Skip to content

Berjualan Tanpa Kios

by pada 24 Januari 2013
ilustrasi (antarafoto.com)

ilustrasi (antarafoto.com)

Oleh Niken Ari S

Ditemani sebuah meja kecil yang sudah mulai lapuk, kursi plastik bolong dan sebuah tas kecil yang selalu digendongnya, ibu tua itu tetap gigih bekerja. Menjual apa saja yang dapat dijual demi sesuap nasi.

Namanya Sudarmi (59) biasa dipanggil Ibu Dar. Ia berdagang di Pasar Depok Jaya sejak sembilan belas tahun silam. Jangan heran jika kalian mengunjungi pasar ini namun tidak menemui kios Bu Dar. Ya, karena Bu Dar memang tidak memiliki kios, hanya meja dan kursi yang terletak di depan kios orang inilah tempatnya mencari rezeki demi menjaga dapurnya tetap mengepul.

Keterbatasan ekonomi membuatnya tak bisa menyewa kios untuk berjualan. Tingginya harga sewa kios membuatnya berpikir ulang untuk menyewanya.

“Mau dibayar pakai apa? Untuk hidup sehari-hari saja masih sering hutang. Makanya ini saya beruntung diizinkan jualan di sini.” ujar Bu Dar ketika ditanya mengenai sewa kios.

Sementara itu Koh Acong, pemilik kios tempat Bu Dar berjualan, mengatakan ikhlas berbagi tempat dengan Bu Dar, “Kita kan sama-sama cari rezeki ya, kalau kita membantu orang ya suatu saat pasti nanti kita juga dibantu. Ngga apa-apa Bu Dar jualan di depan kios saya, saya ikhlas niatnya membantu.”

Dengan lapaknya seadanya, bukan berarti Bu Dar dapat bebas berjualan di sana. Bu Dar berjualan tidak menentu. Jika ditanya apa yang dijual Bu Dar di lapak kecilnya? Jawabannya bisa beragam. Kadang jual tempe, kadang jual tahu, bunga atau apa saja yang dapat dijualnya. Bu Dar hanya membantu pedagang lain menjual dagangannya.

“Ya abis saya ngga ada modal untuk beli barang yang bisa dijual. Jadi bantuin orang-orang sini aja jualannya,” ujar Bu Dar. Dengan sistem bagi hasil, Bu Dar dengan tekun menjual barang-barang yang didapatnya dari pedagang-pedagang pasar.

Dengan sistem berjualan yang tidak menentu, pendapatannya juga tidak menentu. Namun dengan sedikit keuntungan yang didapatnya, Bu Dar tetap bersyukur karena masih dapat menghidupi keluarganya. Sejak suaminya meninggal sembilan belas tahun lalu, Bu Dar menjadi tulag punggung keluarga.

 Kini harapan Bu Dar hanya satu, memiliki kios yang layak dan dapat menjual barang-barang dagangannya sendiri sehingga pendapatannya pun dapat lebih besar. Tuhan akan membalas semua usaha yang dilakukan hamba-Nya. Semoga saja suatu saat nanti pasti keinginan Bu Dar dapat terpenuhi. Semoga.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: