Skip to content

Pendidikan Holistik, Integrasikan Jiwa Terpecah (2)

by pada 20 Januari 2013

Pengantar: Barangkali, tulisan ini (Reblogged dari Majalah Amanah Online), dapat dipelajari kelebihannya sebagai latihan kita. Tema ini menarik karena pendidikan holistik memang tengah diterapkan dalam dunia pendidikan kita, demi keseimbangan hardskill dan softskill. Mungkin mau ditanggapi dan kasih komentar? Silakan dan semoga manfaat.

Dr. Amie Primarni

Oleh DR. Amie Primarni

Jiwa yang terpecah ini juga terkait erat dengan pola pikir (mindset) transaksional atau pola pikir yang merasa selesai jika telah memberikan sesuatu sebagai imbalan dari sesuatu yang diperolehnya.

Orang-orang yang berpola pikir transaksional ini, misalnya, menganggap sebuah dosa akan dapat dihapus apabila telah dibayar dengan perbuatan yang baik. Orang yang korupsi dianggap telah dimaafkan, ketika sebagian uang korupsinya disedekahkan kepada mereka yang kurang mampu, atau diinfakkan untuk membangun sarana ibadah, pendidikan dan sebagainya. Keadaan jiwa yang terpecah ini perlu diintegrasikan kembali dengan pendidikan holistik.

Jiwa yang Terpecah

Keempat, sebagai akibat sulitnya mendapatkan berbagai kebutuhan hidup serta berkembangnya budaya hipokrit yang kurang sehat, yang menghalalkan segala cara hinga mengakibatkan manusia harus berbohong atau bersikap mendua dalam menyikapi sebuah masalah. Akibatnya jiwa manusia menjadi terpecah (split personality). Sebagaimana terlihat banyaknya orang yang rajin menjalankan ibadah sholat, puasa, zakat dan haji, menghadiri pengajian dan kegiatan keagamaan lainnya, namun dalam waktu bersamaan mereka juga dengan sengaja melakukan tindakan yang bertentangan dengan agama, seperti melakukan praktek korupsi, mafia kejahatan, kolusi, menyuap dan menggugurkan kandungan.

Distorsi Makna

Kelima, sebagai akibat suasana kehidupan yang makin individualistik dan banyaknya hal pribadi bersifat rahasia dan berbahaya jika diketahui orang lain, menyebabkan timbulnya sikap hidup menyendiri maupun perasaan terasing dan terisolasi dari sebuah kehidupan. Gejala kehidupan menyendiri (lonely) ini, menyebabkan orang tersebut mencari pelarian pada kegiatan yang dapat menyenangkan dan mengembalikan keutuhan jiwa secara sesaat.

Banyaknya rumah tangga yang tidak bahagia, disebabkan sikap individualistik dan tidak adanya penerimaan antar pasangan. Berkurangnya kepedulian antar pasangan adalah indikasi masuknya sikap hidup yang individualistik. Di rumah-rumah besar yang sepi dan dingin, kita temukan setiap orang mengunci dirinya dalam kamar dengan kesibukannya masing-masing. Anak-anak kemudian mencari kesenangannya sendiri di luar rumah, ayah menyibukkan diri lebih lama di tempat kerja, dan ibu akan lebih lama berada di Mall atau Spa.

Semua itu dalam upaya mengisi kekosongan jiwa mereka yang kering. Kegiatan akan menjadi lebih ekstrem, ketika menemukan club-club malam yang penuh dan maraknya kehidupan malam lainnya. Tetapi manusia tidak akan pernah menemukan kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan dengan cara-cara demikian.

Munculnya gejala pada perasaan memiliki hidup yang kurang bermakna (loose of spiritual vision), sebagai akibat pandangan hidup yang terlampau menekankan aspek materi dan tidak pernah ada batas kepuasaannya. Orang yang demikian akan merasa hampa, memiliki tujuan hidup yang pendek, tidak memiliki wawasan maupun tujuan hidup jangka panjang. Mereka boleh jadi memiliki kedudukan, pangkat, dan harta yang berlimpah, namun tidak tahu untuk apa mereka miliki semua itu. Mereka mengalami distorsi makna.

Melihat Masalah Secara Utuh

Kemudian pelaksanaan pendidikan yang cenderung mengutamakan aspek kognitif, tetapi meninggalkan aspek afektif dan psikomotorik. Pendidikan yang terlampau mengutamakan kecerdasan intelektual, ketrampilan dan pancaindera, dan kurang memperhatikan kecerdasan emosional, spiritual, sosial dan berbagai kecerdasan lainnya. Akibatnya output dan outcome pendidikan menjadi parsial. Dalam merancang konsep pendidikan yang hampir kebanyakan diambil dari cara pandang Barat, akan terasa kurang sekali melibatkan pendekatan agama dan filsafat.

Konsep pendidikan yang dilaksanakan saat ini, terkadang berdasarkan pendekatan kelimuan tertentu saja. Seperti pendekatan psikologi, ekonomi, dan sosial, yang juga sangat parsial. Keadaan ini menyebabkan pendidikan menjadi terfragmentatif, mengingat setiap keilmuan tertentu cenderung bersifat spesifik dan mengutamakan pendekatannya sendiri.

Hal ini berbeda dengan pendekatan agama (Islam) dan filsafat, yang melihat suatu masalah secara utuh sebagai sebuah sistem yang hidup dan saling terintegrasi, terrelasi, dan terkoneksi. Dengan mengemukakan beberapa alasan tersebut di atas, gagasan pendidikan yang bersifat holistik berdasarkan pendekatan agama dan filsafat penting dilakukan. Hal yang demikian terjadi, karena hanya agama (Islam) dan filsafat yang memiliki pandangan yang holistik. (Selesai)

============================================================================================

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed M Naquib, Islam and The Philosophy of Science, ISTAC, Kuala  Lumpur, 1989.
Al-Attas, Syed M Naquib,
The Concept of Education in Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1999
Capra, Fritjof,  The Turning Point, Titik Balik Peradaban, Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan, Jejak, Bandung, 2007
Capra, Fritjof, The Hidden Connection : Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru, Jalasutra, Bandung, 2007.
Hasan , Aliah B Purwakania, Psikologi Perkembangan Islam,PT. Radja Grasindo Perkasa, 2006
Hude, Darwis M, Emosi, penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam Al-Qur’an, Erlangga, 2006
Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu,
Sebuah Rekonstruksi Holistik, Arasy Mizan, 2005
Kartanegara, Mulyadhi,
Menembus Batas Waktu, Panorama Filsafat Islam, Mizan, 2002
Mahzar, Armahedi,
Integralisme sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam, Penerbit Pustaka. 1983.
Mahzar, Armahedi, Islam Masa Depan,
Penerbit Pustaka, 1993.
Miller, J.
Ed. Holistic Learning and Spirituality in Education,State University of New York Press. (2005),
Nata, Abuddin,
Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (seri kajian Filsafat Pendidikan Islam), (PT. Rajawali Press. 
Nata, Abuddin,
Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta, Rajawali Pers, 2009.ja Grafindo Persada, Jakarta, Cet. I, Juli 2000).
Pasiaq, Taufik
, Revolusi IQ/EQ/SQ antara neurosains dan Al-Qur’an, Mizan 2002
Tabrani, Primadi
, Kreativitas dan Humanitas, Jalasutra, Jogya, 2006
Tafsir, Ahmad
, Filsafat Pendidikan Islami, Rosda, Bandung, 2006.
Tafsir, Ahmad,
Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, Rosda, 2005 edisi enam.

============================================================================================

DR. Amie Primarni adalah Pemerhati Pendidikan yang bekerja sebagai Dosen dan Konsultan Pendidikan

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: