Skip to content

Mini Novelet: Hikmah di Balik Cobaan (1)

by pada 6 Februari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semester. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Mutia Avrinanda (Pb 3A)

(palembang.tribunnews.com )

(palembang.tribunnews.com )

Bagian Kesatu

Kulihat bayanganku dalam cermin. Aku merasa begitu bahagia, dengan kehidupanku yang berkecukupan saat ini. Aku bisa bermain dengan teman-teman sebayaku. Pergi ke mall, belanja dan melakukan kegiatan menyenangkan lainnya. Ya, Papa begitu baik terhadapku. Ia selalu membelikan barang bagus untukku. Papa juga selalu memberikan uang yang tidak sedikit. “Sudah kamu tabung saja duitnya, kalau lebih,” kata Papa.

Lalu, dering telepon menyadarkanku dari lamunan. Ternyata sahabatku Angel yang menelepon.

“Halo, kenapa, Ngel?”

“Eh, kita ke mall, yuk? Ada diskon di Metro, tuh.”

“Hmm.. boleh, deh, gue juga bosen, nih, di rumah.”

“Oke, ketemuan di PS, ya.. Bye.”

“Oke, see you, bye,” kataku mengakhiri telepon.

Sesampainya di mall, kami makan di salah satu restoran. Setelah itu, kami langsung mengunjungi Metro dan memilih baju yang bagus. Bagi anak seusia kami yang masih ABG, belanja merupakan hal yang dapat meringankan beban pikiran. Sesudah puas berbelanja, kami naik taksi dan pulang ke rumah masing-masing.

Saat di rumah, aku sudah ditunggu Papa, Mama, dan adikku untuk makan malam bersama.

“Masakan Mama emang paling juara, deh,” pujiku.

“Kamu bisa aja, deh, Ren. Kan Mama membuatnya pake cinta,” jawabnya seraya tertawa tanpa suara..

Seluruh keluargaku pun ikut tertawa, mendengar jawaban Mama.

“Ah, Mama bisa aja,” kata Papa.

Setelah selesai makan, kami berkumpul di ruang keluarga dan saling bercerita. Pukul 9 malam, satu persatu beranjak tidur. Esok, saat pagi menjelang, kami pun sarapan bersama.

Papa selalu mengantarkan kami ke sekolah dengan mobil. Aku dan adik berada di satu kompleks sekolah, aku SMA dan adikku SMP. Kami senang, karena Papa selalu meluangkan waktu mengantar kami sebelum bekerja.

*******

Itulah gambaran kecil kebahagiaanku, saat Papa belum jatuh sakit. Hari-hariku yang dulu, berubah 180 derajat. Dulu, aku suka pergi ke mall dengan teman-teman dan tidak pernah belajar serius.

Namun sekarang, aku harus membayar sendiri biaya sekolah dan pengobatan Papaku. Aku mulai belajar dengan serius dan giat, agar mendapatkan beasiswa untuk kuliah. Aku juga mulai mencari pekerjaan, untuk meringankan beban kedua orang tuaku dan membantu biaya sekolah adikku.

Waktuku bermain dengan teman-teman tidak seperti dulu lagi, bahkan tidak pernah lagi bermain. Aku hanya belajar dan bekerja mencari tambahan uang. Barang-barang di rumahku sudah tidak penuh seperti dulu, sebagiannya telah dijual untuk membayar sekolah.

Perhiasan Mama juga dijual untuk membayar biaya rumah sakit. Tabungan Papa makin menipis, karena jantungnya semakin parah. Perusahaan Papa ditutup, karena pailit. Mama mencari pekerjaan serabutan, demi menambah uang yang tersisa.

*******

Tuhan memang Maha Penolong. Di saat sulit seperti itu, aku mendapat bantuan ikut berbisnis dengan rekanku. Aku mulai bekerja setelah pulang sekolah. Pagi sekolah dan malam bekerja. Tidak peduli hujan dan panas yang aku rasakan. Di pikiranku, hanya ingin Papa bisa sembuh dan sehat kembali.

Setelah bekerja, aku belajar untuk sekolah esoknya. Tak peduli kantuk yang dirasakan. Begitu seterusnya, sampai pengumuman beasiswa itu ditempel di mading sekolah.

Aku mendapatkan beasiswa penuh di universitas swasta ternama. Hingga lulus Sarjana, tak perlu lagi mengeluarkan biaya. Aku sangat bahagia dan langsung memberitahukan kedua orangtuaku. Mereka tersenyum bangga dan bahagia.

Saat kelulusan tiba, aku menjadi juara umum di sekolah karena prestasi yang gemilang. Lelah dan sedih seakan terbayar sudah, dengan yang aku raih. Aku melihat air mata mengalir di pipi Mama, saat naik ke atas panggung menerima penghargaan. Kebahagiaan begitu merasuk dadaku.

Namun, Papa tidak dapat menghadiri kelulusanku karena masih terbaring di rumah sakit. Akan tetapi, aku yakin Papa pun merasakan kebahagiaan itu dan ia bangga kepadaku. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: