Skip to content

Mini Novelet: Sepasang Sayap (bagian 3)

by pada 3 Februari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semester. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Dina Lathifa Horman (Pb 3B)

cerpen dina (3)Bagian Ketiga

Malam itu terasa sunyi. Aku sendiri di rumah, sedangkan Mama masih bekerja. Jam dinding menunjukkan pukul 23.30, hampir tengah malam. Karena merasa bosan, aku pun keluar untuk berjalan-jalan.

Suasana kota pada malam hari, memang indah. Gemerlap lampu jalan dan bangunan, mobil yang makin malam semakin memadati jalan raya, dan ramainya para pedagang makanan memenuhi trotoar. Tidak hanya itu, sisi gelap ibukota pun terlihat di mataku. Beberapa ‘kupu-kupu malam’ menghiasi persimpangan jalan, menawarkan diri temani lelaki hidung belang.

Meskipun aku polos, tapi aku tahu hal-hal seperti itu. Teman-temanku dari SMA sampai kuliah, mengajarkanku tentang sisi gelap kota. Sebagian mereka mengajakku, untuk mencoba sisi gelap itu. Namun  sebagian lagi memberitahu, agar aku tahu dan tidak terperosok ke dalamnya. Beruntungnya, aku masih kuat iman dan menganggap semuanya sebagai pelajaran saja.

*******

Aku berjalan melewati para ‘kupu-kupu malam’ itu. Beberapa dari mereka menyapaku dengan genit dan mesra. Aku hanya membalas dengan senyuman dan berlalu.

Seorang ‘kupu-kupu malam’ tengah mencoba menggoda beberapa lelaki yang nakal juga. Ketika kawanan lelaki itu pergi, si ‘kupu-kupu malam’ menoleh ke arahku dan ingin menggodaku juga. Alangkah terkejutnya aku dan dia, saat mata kami bertemu. Wajah ‘kupu-kupu malam’ itu, sangat akrab dalam hidupku.

“Mama! Mama sedang apa di sini?” ucapku dengan suara tertahan.

‘Kupu-kupu malam’ yang kupanggil Mama itu pun tak kalah kaget dan panik melihat kehadiranku di depannya,

“Io, kamu sedang apa di sini?” dia menangkap raut mukaku yang menunjukkan ketidakpercayaan pada dirinya.

Segera dia membela diri, “Io, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, sayang. Percaya sama Mama,” ujarnya dengan memelas. Air matanya seketika mengalir, merusak riasan yang menutupi wajahnya.

“Mama, kenapa?”

Hanya itu yang mampu kukatakan. Sekujur badan bergetar, punggungku pun tiba-tiba sakit sejadi-jadinya.

“Maafkan Mama, Io..” ujarnya lirih, diiringi tangisan.

Beberapa ‘kupu-kupu malam’ dan pejalan kaki terhenti melihat kami berdua. Aku berjalan mundur perlahan, tanpa disadari aku keluar dari trotoar dan menginjak jalan raya. Tiba-tiba saja, sebuah mobil datang dari samping yang melaju dengan cepat ke arahku.

Ciiiiiitttt…!! Brakkk…

“Riooooooo..!!” teriak Mama.

*******

Aku membuka mata, rasanya ringan sekali badan. Aku memandang sekeliling, ada yang aneh dengan punggungku. Rasanya ringan. Aku mencoba menoleh ke belakang, ada sayap! Ada sayap keluar dari punggungku! Akhirnya, setelah menahan sakit selama 10 tahun, sepasang sayap itu keluar dan membawaku terbang.

Lalu aku menoleh ke bawah. Aku terperangah. Mama sedang menangisi jasadku, yang tertabrak mobil. Orang-orang pun mengelilingi Mama, ingin melihat yang terjadi.

Jadi, ini yang Mama maksud mengeluarkan sayap? Artinya, aku sudah meninggal? Seketika, rasa sedih merundung batinku. Aku menyesal, kalau tahu begini jadinya, pikirku. Di bawah sana, terlihat Mama sedang menciumi wajahku, meminta maaf padaku, dan memohon agar aku terbangun.

Aku kembali teringat kejadian, sebelum akhirnya aku meninggal. Akhirnya aku melihat pekerjaan Mama yang sesungguhnya, menjadi ‘kupu-kupu malam’ seperti yang diceritakan teman-teman. Rasanya aneh, karena aku tidak membencinya. Padahal dia mengerjakan pekerjaan yang tak halal, dan diterpa kabar tidak sedap oleh para tetangga.

Saat itu aku merasa terharu dan menyesal. Karena ingin memberiku kehidupan layak, dia bekerja seperti ini. Karena ingin aku bahagia, dia bekerja sebagai ‘kupu-kupu malam’. Karena aku, semua karena aku..

Aku turun ke bawah dan duduk di belakang Mama. Sepasang sayapku memeluk dan menyatukan diriku dan Mama. Meskipun aku sudah tak terlihat lagi, aku membisikkan sesuatu di telinga Mama.

“Mama, terima kasih atas semua pengorbananmu. Maaf, karena harus menghidupiku, Mama bekerja seperti ini. Mulai sekarang, lepaskan sayap kupu-kupu Mama. Jadilah wanita yang dapat bekerja lebih baik, daripada sekarang. Aku akan selalu menyayangimu, Mama.”

Aku segera memeluk Mama dengan kuat, untuk terakhir kali. Lalu meraba punggungnya, tak ada sayap kupu-kupu. Mungkin sudah lepas dari tadi, pikirku.

*******

Segera aku kembali terbang ke langit. Sebelum aku beranjak lebih jauh, aku kembali melihat Mama. Matanya sedang mencari ke sekeliling. Mungkin dia merasakan kehadiranku tadi, pikirku.

Akhirnya, aku pergi kembali ke langit dengan sepasang sayapku. Menunggu saat-saat Mama akan menemuiku. Tentunya dengan sayapnya yang indah, bukan sayap kupu-kupu. (Selesai)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: