Skip to content

Mini Novelet: Sepasang Sayap (bagian 2)

by pada 1 Februari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semester. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Dina Lathifa Horman (Pb 3B)

(bekasiraya.com)

(bekasiraya.com)

Bagian Kedua

Sudah sebulan berlalu dan Mama masih bekerja di perusahaan tersebut. Betah sekali, sepertinya. Terlebih sekarang, Mama suka mendapat bonus dan membelikanku barang-barang yang kuinginkan di luar kebutuhan pokok.

“Mama, aku juga ingin bekerja di perusahaan Mama. Kira-kira, ada tempat tidak buatku? Aku kasihan, melihat Mama terus yang bekerja,” ujarku pada suatu sore kepadanya.

Mama terkejut mendengar ucapanku, “Sepertinya tak ada untuk sekarang, Io. Lagi pula, buat apa kamu bekerja? Lebih baik kamu fokus pada kuliahmu saat ini.”

“Tapi, aku kasihan melihat Mama terus yang bekerja. Aku kan anak laki-laki. Harusnya aku…”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Mama memotongnya “Tidak usah, Io. Kamu memang anak laki-laki, tapi saat ini kamu harus terus belajar untuk mendapat pekerjaan dan hidup lebih layak dari sekarang. Kalau bekerja, ya, seharusnya Papamu. Namun, kini dia tidak lagi di sini. Jadi, selama Mama mampu, Mama yang akan menafkahimu,” ujarnya tulus, sambil mengusap kepalaku.

“Baiklah, aku tak akan mengecewakan Mama.”

“Begitu, dong. Oh iya, bagaimana keadaan punggungmu? Masih sakit?”

“Masih, Ma. Sakit seperti biasa,”

“Kalau uang Mama sudah cukup, kita bawa ke dokter ya, Io,”

Aku hanya tersenyum. Bukannya senang, tetapi aku lebih memilih membiarkan rasa sakit di punggungku. Nanti juga hilang, setelah sayapnya keluar. Kalau dibawa ke dokter, bisa-bisa sayapnya rusak, pikirku polos. Ya, aku memang anak laki-laki dewasa yang polos.

*******

Kini, sudah setengah tahun Mama bekerja di perusahaan itu. Perusahaan yang aku tidak ketahui, nama dan letaknya. Mama pun masih bertahan, dengan shift  malamnya.

Awalnya, aku tak menganggapnya sebagai keanehan. Namun, beberapa tetangga menyebarkan kabar burung yang tidak sedap, tentang Mamaku. Beberapa dari omongan itu, sempat tertangkap telingaku.

Ada yang bilang, kalau pekerjaan Mama tidak halal. Pekerjaan yang Mama lakoni adalah pekerjaan kotor, dan sebagainya. Lama-lama, aku sebagai anaknya merasa risih. Sepasang telinga ini panas mendengarnya. Aku pun membicarakan tentang gosip itu kepada Mama.

“Mama, apa tak ada shift siang untuk pekerjaan Mama?”

“Untuk sekarang tidak ada, Io. Memangnya kenapa?” tanya Mama dengan bingung.

“Sebenarnya aku kasihan, Mama pulang pagi terus. Tapi, bukan hanya itu. Para tetangga kita membicarakan hal yang tak enak, tentang pekerjaan Mama. Aku tidak mau Mama di cap buruk oleh mereka,” jelasku.

Mama terdiam sejenak mendengarku, “Sudah, biarkan saja mereka menggonggong, Io. Mama sebagai kafilah, akan berlalu begitu saja, kok,” ujarnya dengan peribahasa. Seutas senyum menghias bibirnya.

“Mama, aku mau bertanya satu hal.”

“Apa itu, Io? Tanyakan saja.”

“Maaf, bila aku bertanya seperti ini, Ma. Tapi, gosip yang beredar itu tak benar, kan?”

“Tidak sayang, percayalah,” ujarnya, lalu mengecup keningku penuh kasih.

Benar kata Mama, biarlah anjing menggonggong, kafilah pun berlalu. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: