Skip to content

Senja di Kota Karawang

by pada 22 Januari 2013
(radar-karawang.com)

(radar-karawang.com)

Oleh Vania Rahmayanti

Sabtu sore, jam tangan saya menunjukkan pukul 17.40, sebuah senja yang baik untuk mengais rezeki.

Suasana gaduh. Suara bising. Bau tak sedap. Jalanan licin. Sesak. Serta ramainya aktivitas perdagangan terlihat di sana. Mulai dari pedagang bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayuran, telur, daging, kain, pakaian, barang elektronik, kue-kue, hingga ada pula yang menjual jasa dan lain-lainnya.  Pemandangan yang tak biasa untuk saya, namun telah menjadi ciri khas sebuah pasar tradisional. Mungkin jauh sebelum saya lahir.

Pasar tradisional seperti ini masih banyak dijumpai di berbagai pelosok negeri, tak terkecuali di kota Karawang. Letaknya pun tak jauh dari pemukiman warga, bahkan sangat strategis. Tepat di samping alun-alun yang menjadi pusat kota Karawang, terdapat pasar tradisional yang tak pernah sepi dari aktivitas pedagang ataupun pembeli di setiap harinya.

Dimulai pukul 16.00 hingga pukul 07.00 pasar ini mulai terasa hidup, ditandai beberapa lampu minyak yang terdapat pada setiap kios, bahkan lapak yang ada di sana. Sejak saat itu pula, tawar-menawar antara pembeli dengan penjual berlangsung silih berganti. Sedikit berbeda mungkin dari pasar tradisional pada umumnya –di saat orang-orang terlelap akibat padatnya aktivitas seharian– justru pasar tradisional ini terlihat sibuk.

“Orang-orang akan dapat memasak pada pagi hari, kalau pedagang sudah buka. Jika tidak, yang ingin belanja untuk sarapan tak akan keburu. Karenanya, kami buka lapak atau kios sedari malam sampai subuh,” jelas Asep, salah satu pedagang sayuran di pasar tradisional Karawang.

Bukan hanya soal waktu, barang yang diperjualbelikan pun terlihat segar. Tak jauh berbeda dengan pasar modern saat ini. Bahkan beberapa di antaranya langsung dipetik dari kebun milik sendiri, seperti pengakuan seorang pedagang buah-buahan.

“Apel malang, rambutan, mangga, sama jambu batu ini, saya petik langsung dari pohonnya. Kebetulan saya berkebun juga, jadi buah yang saya jual sekarang akan terlihat lebih segar dari pada yang tidak memetik langsung,” ujar Abah Agus.

Harga pun relatif murah, meski terdapat keberagaman pada cara jualnya. Seperti pada sawi, kangkung, bayam, katuk ataupun kacang panjang, yang dihargai per ikat. Bumbu masakan ataupun kue-kue, dihargai perbungkus plastik kecil. Kain yang dihargai permeter. Pakaian ataupun barang elektronik dihargai per satuan pada tiap barangnya. Serta sisanya, seperti buah, telur, daging, dan ikan, dijual per kilo pada tiap pembeliannya.

Harga sewaktu-waktu dapat berubah lebih murah ataupun lebih mahal, tergantung tingginya permintaan konsumen. Contohnya saat menjelang hari raya tertentu, seperti Idul Fitri, harga bahan makanan akan naik dua kali lipat dari harga biasa akibat permintaan konsumen yang tinggi. Walaupun harga terkesan tidak stabil, keberadaan pasar tradisional tetaplah menjadi favorit para pembeli.

Pasar tradisional ini masih jauh dari kata rapi. Terlihat di tiap sudut mata memandang, jalan setapak untuk para pembeli begitu sempit karena banyaknya pedagang yang membuka lapak di jalanan. Bukan pasar, memang, jika tidak berantakan. Namun tetap harus dibenahi oleh pemerintah daerah, agar pasar tradisional ini lebih tertata. Setidaknya lebih terlihat rapi, tanpa harus menghilangkan ciri khasnya.

2 Komentar
  1. Vania, tulisan yang kamu buat baik sekali dari segi bahasa dan tata urutan antar paragrafnya. Tulisan yang kamu buat juga cukup menarik bagi pembaca karena judulnya yang membuat penasaran. Hanya saja sedikit kurangnya ketelitian kamu terhadap EYD. Namun, untuk keseluruhan baik sekali, lanjutkan kemampuanmu dan tingkatkan lagi ya. salam sukses!

  2. VaniaRahmayanti permalink

    Terima kasih mutia.. Iya saya akui, penulisan EYD saya masih sangat kurang tepat karena dalam pembelajaran hanya ada di semester satu sehingga sedikit terlupakan. Hanya beberapa saja yang saya ingat. Saya akan terus berlatih lagi. Jika ada kekurangan, mohon ingatkan kembali agar saya bisa lebih baik lagi kedepannya. Sekali lagi terima kasih mutia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: