Skip to content

Jalan Panjang Seorang Ibu

by pada 2 Februari 2013
(keprifoto.com)

(keprifoto.com)

Oleh Wardatul Jamilah

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan,
walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampuku membalas, ibu
Inginku dekap dan menangis di pangkuanmu,
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluti sekujur tubuhku,
Dengan apa membalas ibu

Begitulah syair lagu yang dilantunkan penyanyi legenda Iwan Fals dalam karyanya yang berjudul “Ibu”. Berapa besar pengorbanan seorang ibu untuk anaknya? Ya, tak ada yang dapat menghitung pengorbanan seorang ibu. Sekali pun ia seorang ahli matematika.

Ibu adalah orang yang mempunyai peran penting dalam hidupku, serta keberadaanku di dunia ini. Sembilan bulan aku berada dalam rahimnya. Ia rela mempertaruhkan nyawanya untuk memperjuangkan hidupku. Tugasnya tidak berhenti sampai disitu. Ibu masih harus menyusuiku selama dua tahun dan merawatku hingga aku tumbuh besar.

Ibu, untukku dia lah pelita hidup. Tutur katanya yang lembut, bagai penerang dalam jiwaku. Sentuhan halus dan kasih sayangnya, bagai penyejuk dalam hatiku. Ibu, kau lah anugerah terindah Tuhan yang kumiliki. Tak ada satu kata pun, yang dapat mewakilkan besarnya pengorbanan serta kasih sayangmu.

Seringkali saat ibu membutuhkan bantuanku, aku menjawab “ah.” Bahkan aku sering menunjukkan ketidaksukaanku saat diminta bantuan. Namun, ibu tidak pernah begitu. Ketika aku membutuhkan bantuannya, ia selalu menolongku dengan senang hati. Sikapnya padaku yang lembut, membuatku merasa menjadi anak yang paling berdosa akibat sering menolak bantuannya.

Aku pernah melihat tangis haru ibu di hadapanku. Ketika ulang tahunnya Maret lalu, aku dan adik perempuanku memberikan sebuah bunga buatan kami, yang terbuat dari kertas tisu. Hadiah itu sangat sederhana, bahkan tak ada nilainya, tapi ibu kami begitu bahagia.

Ibu selalu memerima pemberian sekecil apapun dari anak-anaknya. Tapi aku anaknya, selalu saja merasa ibu tak pernah adil padaku. Padahal sebenarnya, akulah yang tak pernah adil pada ibu. Aku hanya bisa menutut hakku, namun,seringkali melupakan kewajibanku sebagai seorang anak.

Ibu pernah meminta bantuanku, menjaga adik perempuanku bernama Salwa. Waktu ibu harus pergi menjaga orangtuanya di rumahsakit. Selama ibu pergi, Salwa sangat membuatku jengkel lantaran sulit diatur. Hingga membuatku menangis, karena tak sanggup menjaganya. Aku teringat ibu, betapa sabarnya beliau setiap hari harus menghadapi berbagai sikapku, adik, dan kakak.

Aku juga pernah melihat ibu menangis, saat memanjatkan doa. Waktu itu, setelah aku bercerita kalau teman-teman mudah meminta apapun yang diinginkan pada orangtuanya. Aku tahu, ibu pasti sedih karena aku. Tapi bukan maksudku menyakiti hatinya.

Ibu, maafkan aku yang selalu membuatmu mengelus dada. Berapa kali kau menangis karenaku? Berapa kali aku mengecewakanmu? Semua janji, yang gagal aku penuhi. Janji yang kuucapkan, hanya sekadar untuk membuatmu berhenti menasihatiku.

Saat kutemukan ibu sedang tertidur pulas di ranjang sederhana miliknya, kutatap lekat-lekat wanita itu. Dalam lelap tidurnya tergambar wajah lelah, yang tak pernah menuntutku memenuhi kewajiban.

Sesekali terdengar tarikan napas panjang, yang menandakan betapa lelahnya ibu. Dan terkadang kulihat ada kerutan-kerutan kecil di dahinya, seolah profesor yang sedang berfikir keras. Aku tahu, ibu pasti masih memikirkan  anak-anaknya. Dalam lelap tidurnya saja, ia masih memikirkan anaknya.

Ibu, betapa panjang perjuanganmu menghidupkan anak-anak yang kau cintai. Namun, aku belum bisa membalas semua pengorbanan yang kau berikan padaku. Berapa banyak waktumu terbuang hanya untuk mendengarkan celotehan, keluhku serta rengekanku. Terima kasih ibu karenamu aku dapat melihat dunia yang indah ini.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: