Skip to content

Terlupa Akan Ibu

by pada 25 Januari 2013
(majalahamanah.wordpress.com)

(majalahamanah.wordpress.com)

Oleh Ruri Rubi Sari

Ibu begitu berarti dalam sebuah keluarga. Setiap orang membutuhkan ibu. Ibu selalu ada untuk kita disaat sedih ataupun senang. Namun kadang kita tidak begitu menyadari seberapa berharganya ibu. Terlebih kadang kita tidak menghiraukannya.

Hari masih begitu gelap, matahari masih enggan memunculkan cahayanya yang menyilaukan, namun ibu sudah meninggalkan dunia mimpinya. Tubuhnya siap akan menerima pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Segala rutinitas pagi ia kerjakan perlahan-lahan namun pasti.

Aktivitas pertama yang dilakukan ibu adalah salat, aku selalu saja melihat ibu salat lama sekali. Kadang aku berpikir sebenarnya apa yang ibu doakan setiap salat sampai selama itu, apakah dia bercerita segala aktivitas yang dilakukannya pada hari kemarin?

Segala bentuk pertanyaan muncul dalam benakku, namun segala pertanyaan itu hilang seketika, ketika aku melihat raut wajah ibu ketika berdoa, tenang, pasrah, berserah diri kepada Allah. Sesaat perasaan damai hinggap dihatiku, seketika itu juga aku tahu bahwa ibu sedang mendoakanku, dan seluruh anggota keluarga, agar selalu sehat dan dilindungi Allah.

Setelah salat, ibu berlanjut memasak dan membangunkan seluruh keluarga. Setiap hari ibu membangunkanku dengan memanggil namaku, seketika itu juga aku terbangun. Sekecil apapun suara ibu memanggil namaku aku tetap terbangun, seakan ada magnet dalam setiap suaranya.

Ibu berlanjut membangunkan adik-adikku, adik-adikku cukup sulit dibangunkan,sehingga ibu membutuhkan ekstra tenaga untuk membangunkannya. Namun tidak terlintas sedikit pun dalam benakku untuk membantu ibu membangunkan adik-adikku. Aku selalu merasa itu bukan tugasku.

Kadang rasa kecewa menghinggapiku, ketika aku melihat makanan yang tidak terlalu aku suka dijadikan menu sarapan oleh ibu. Akhirnya aku pun makan dengan wajah tidak berselera. Aku tidak pernah mengungkapkan rasa ketidaksukaannku terhadap makanan itu. Aku merasa tidak enak setiap kali aku ingin mengutarakannya. Ibu sudah menghabiskan banyak tenaga untuk memasak makanan itu, aku takut jika menyampaikannya akan membuat ibu sedih.

Aku pun akhirnya berangkat untuk berkuliah dan adik-adikku berangkat untuk bersekolah. Setiap berangkat kuliah aku jarang sekali merasa bersemangat, rasa bosan dengan hidupku yang seperti itu selalu menghinggapiku. Aku tidak pernah menyadari bahwa ibu sudah menggantungkan seluruh harapannya padaku. Ibu selalu mengharapkanku menjadi sarjana hebat, menjadi orang yang lebih baik dari dirinya. Ibu sangat berharap aku dapat membayarkan sekolah adik-adikku dan dapat membantu ayah menjadi tulang punggung keluarga.

Ketika aku dan adik-adikku sedang berjuang menyerap ilmu, ibu tetap di rumah untuk membersihkan rumah dan memberi makan kakekku yang sudah sangat tua. Kadang ibu selalu mengeluh padaku perihal kakekku. Ibu selalu merasa tidak seperti memiliki tiga anak, namun empat anak karena kakekku yang terlalu bergantung pada ibu. Ibu tahu ia tidak boleh berpikir seperti itu, namun kadang putus asa begitu kuat berhinggap di diri ibu. Aku hanya bisa diam menjadi pendengar yang baik, aku begitu sulit memberikan saran pada ibu, alhasil aku lebih memilih diam dan menjadi pendengar yang baik.

Setiap sore ketika aku pulang sehabis menuntut ilmu di kampus, aku selalu mencari ibu, hanya sekedar untuk melihat wajahnya. Namun aku jarang sekali dapat menangkap garis-garis kelelahan dalam wajahnya. Setiap aku habis melihat wajahnya aku langsung beranjak pergi ke kamar. Mataku tidak sama sekali melirik kearah tempat cucian piring yang masih menumpuk ataupun tempat pakaian-pakaian kotor yang sudah mulai menjadi gunung. Aku begitu sibuk dengan diriku sendiri, sehingga melupakan ibu. Aku tidak pernah bertanya bagaimana hari ibu kala itu.

Aku kadang tidak menyadari ketika ibu sakit. Ibu selalu bersikap tegar pada penyakitnya, saking tegarnya sampai aku tidak dapat melihatnya. Ketika ibu sakit aku tetap saja mengeluh tentang kehidupanku, aku tidak menyadari segala keluhanku dapat menambah rasa sakitnya.

Ketika ibu sudah tidak tahan pada sakitnya, ibu selalu memintaku untuk memijitnya dengan megoleskan minyak angin, aku tidak pernah menolak, bahkan setiap aku selesai memijit ibu. Ibu akan selalu mengatakan bahwa tubuhnya terasa lebih baik. Aku tahu hal itu hanya untuk menyenangkanku, tidak mungkin dipijat sesaat kemudian tubuh terasa lebih baik.

Setiap ibu akan beringsut untuk tidur menyudahi segala aktivitasnya, aku kadang tidak menyadari guratan kelelahan di wajahnya. Aku selalu langsung pergi ke kamarku bersiap akan tidur atau selalu berkutat dalam pikiranku sendiri memikirkan alur hidupku. Sedangkan ibu selelah apapun dirinya, ibu akan terus memikirkanku.

Salah besar jika kita terus bersikap seperti itu pada ibu yang telah melahirkan kita dan merawat kita sampai saat ini. Selalu tanamkan pada diri, surga di bawah telapak kaki ibu, dengan ini kita akan selalu mengingat ibu. Selalu berusaha membahagiakan hati ibu, membalas cinta kasihnya, walaupun kita tahu kita tidak akan mungkin bisa membalas kasihnya, karena kasih ibu sepanjang masa.

Temui lah Ia, pandangi wajahnya, peluklah Ia, curahkan seluruh cinta kasih yang kita punya, sebelum itu semua terlambat untuk selamanya..

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: