Skip to content

Metode Penilaian UAN, Pendidikan Ketidakadilan bagi Siswa (2)

by pada 29 Januari 2013

Pengantar: Barangkali, tulisan ini (Reblogged dari Majalah Amanah Online), dapat dipelajari kelebihannya sebagai latihan kita. Tema ini menarik karena tujuan pendidikan kini cenderung tak berpijak pada dunia nyata, karena itulah perlunya upaya pembenahan tenaga pendidik. Mungkin mau ditanggapi dan kasih komentar? Silakan dan semoga manfaat.

Dr. Amie Primarni

Dr. Amie Primarni

Oleh DR. Amie Primarni

Pendidikan Islami menghadapi masalah serius, terkait perubahan masyarakat yang terus menerus semakin cepat. Terlebih perkembangan ilmu pengetahuan, yang hampir tidak memperdulikan lagi sistem suatu agama.

Mengembangankan Hubungan dengan Allah

Dari sisi praksis pendidikan, terdapat dus hal yang perlu dicermati. Pertama, baik pendidikan umum maupun pendidikan Islami, perlu kiranya kita renungkan ke arah manakah pendulum dunia pendidikan formal kita? Nampaknya paradigma dikotomik sudah meresap masuk, baik ke pendidikan Islami maupun pendidikan Umum. Kekeliruan ini seyogyanya menurut penulis, perlu mendapat koreksi dan pelurusan. Di satu sisi pendidikan Islami harus kembali ke ‘fitrah holistik’-nya, sementara pendidikan umum harus menyadari bahwasanya perspektif dikotomi tidak lagi tepat digunakan.

Kedua, metode penilaian Ujian Akhir Nasional mengandung unsur manipulasi pihak yang berkompeten, dalam menentukan hasil usaha dan perjuangan anak didik. Yang lebih tragis adalah pendidikan ketidakadilan di kalangan anak-anak didik. Secara tak sadar dunia pendidikan formal kita sedang mempersiapkan dan melahirkan generasi muda yang menghalalkan sistem ‘katrol-katrol’–an, mengubah realitas menurut maksud manusia, merugikan pihak lain tanpa rasa bersalah dan diuntungkan dengan jalan haram.

Sistem penilaian Ujian Akhir Nasional perlu mempertimbangkan kerangka holistik pendidikan, tanpa meninggalkan cara pandang berperspektif interdisipliner dalam konteks keseluruhan yang membantu manusia untuk lebih memahami dan menyelami makna pendidikan. Bukan saja dalam perspektif humaniora, seperti dalam perspektif Barat. Melainkan membutuhkan kerangka ‘holistik’ yang menghubungkan garis vertikal pengabdian kepada Allah SWT, dan tolong-menolong dalam kebaikan sebagai garis horizontal hubungan manusiawi.

Pendidikan holistik perspektif Barat tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini, khususnya di dunia Timur –termasuk Indonesia yang sangat kental religiusitasnya. Yang sejak pertama meletakkan ‘Dien‘ dan nilai-nilai agama sebagai fondasi kehidupan dunia dan akhirat. Keyakinan ini akan memudar, manakala dunia pendidikan memisahkan fungsi pengetahuan dan ‘Dien.’

Dikotomi klasik yang memisahkan otak dan hati, pengetahuan dan agama, antara keindahan dan fungsi, sebaiknya segera ditinggalkan, karena pendekatan ini akan menimbulkan fragmentasi dalam hidup manusia. Kehilangan fondasi ‘Din‘ dan nilai-nilai agama inilah, yang membuat generasi kita akan mudah berputus asa, memiliki kepercayaan diri yang rendah, menyenangi dunia hiburan semata, berorientasi pada hasil kekayaan dan kemewahan tanpa mengindahkan cara-cara yang benar dan baik.

Betapapun, metode penilaian Ujian Akhir Nasional perlu ditempatkan dalam bingkai dunia pendidikan holistik, tempat manusia belajar menjadi manusia yang baik dan dapat hidup bersama dengan yang lain. Ruang kelas menjadi sebuah komunitas.

Dunia pendidikan menjadi tempat bagi manusia untuk mengembangkan hubungan dengan Allah SWT, menjadikan diri-diri individu yang memiliki ketaatan, kepatuhan dan tawakkal. Dan secara horizontal mengembangkan hubungan baik, adil, terbuka, jujur, saling menghormati, tak merugikan sesama manusia.

Pendidikan ini tidak hanya memprioritaskan kompetisi, tapi proses belajar saling mendukung, kerja sama dan menjadikan manusia yang membebaskan dirinya untuk menjadi manusia yang utuh. Kepribadian dengan karakter yang baik atau adab yang baik menjadi sasaran utama dalam proses pendidikan holistik Islami.

Lalu, apakah sistem penilaian Ujian Akhir Nasional mendapat tempat dalam konteks pendidikan ini? Apakah cukup lengkap sistem penilaian Ujian Akhir Nasional untuk bisa menggambarkan keutuhan manusia, dalam pengembangan aspek ‘dien’ pada dirinya.

Mengembalikan Kesejatian Pendidik

Pekerjaan rumah pertama yang harus serius untuk dikembangkan secara praksis adalah melengkapi proses belajar intelektual dengan proses belajar internal religius  dan membuat kerangka penilaiannya, sehingga terdapat gambaran yang utuh tentang sosok manusia yang sesungguhnya.

Pekerjaan rumah kedua –namun menduduki nilai sentral— adalah mengembalikan sosok para pendidik kembali ke alam habitat nilai-nilai agama dan filosofi pendidikan. Saya melihat inilah yang telah lama ditinggalkan oleh para pendidik dalam mendidik anak-anak kita. Atau saya khawatir para pendidik tidak punya cukup bekal untuk menjadi seorang pendidik –tanpa bermaksud mengecilkan–  namun masih terdapat mereka yang tidak tahu bagaimana sejatinya menjadi seorang pendidik.

Profesi pendidik, kini menjadi status untuk mencari nafkah semata, tanpa diiringi pengembangan ilmu yang dalam dan kepribadian yang baik. Syarat menjadi pendidik hanya dilihat dari aspek pengetahuan, dan tidak melihat aspek akhlak religiusitas. Wallahu a’lam bisawab. (Selesai)

============================================================================================

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed M Naquib, Islam and The Philosophy of Science, ISTAC, Kuala  Lumpur, 1989.
Al-Attas, Syed M Naquib,
The Concept of Education in Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1999
Capra, Fritjof,  The Turning Point, Titik Balik Peradaban, Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan, Jejak, Bandung, 2007
Capra, Fritjof, The Hidden Connection : Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru, Jalasutra, Bandung, 2007.
Hasan , Aliah B Purwakania, Psikologi Perkembangan Islam,PT. Radja Grasindo Perkasa, 2006
Hude, Darwis M, Emosi, penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam Al-Qur’an, Erlangga, 2006
Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu,
Sebuah Rekonstruksi Holistik, Arasy Mizan, 2005
Kartanegara, Mulyadhi,
Menembus Batas Waktu, Panorama Filsafat Islam, Mizan, 2002
Mahzar, Armahedi,
Integralisme sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam, Penerbit Pustaka. 1983.
Mahzar, Armahedi, Islam Masa Depan,
Penerbit Pustaka, 1993.
Miller, J.
Ed. Holistic Learning and Spirituality in Education,State University of New York Press. (2005),
Nata, Abuddin,
Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (seri kajian Filsafat Pendidikan Islam), (PT. Rajawali Press. 
Nata, Abuddin,
Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta, Rajawali Pers, 2009.ja Grafindo Persada, Jakarta, Cet. I, Juli 2000).
Pasiaq, Taufik
, Revolusi IQ/EQ/SQ antara neurosains dan Al-Qur’an, Mizan 2002
Tabrani, Primadi
, Kreativitas dan Humanitas, Jalasutra, Jogya, 2006
Tafsir, Ahmad
, Filsafat Pendidikan Islami, Rosda, Bandung, 2006.
Tafsir, Ahmad,
Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, Rosda, 2005 edisi enam.

==========================================================================================

DR. Amie Primarni adalah Pemerhati Pendidikan yang bekerja sebagai Dosen dan Konsultan Pendidikan

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: