Skip to content

Cerpen: Mimpi

by pada 24 Januari 2013
(infospesial.net)

(infospesial.net)

Oleh Dina Lathifa Horman (Pb 3B)

Wajah sang suami bertekuk menahan kesal. Sepanjang hari ini, istrinya membuat hatinya kacau. Bahkan, terjadi cekcok mulut di antara mereka.

“Sayang, mengertilah. Aku di rumah bukan bersantai-santai atau berpangku tangan. Aku pun sibuk mengurus tempat tinggal kita,” ujar sang istri dengan nada menahan amarah.

“Mengurus rumah membutuhkan tenaga berapa banyak, sih? Sampai aku tiba dari tempat kerja pun kamu tidak sempat menyuguhkan makan malam,” sahut sang suami.

“Maafkan aku, sayang. tapi bisakah kau tidak bergantung saja pada istrimu ini? Tak bisakah kau menyiapkan makan malammu sendiri? Bantulah aku sedikit-sedikit,” kali ini giliran sang istri yang menyerang balik sang suami.

“Aku lelah dengan pekerjaanku di kantor. Aku mencari nafkah untuk kamu, kita, dan anak-anak kelak. Aku capek dan letih. Sudah, aku mau tidur saja!” Bentak sang suami.

“Jangan hanya menganggap kau saja yang capek. Seperti bisa saja mengurus rumah! Sudahlah!” Si istri pun tak kalah membentak.

Akhirnya, tiada makan malam. Saat itu juga si suami pergi ke kamar dan tidur.  Sebelum terpejam, sang suami sempat menyesal.

“Sesungguhnya aku hanya ingin merasa diurus oleh istriku,” bisiknya dalam hati, dan kemudian tertidur.

*******

Sang suami sedang berada di dapur rumah dan berhadapan dengan istrinya yang sedang duduk lemas. Ah, aku masih kesal dengannya, batin si suami.

“Sayang, aku pergi dari rumah ini,” ujar istri yang mengejutkan si suami. “Maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik,” ujarnya lagi.

“Kenapa mendadak ingin pergi? Kau merajuk hanya karena aku bentak sedikit?” Tanya si suami dengan gelagapan.

“Terlihat dari ucapanmu, kau hanya memandang sebelah mata tugasku sebagai seorang istri,” ujarnya datar. “Tampaknya aku perlu pergi agar kamu bisa mengerti rasanya menjadi aku.”

Sang istri bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan si suami. Sontak saja si suami pun ikut berdiri dan mencoba menahan istrinya. “Sungguh aku tidak ingin kau meninggalkanku. Kita adalah sepasang suami-istri, pasangan baru pula. Tolong, tetaplah di sini dan maafkan aku. Aku sedang emosi saat itu,” bujuk si suami, mengiba, agar si istri tidak pergi lebih jauh.

“Dengan keangkuhanmu, kamu pasti bisa hidup tanpa diriku. Ya, kamu bisa ‘kan? Dan biasakanlah hidup menjadi diriku dari sekarang,” ujar istri tanpa menoleh ke belakang, tanpa menunjukkan rasa sayangnya lagi. Langkahnya semakin mantap, dia maju dan kemudian tenggelam dalam kegelapan.

Sang suami tertegun sejenak, membayangkan bagaimana hidupnya tanpa istrinya. Aku bisa, tapi tak terbiasa, aku bukan apa-apa tanpanya, batin sang suami. “Tunggu, istriku! Jangan pergi! Maafkan aku!” teriaknya sembari meraih tubuh istrinya. Tapi terlambat, raga istrinya sudah tak tampak lagi di matanya. Hanya gelap yang semakin pekat, semakin hitam, yang menutupi penglihatannya.

“Jangan!” Teriaknya sehingga ia pun terbangun dari tidurnya. Matanya membelalak melihat kanan dan kirinya.

Mimpi, itu mimpi, ujarnya dalam batin.

*******

Raut wajah sang istri cemberut menahan kesedihan. Bagaimana tidak? Sepanjang hari dia mengurus rumah mulai dari bangun pagi sekali dan menyiapkan sarapan untuk suaminya, mencuci bajunya dan baju suaminya, menyetrika serta melipat rapi semua pakaian, membersihkan rumah, pergi berbelanja ke pasar, pusing mengatur keuangan rumah tangga.

Ya, memang kalau disebutkan saja tampaknya mudah dan gampang. Tapi coba rasakan saat menjalankan semuanya, seperti badan mau remuk. Dan kini suaminya merajuk karena dia belum menyuguhkan makan malam. Ya Tuhan, tak bisakah aku beristirahat sebentar saja? Kali-kali siapkan makan malammu sendiri, atau coba beli makanan siap saji dari luar untuk kita makan bersama, ujarnya dalam hati.

“Aku lelah dengan pekerjaanku di kantor. Aku mencari nafkah untuk kamu, kita, dan anak-anak kelak. Aku capek dan letih. Sudah, aku mau tidur saja!” Bentak si suami.

Kesabaran si istri pun habis sudah, suaminya tampak tak bisa mengerti dirinya sebentar saja. Dia pun membalas bentakan suaminya, “Jangan hanya menganggap kau saja yang capek. Seperti bisa saja mengurus rumah! Sudahlah!”

Dia pun terduduk di kursi meja makan, lemas badannya setelah membalas bentakan suaminya.

“Ya Tuhan, berdosa sekali rasanya melawan suami. Tapi aku hanya minta dia untuk mengerti aku, kok,” ujarnya lesu. Dia pun  bergegas ke tempat tidur, berbaring membelakangi suaminya, dan kemudian terlelap.

*******

Sang istri sedang duduk menatap suaminya. Mata suaminya yang tajam itu sedang menatap lekat-lekat pula ke mata si istri.

“Istriku, maafkan aku yang tidak bisa mengerti perasaanmu,” ujarnya.

“Ya, sayang. Tolong jangan mengulanginya lagi,”

“Aku tidak akan mengulanginya. Karena aku akan pergi dari sisimu.”

Ucapan terakhir suaminya itu mengagetkan si istri. “Mengapa kau hendak pergi?” tanyanya.

“Aku merasa tak pantas menjadi suamimu. Yang aku tahu hanyalah mencari nafkah. Sungguh aku pun berpikir juga untuk kebahagiaanmu. Tapi aku belum bisa mengertimu sepenuhnya,” balas sang suami.

“Tapi tidak harus pergi juga, ‘kan?” Tanya sang istri masih dengan heran.

“Benar, aku akan pergi. Sekarang juga aku akan pergi,” ujar si suami. Tiba-tiba saja kabut tebal menyekat sepasang suami-istri itu. Si istri panik dan segera mencari-cari suaminya dalam kabut tebal itu.

“Sayang, kamu di mana? Jangan pergi! Jangan meninggalkanku!” Teriak si istri sambil berusaha mencari. Akan tetapi, kabut itu semakin tebal, semakin menjauhkan si istri dari suaminya.

“Jangan!” teriak si istri yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Matanya mengalirkan air mata karena kesedihan. Tapi di hadapannya tiada lagi kabut tebal itu. Semuanya seperti biasa saja.

*******

Sepasang suami-istri itu sedang bertatapan dengan tidak sengaja. Mereka berdua sama-sama terbangun dari tidur mereka. Si suami berkeringat sedangkan si istri mengeluarkan air mata. Tampaknya mereka telah dilanda mimpi buruk.

“Sayang, maafkan aku,” ujar si suami memecah keheningan.

“Maafkan aku juga sayang,” sahut si istri.

“Maafkan aku yang tidak bisa mengerti dirimu. Maafkan aku yang tampaknya kekanak-kanakan.”

“Aku juga, sayang. Maafkan aku yang telah melawanmu, yang tidak bisa mengurus kamu dengan baik.”

Tangan mereka saling menggenggam erat.

“Kita masih harus mengerti satu sama lain, bukan begitu, sayang?” ucap si istri.

“Ya, dan aku pun tidak mau hidup tanpa dirimu. Aku bukanlah seorang suami tanpa ada istri di sampingku,” sahut si suami.

“Aku juga tidak mau hidup sendiri.”

Masih dengan tangan yang saling menggenggam erat, mereka pun tertidur nyenyak dalam kedamaian hati dan mencoba membentuk sebuah mimpi yang indah.

Ah, mimpi, mimpi yang mennyedihkan. Ujar si istri dalam hati.

From → Cerpen

2 Komentar
  1. mrfrog permalink

    penulisnya emang bertalenta

  2. dinhalathifa permalink

    amin, semoga dapat menjadi pemicu semangat saya dalam berkarya. terima kasih. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: