Skip to content

Memanggul Kelapa dan Keluarga

by pada 20 Januari 2013
(cobrasweatmatoa.blogspot.com)

(cobrasweatmatoa.blogspot.com)

Oleh Riana Utami Putri

Malam itu, di tengah kesibukan pasar, mata kameraku menangkap sosok penuh peluh. Seorang laki-laki—mungkin sebaya denganku—tengah menahan napas menahan bobot yang pastinya begitu berat di pundaknya. Karung berukuran besar yang penuh dengan puluhan atau bahkan ratusan buah kelapa. Ya, dia biasa disebut kuli panggul.

“Yooo, Cahyo. Cepet Le. Masih banyak ini lho,” teriak seorang pria berbadan gempal yang baru saja menyembulkan kepala dari atas truk.

Cahyo mengusap peluh yang kembali mengalir di dahinya. Kaus longgar kumal yang dikenakannya tampak berkibar diterpa angin malam yang semakin menggigit saja. Kaus hitam itu basah terkena gerimis yang sedari tadi tak kunjung henti menyirami kawasan Pasar Cisalak. Mungkin ini sudah yang kesepuluh kalinya Cahyo kembali ke truk pengangkut berkarung-karung buah kelapa.

Jam tanganku sudah menunjuk ke angka 11, ketika Cahyo terduduk lemas di salah satu tangga. Diambilnya botol air yang sepertinya ia bawa sendiri dari rumah. Botol air yang bisa dibilang ukuran besar itu, ditengguknya hingga tandas. Penasaran, kuhampiri laki-laki bernama Cahyo ini. Nama yang sedari tadi hanya kudengar samar-samar saat sopir truk kelapa memanggilnya.

Namanya Cahyo. Benar saja, usianya baru 15 tahun. Cukup jauh di bawah usiaku. Wajah dan bentuk tubuh Cahyo memang khas milik orang yang setiap harinya bekerja keras. Cahyo mengaku bahwa dirinya sempat mengecap pendidikan di bangku sekolah. Akan tetapi, ia terpaksa berhenti di tahun ke lima.

“Saya lebih pilih cari makan Mbak dibanding cari ilmu. Saya anak paling tua, jadi harus ngasi makan adik-adik,” jawabnya ketika kutanyai alasannya berhenti sekolah.

Pada tahun kelimanya di sekolah dasar, ayah Cahyo meninggal. Tak hanya meninggalkan ibu dan dirinya saja, ternyata ayah Cahyo yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan itu juga meninggalkan lima orang adik yang masih kecil-kecil.

“Cukup ndak cukup lah Mbak. Yang penting pulang bawa sedikit uang. Urusan masak, biar gentian Ibu yang pusing,” ujarnya menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh, ketika mengingat upah menjadi kuli panggul yang sebenarnya masih jauh dari cukup.

Untuk memanggul satu karung kelapa, Cahyo hanya diupahi 1000 rupiah. Semalam dia biasanya memanggul sampai 30 karung. Padahal, Cahyo tak hanya harus membiayai kebutuhan makan keluarganya, tetapi juga uang listrik dan kontrakan yang hanya sepetak itu.

Cahyo sadar betul, hanya menjadi kuli panggul tak akan cukup untuk memberi makan adik-adik dan ibunya. Oleh karena itu, Cahyo juga membantu petugas kebersihan yang setiap hari membersihkan sisa-sisa sayuran. Sayuran yang diangkut dari truk ke dalam pasar biasanya ada yang tidak sengaja terjatuh. Ternyata, ini merupakan rezeki tersendiri bagi orang seperti Cahyo. Untuk kebanyakan orang, sayuran yang sudah jatuh dan terkena cipratan lumpur pasar merupakan sampah, namun, bagi Cahyo lain. Sayuran yang sudah jatuh itu bisa jadi menu makan siangnya nanti.

Miris. Namun itu masih terjadi di dunia nyata.

Cahyo yang menyesal tidak bisa melanjutkan sekolahnya bertekad, adik-adiknya harus mengecap pendidikan setidaknya lebih dari yang ia rasakan. “Ya minimal lulus SD lah Mbak. Masa iya anak jaman sekarang ndak bisa baca,” tutur Cahyo pelan sambil menatap kosong ke jalanan kecil di depannya. “Jangan sampe jadi kaya saya ini Mbak. Cukup saya saja,” harapnya.

Merasa masih kurang juga, sepanjang perjalanan pulang, Cahyo memungut segala bentuk sampah yang nantinya bisa ia jual kembali ke penadah. “Lumayan Mbak. Kalau dapet sekilo saja sudah menjadi uang tambah buat ibu. Itung-itung beli garem.”

 “Sekarang ini ya yang saya pikirin cuma ya gimana cara biar besok masih bisa makan. Besoknya begitu terus sampai seterusnya. Wah ya ndak ada habisnya Mbak. Yang penting ibu dan adik saya bisa makan. Itu sudah cukup buat saya,” jawabnya ketika kutanya apa yang diharapkannya.

Jawaban yang membuat lidahku kelu dan hati menjadi pilu. Di sini. Di pasar yang becek dan kotor, ada puluhan orang seperti Cahyo yang hidup hanya untuk mencari makan. Akan tetapi, tak sedikit juga di luar sana orang-orang yang memuntahkan kembali makanan yang baru mereka makan agar bisa makan lebih banyak lagi.

Inilah dunia. Ada orang seperti Cahyo yang masih berjuang untuk hidup walaupun harus mengais sampah di pasar. Sedangkan ada juga orang yang bunuh diri hanya karena putus cinta.

Hidup memang sudah pasti berat. Bukan kaya atau miskin yang menjadi patokan, tetapi cara seseorang untuk memperjuangkannya. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk orang lain. Seperti Cahyo. Dia memang bukan presiden atau artis terkenal, tapi pastinya dia bisa menjadi panutan tersendiri bagi adik-adiknya. Semangat anak 15 tahun yang terpaksa tumbuh lebih cepat ini memang luar biasa.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: