Skip to content

Selamat Ulang Tahun Papa

by pada 1 Februari 2013
(mebulan.wordpress.com )

(mebulan.wordpress.com )

Oleh Btari Puspita Rini

Hari ini, Rabu, 10 Oktober 2012 adalah ulang tahun Papa. Papaku sudah berusia 48 tahun. Tak terasa Papa yang dahulu suka menggendongku, sekarang sudah hampir menginjak usia emas. Papa, masih ingatkah engkau ketika aku tampil menari di ballroom Hotel tempat kerja Papa? Saat itu Papa duduk di depan. Sengaja memilih kursi depan meski pun jabatanmu saat itu belum diperbolehkan untuk duduk di depan. Saat itu aku menari dengan lincah. Usiaku 6 tahun saat itu. Usiaku adalah usia termuda di antara penari yang lain.

Aku menjadi pusat perhatian saat itu. Aku malu sekali. Tak sengaja aku jatuh terpeleset di lantai marmer yang berkilau. Silaunya marmer itu sesilau lampu sorot yang menyinari kami selama menari. Ketika aku terjatuh, bukan sorak cemoohan yang kudengar. Justru gemuruh tepuk tangan yang membahana di ballroom hotel berbintang lima. Aku sungguh terkejut campur malu. Awalnya yang kudengar hanya suara tepuk tangan dari arah tempat duduk Papa.

Gemuruh tepuk tangan itu pasti Papa yang memulainya. Sungguh mengharukan, ternyata mereka tidak hanya sekedar memberikan tepuk tangan. Mereka juga memberikan standing ovation. Aku pun bangkit dan kembali menari dengan lincah. Selincah penari utama yang mendapatkan semangat baru dari para penonton. Motivasi dari Papa tidak hanya sekedar kata, tetapi aksi nyata.

Selesai menari, aku mendapatkan penghargaan dari pihak hotel. Terlebih lagi ketika General Manager hotel itu menggendongku. Aku sangat senang karena aku diajak berbicara bahasa Inggris dengannya.  Untungnya ketika di rumah, Mama suka mengajakku berbicara bahasa Inggris. Aku belajar sedikit bahasa Inggris. Meskipun tidak fasih, aku berani berbicara dengan orang asing, tentunya dengan perasaan gugup.

Pak General Manager pun kagum denganku. Dia memberikanku sebuah amplop putih dengan logo hotel tempat kerja Papa. Aku senang sekali, aku kira itu sebuah kartu pos. Rupanya isi dari amplop itu adalah uang yang bergambar Cut Nyak Dien. Aku senang sekali. Itu gaji pertamaku. Hasil jerih payah dari menari.

Untuk usia 6 tahun, uang Rp. 10.000 adalah uang yang cukup banyak. Saat itu aku mengajak Papa pergi ke toko buku dan aku membeli sebuah buku catatan harian kecil. Aku membeli buku catatan harian kecil itu dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Bangga sekali rasanya bisa membeli catatan harian tanpa uang orang tua.

Dahulu, aku selalu menunggu Papa di pintu depan sambil menemani Mama berjualan es. Bahkan beberapa kali Mama menyuruhku masuk karena sudah magrib. Lebih menyakitkan lagi ketika mama mengatakan bahwa Papa akan pulang jam 2 pagi. Aku ingin digendong Papa. Bermain ayun-ayun kaki. Aku memeluk kaki Papa dan Papa berpura-pura menjadi raksasa. Papa masih ingat kan?

Hal yang membuatku sedih adalah ketika Papa memutuskan untuk bekerja di kapal pesiar. Saat itu aku berkata tidak apa-apa jika Papa memilih bekerja di sana. Aku tahu kok kalau di Indonesia sedang krisis. Tiap kali aku melihat berita, pasti tentang kerusuhan, bahan bakar minyak yang harganya melangit, rupiah anjlok. Aku tahu kok kalau Papa adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab.

Papa pasti menginginkan kehidupan kami yang lebih baik, kan? Apa karena aku sering merengek meminta boneka Barbie dan Papa mau membelikanku boneka Barbie asli dari luar negeri? Membahagiakan sekali ketika mendapat kiriman boneka Barbie dari Papa ketika ulang tahunku. Boneka itu memegang kue ulang tahun dengan tulisan Happy Birthday di atasnya. Aku juga mendapatkan kalung inisial B yang sama dengan boneka Barbie kenakan. Betapa bangganya ketika aku memamerkan kalung itu ke teman-teman.

Teman-temanku suka menertawakanku tiap kali aku diantar supir pribadiku dan membantuku membawakan tas ke kelas. Mereka kira yang selama ini mengantarkanku adalah Papa. Aku bilang bukan. Mereka menertawakanku. Mereka kira aku tidak punya Papa. Padahal aku tetap punya Papa, kan? Buktinya tiap Papa sampai di suatu negara yang berbeda, Papa selalu mengirimkan kartu pos ke sekolahku. Aku selalu tersenyum bahagia ketika mendapatkan kartu pos dari Papa.

Teman-temanku selalu iri melihatku memiliki Papa yang pekerjaannya keliling dunia. Aku senang mendapatkan perhatian meskipun hanya lewat kartu pos. Sebenarnya aku merasa sedih karena tidak bisa bermain dengan Papa. Aku bisa mendapatkan mainan bagus dari Papa tapi aku lebih senang bermain dengan Papa.

Saat itu, aku merasa seperti anak perempuan yang kurang mendapatkan perhatian dari seorang Papa. Rupanya Mama pun cukup kewalahan mengurus tiga anak di rumah tanpa sosok Papa. Kami butuh Papa, bukan harta dari Papa. Papa lebih berharga daripada harta yang selama ini kami nikmati di rumah.

Beberapa tahun selama Papa bekerja di sana, Papa sakit dan harus melakukan operasi. Aku tidak tahu Papa sakit apa. Waktu itu mama tidak memberitahukanku tentang penyakit yang Papa derita. Aku hanya tahu ketika itu mobil sudah terjual. Mungkin untuk menutupi biaya pengobatan Papa. Tak apalah aku hanya naik ojek ke sekolah. Lebih menikmati semilir angin selama perjalanan dari Bekasi ke Halim, pikirku.

Akhirnya Papa memutuskan untuk kembali menetap bersama kami. Kami senang sekali mendengar keputusan Papa. Aku bisa pamer ke teman-temanku bahwa aku punya Papa. Aku senang sekali ketika Papa menjemputku. Biasanya aku memberikan tas ke supirku, saat itu aku memberikan tanganku dan mencium tangan Papa. Papa selalu memberikan senyum terbaiknya. Senyum Papa merekah seperti bunga yang baru mekar. Segar sekali dilihatnya. Membuat rasa letihku hilang seketika setelah belajar seharian.

Tak terasa waktu melesat bagaikan anak panah. Cepat sekali. Sekarang sudah 2012. Aku sudah menjadi Mahasiswa dan harus menetap cukup jauh dari rumah. Dengan bijak Papa memberikan izin kepadaku untuk tinggal di kos. Kebijakan ini diputuskan kepadaku agar aku tidak capek dan bisa lebih fokus kuliah.

Dahulu, Papa yang meninggalkan rumah. Sekarang malah aku yang meninggalkan rumah. Sebenarnya aku tidak betah tinggal di kos. Tapi dengan semangat yang aku terima dari Papa, aku kuat menjalani hari-hariku di Depok. Meskipun jarang berkomunikasi, semangat dari Papa sangat kuat. Papa adalah alasan terkuat bagiku untuk melewati tantangan-tantangan hidup yang aku alami.

Bahkan aku menulis nasihat-nasihat dan kata-kata penyemangat dari Papa di karton yang aku tempel di tembok kamar kosku.  Aku tetap merasakan kehadiran Papa di sini. Meskipun tiap berangkat kuliah aku tidak pernah mencium tangan Papa, aku tetap merasakan kasih sayang dan semangat dari Papa.

Hari ini adalah hari ulang tahun Papa. Maafkan aku Papa, aku tidak ada didekatmu ketika hari ulang tahunmu. Maafkan aku Papa, jika aku belum bisa memberikan yang terbaik. Aku di sini masih berjuang demi membahagiakan Papa. Papa sudah sering membahagiakanku. Membahagiakan kami. Aku mengerti kok bahwa roda kehidupan berputar. Saat ini kita sedang berada di bawah. Ini bukan salah Papa.

Kehidupan ini pasti berputar. Aku yakin bahwa suatu saat nanti kehidupan kita pasti akan di atas lagi. Bahkan dengan keadaan yang lengkap. Lengkap dengan Mama, Papa, Adik, Kakak dan aku. Bukankah lebih bahagia jika menikmati hidup bersama keluarga? Lebih bahagia daripada mendapatkan rumah-rumahan Barbie. Lebih nikmat daripada makan durian monthong.

Selamat ulang tahun, Papa. Papaku yang paling tampan dan tetap terlihat muda. Semoga Allah senantiasa melindungimu, melindungiku, melindungi kita. Semoga Papa selalu mendapatkan rezeki yang berkah dan merekah seperti senyum Papa.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: