Skip to content

Karir Anda Tanggungjawab Siapa? (1)

by pada 31 Januari 2013

Pengantar: Barangkali, tulisan ini (Reblogged dari Majalah Amanah Online), dapat dipelajari kelebihannya sebagai latihan kita. Tema ini menarik karena seringkali orang salah kaprah soal asumsi tentang kemajuan karirnya, tulisan ini menyadarkan sekaligus memotivasi kita agar mau dan mampu bertanggungjawab untuk dirinya sendiri. Mungkin mau ditanggapi dan kasih komentar? Silakan dan semoga manfaat.

(Dok.Pribadi)

(Dok.Pribadi)

Oleh Arbono Lamashadi

Salim (bukan nama sebenarnya)  adalah lulusan Fakultas Ekonomi dari sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta, yang sudah bekerja selama hampir 10 tahun sebagai Manajer Keuangan di sebuah perusahaan asing bergerak di bidang industri makanan. Selama ini, Salim mempunyai pandangan bahwa hal-hal yang menyangkut masa depan karirnya, merupakan tanggungjawab perusahaan sepenuhnya.

Kondisi nyaman ini dia nikmati sampai suatu saat hadir seorang  Manajer Keuangan yang baru bernama Shinta (bukan nama sebenarnya). Buat Salim, Shinta bukanlah orang yang asing baginya, karena dia merupakan adik kelasnya ketika masih sama-sama di Fakultas Ekonomi. Salimlah yang merupakan mentor Shinta ketika pertama dia masuk ke Fakultas Ekonomi.

Yang membuat Salim tersentak, adalah posisi yang dipegang Shinta adalah posisi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan posisi yang dipegangnya saat ini. Bagaimana mungkin? Apa kata dunia? Demikian mungkin campur aduk pikiran dan perasaannya yang ada dalam diri Salim,  saat harus menerima kenyataan bahwa adik kelasnya saat ini mempunyai karir yang lebih baik darinya.

Salahkah Salim dengan pengelolaan karir, yang dilakukannya selama ini? Atau benarkah langkah Shinta, yang berpindah kerja untuk meningkatkan karirnya? Jawabannya tidak ada yang benar dan salah. Ini merupakan sebuah pilihan, yang perlu dipertimbangkan oleh seorang karyawan.

Tetap bekerja  pada satu perusahaan tanpa perencanaan karir yang baik, bisa jadi bukan langkah yang bijak. Namun pindah kerja tanpa  perencanaan dan pertimbangan yang matang, tentunya juga bukan sebuah pilihan yang tepat. Tetap bekerja di satu perusahaan atau pindah kerja dengan membuat perencanaan karir yang jelas, merupakan pilihan yang perlu dipertimbangkan. Lalu siapa yang sebenarnya yang paling bertanggungjawab dalam merencanakan karir Anda? Perusahaankah? Atau Anda sendiri?

Menurut hemat penulis, di samping peran yang diambil oleh perusahaan, seorang karyawanlah yang paling berperan dalam melakukan perencanaan karir pribadinya. Dia bertanggung jawab terus meningkatkan ketrampilan yang dia miliki, untuk memastikan bahwa dirinya mempunyai kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan pasar tenaga kerja. Dia juga sebaiknya bertindak proaktif untuk melihat kesempatan yang ada, dan kemungkinan munculnya masalah dengan karirnya saat ini.

Untuk itulah, ada baiknya seorang karyawan senantiasa dapat melakukan penilaian diri untuk mengenal aspirasi karir yang dia inginkan, mengukur kekuatan yang ia miliki dan hal-hal yang perlu ditingkatkan lebih baik lagi.

Dengan perencanaan karir pribadi ini, seorang karyawan dapat menilai tingkat kesesuaian antara aspirasi karirnya dan karir yang dipegangnya saat ini. Dengan demikian dapat mengarahkan dirinya untuk memilih penugasan atau pekerjaan-pekerjaan yang lebih sesuai dengan aspirasi karirnya.

Perlu diingat bahwa pengertian karir sebaiknya tidak dibatasi hanya bekerja di kantor atau perusahaan. Menjadi wirausahawan, pekerja sosial, atau menjadi penulis merupakan bentuk-bentuk pilihan karir yang dapat seorang pertimbangkan.

Dengan pengertian ini tidak mengherankan bahwa sebenarnya seorang yang mempunyai perencanaan karir yang baik, tidak akan pernah pensiun. Karena karirnya dapat terus berjalan seiring dengan kehidupannya.

Ada beberapa saran yang dapat dipertimbangkan oleh seorang karyawan dalam membuat perencanaan karir.

1. Tingkatkan network Anda, di dalam maupun di luar perusahaan, misalnya

      • Ikut terlibat dengan proyek-proyek atau kepanitiaan yang sedang berlangsung di perusahaan untuk lebih memahami rekan kerja dan juga proses bisnis di perusahaan.
      • Mendiskusikan rencana karir Anda dengan atasan atau dengan orang–orang yang dianggap telah berhasil dalam karirnya.
      • Melakukan “wawancara” informal dengan orang-orang yang mempunyai karir yang Anda inginkan, untuk lebih memahami pekerjaan yang dicita-citakan.

Terlibat dalam kegiatan sosial atau asosiasi professional di luar jam kantor, untuk dapat berinteraksi dengan orang-orang baru dan meningkatkan wawasan terhadap dunia kerja.

(Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: