Skip to content

Mini Novelet: Sepasang Sayap (bagian 1)

by pada 30 Januari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semesteran. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Dina Lathifa Horman (Pb 3B)

(tugasjefryastreando.wordpress.com)

(tugasjefryastreando.wordpress.com)

Bagian Kesatu

Huaaahh..” aku bangun pagi ini dan segera meregangkan otot-ototku. Tapi, argh! Aku tidak bisa sepenuhnya melepaskan otot-ototku. Bagian punggungku terasa sakit, karenanya. Entah bagaimana bisa seperti ini. Rasa sakit ini sudah ada, ketika aku masih berumur 8 tahun.

“Punggungmu sakit, karena dulu tertimpa kayu yang terbakar dari rumah lama kita,” ujar Mamaku, saat aku bertanya tentang rasa sakit ini.

“Aku merasa seperti ada sayap yang mau keluar dari dalam punggungku,” ujarku polos saat itu.

“Oh, ya? Beruntung sekali, karena sayapnya belum keluar sampai sekarang.”

 “Pasti nanti akan segera keluar. Soalnya semakin hari semakin sakit, Ma.”

Raut muka Mama seketika menjadi murung. Dia kemudian menatapku dan berkata, “Jangan berharap mengeluarkan sayap sesegera mungkin. Kamu tidak boleh tega sama Mama.”

 Ada hening beberapa saat, kemudian aku kembali bertanya, “Mama punya sayap juga, tidak?”

“Punya, tapi belum  keluar, Io.”

“Seperti apa sayap Mama?”

“Mama juga belum tahu, mungkin seperti sayap kupu-kupu.”

Aku masih mengingat percakapan itu, padahal sudah 10 tahun berlalu. Kini aku sudah menginjak  usia dewasa. Benar saja, punggungku masih sakit dan semakin sakit. Rasanya kalau aku sudah bisa melepaskan sayap yang terpendam dalam tubuhku ini, pasti akan sangat lega dan sakitku pun lenyap.

Dari kasur, aku beranjak ke dapur untuk sarapan. Suasana sepi menyelimuti rumah ini. Mama belum pulang, pikirku. Mama bekerja shift malam pada sebuah perusahaan yang baru berdiri, ujarnya saat pertama kali bekerja.

Mama bekerja karena tidak ada Papa. Dia pergi meninggalkanku dan Mama bersama wanita lain yang dia anggap lebih menyayanginya, ketimbang Mamaku. Dia menelantarkanku saat berumur 8 tahun.

*******

Sebelum pergi, Papa dan Mama sempat bertengkar hebat. Mereka saling tuduh, saling mencaci, saling memukul, dan akhirnya Papa menumpahkan minyak tanah di lantai dan segera menyulutnya dengan api. Saat dalam kebakaran, mereka masih bertengkar. Mereka melupakan aku yang sedang tertidur di kamarku.

Aku sendiri terbangun, karena merasa kepanasan. Begitu terkejutnya aku, saat melihat kobaran api di mana-mana. Aku langsung berlari dan berteriak mencari Mama dan Papa. Mereka yang tengah bertengkar segera terhenti. Tapi Papa langsung kabur keluar, sedangkan Mama berusaha mencariku. Saat itulah patahan kayu menimpaku.

Semua karena Papa. Itu yang aku ingat dalam benakku sampai detik ini. Mama menjadi seorang single parent untuk menghidupi kami berdua. Beberapa kali berganti pekerjaan, demi mendapatkan gaji yang sesuai dan mampu memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.

Rumah yang sekarang kami tempati adalah rumah kontrakan yang berada tak jauh dari kota, hasil jerih payah Mama. Sebelumnya kami menumpang di rumah saudara Mama, sampai akhirnya menemukan tempat tinggal sendiri.

*******

Aku sangat kasihan melihat Mama. Sebagai anak laki-laki, ku berharap untuk tak mengecewakan Mama, seperti yang Papa lakukan tempo dulu. Aku harus bisa memberi yang terbaik bagi Mama, batinku.

“Rio, kamu sudah bangun?” sapa Mama membuyarkan lamunanku. Mama tampak berada di depan pintu, mengenakan kaos berkerah dan celana jeans biasa. Pakaian kerja Mama yang sederhana.

“Sudah, Mama baru pulang?”

“Iya. Alhamdulillah, Mama dapat bonus dari Manajer. Ini Mama bawakan sarapan.”

“Bagaimana pekerjaan baru Mama, selama beberapa hari ini?”

“Lumayan, Manajer perusahaan tersebut suka memberikan bonus dan uang lembur untuk pegawainya. Enak juga, Io” ujar Mama dengan nada letih.

“Kalau begitu, sekarang Mama sarapan juga, deh. Mama pasti lapar dan lelah,”

“Tidak usah, Mama istirahat saja yah, Io”

“Ya sudah, selamat tidur Mama,”

“Terima Kasih, Io,” ujarnya, seraya bangkit dari tempat duduk dan beranjak ke kamarnya. Mamaku yang hebat, aku tidak boleh mengecewakannya, pikirku. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: