Skip to content

Air Mata Papa

by pada 5 Februari 2013
ilustrasi (rumahdinangoi.blogspot.com)

ilustrasi (rumahdinangoi.blogspot.com)

Oleh Sara Agustriana

Ada seseorang yang selalu menunjukkan kehebatannya untuk menutupi kelemahannya. Dia terlihat kuat dan tegar, tetapi saya tahu dia tak sekuat dan setegar kelihatannya. Dia sesungguhnya begitu rapuh dan butuh seseorang untuk mendukungnya.

Dia itu adalah Papa saya, Muchtar Manurung. Ya, itulah yang bisa saya tangkap dari sosok beliau. Dia selalu menunjukkan kepada kami—mama dan saya—bahwa dia adalah sosok pemimpin keluarga yang kuat dan tegar. Dia tidak mau jika orang lain melihat sisi kelemahannya.

Apalagi dengan postur tubuh yang besar dan raut wajah khas Sumatra Utara. Bagi sebagian orang, Sumatra Utara adalah daerah dimana masyarakatnya dikenal memiliki wajah yang galak, suara yang besar, dan hati yang kasar.

Tetapi tidak dengan papa saya. meskipun dia memiliki wajah yang galak dan suara yang besar, tetapi hatinya begitu lembut. Faktor fisik itulah yang dia manfaatkan untuk menutupi setiap kelemahannya.

Bagaimanapun sulitnya kondisi keluarga kami, dia selalu memperlihatkan bahwa dirinya mampu menghadapi  situasi sesulit apapun. Tetapi ada suatu peristiwa dimana saya baru  menyadari bahwa papa tak sekuat keliatannya.

Peristiwa itu adalah saat kami kehilangan seseorang yang begitu kami kasihi. Dia adakah kakak perempuan saya, Ruth. Dia anak pertama dikeluarga kami. Meninggalnya Ruth membuat keluarga kami merasa hancur, terutama papa.

Sosok yang biasanya terlihat kuat berubah menjadi serpihan kaca yang hancur berantakan. Sepeninggalan anak kesayangannya membuatnya seolah-olah tak mampu lagi menjalani hidup ini.

Saya melihat dengan jelas wajah papa yang begitu merasa kehilangan. Papa adalah seorang pria yang anti menangis, tetapi kejadian itu membuatnya tak mampu lagi menahan air matanya.

Saat itu merupakan pertama kalinya bagi saya melihat papa menangis dan kejadian tersebut mampu membuat saya tak bisa berkata-kata. Hati saya juga merasa hancur melihat kesedihan papa. Ingin rasanya memeluk dan memberinya kekuatan.

Sepeninggalan kakak membuat aku menjadi anak satu-satunya. Menerima kenyataan itu membuat papa menjadi lebih perhatian dan protektif terhadapku. Papa selalu berusaha memenuhi semua keperluanku yang tidak sedikit. Aku lihat betapa kerasnya dia bekerja agar anaknya bisa terus sekolah.

Saat kelas tiga SMA, saya ingin sekali melanjutkan pendidikan sampai ke bangku kuliah. Saya utarakan keinginan tersebut kepada papa dan papa menyetujuinya.

Tidak mudah bagi saya untuk lolos ke universitas negeri. Saya mengikuti sepuluh kali ujian agar saya bisa diterima di PTN, tetapi dari semua tes yang saya jalani tidak ada satupun yang memberikan kabar baik. Semuanya gagal.

Ketika harapan terakhir juga memberikan kabar buruk, saya merasa tidak ada lagi harapan untuk saya kuliah karena saya hanya menginginkan kuliah di universitas negeri. Saya menangis menerima kenyataan ini.

Tetapi tangis itu berubah menjadi rasa bersalah ketika papa datang dan memeluk saya. Dia menguatkan saya dengan berkata bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Saya masih bisa mengulangnya tahun depan dan dia akan tetap terus mendukung saya.

Saya benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa memberikannya kabar baik. Saya menangis di pelukannya. Tidak hanya saya yang menangis ternyata papa juga menangis. Itu kedua kalinya saya melihat dia menangis.

Pertama dia menangis karena kakak dan yang kedua dia menangis karena saya. Papa menangis karena ia begitu mengasihi dan mencintai anaknya. Dan saya sangat berharap agar saya tidak melihat papa menangis lagi.

Saya hanya ingin melihat senyumnya. Saya akan berusaha untuk selalu membuat papa tersenyum.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: