di Kanada.

Aku sayang kamu Dit. Sayang banget. Tapi maaf, aku harus pergi ke Kanada. Enam bulan lagi aku pulang. Aku harap saat aku pulang, wajah yang aku lihat pertama kali di bandara adalah wajah Mama dan kamu. Jemput aku ya Dit.

Salam sayang,

Pacar kamu tercinta

 Melissa ‘Icha’ Prayitno

Aku melirik jam dinding yang masih setia mengalunkan detak jamnya. Sudah pukul 00.15. Pantas saja mataku sudah berat. Aku ambil amplop biru yang selalu terselip di binder-jeans. Ku lipat kertasnya setelah aku baca ulang sekali lagi, kemudian aku masukan ke dalam amplop biru.

Ku taruh surat itu di ransel kesayangan Radit. Aku menguap dan merebahkan kepalaku di samping badan Radit sambil menggenggam tangannya. Berharap ada gerakan dari tangan kurus itu.

“Selamat malam sayang. love you,” bisikku.

Dan aku pun terlelap dalam buaian gelap malam di samping pacarku yang tidur pulas.

From → Feature

One Comment
  1. Romantis sekali… Semoga radit cepat bangun ya…

    :) Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: