Skip to content

Proses Optimalisasi Diri yang Tidak Bebas Nilai (1)

by pada 6 Februari 2013

Pengantar: Barangkali, tulisan ini (Reblogged dari Majalah Amanah Online), dapat dipelajari kelebihannya sebagai latihan kita. Tema ini menarik karena tujuan pendidikan kini cenderung tak berpijak pada dunia nyata, karena itulah perlunya upaya pembenahan tenaga pendidik. Mungkin mau ditanggapi dan kasih komentar? Silakan dan semoga manfaat,

Dr. Amie Primarni

Dr. Amie Primarni

Oleh DR. Amie Primarni

Berangkat dari paradigma pendidikan holistik, perbedaan yang mendasar dari pendidikan holistik dalam perspektif Barat dan dalam perspektif Islami adalah landasan filosofis dan nilai agama di dalamnya.

Pada perspektif Barat, pendidikan holistik melandasi dan mengacu pada filsafat humanisme dengan manusia menjadi sentral. Sementara dalam perspektif Islami, pendidikan Holistik melandasi dan mengacu pada Tauhid, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi sentral.

Dimulai dari Spiritual

Dalam pendidikan Holistik Islami, ditemukan empat aspek penting yang menjadikan pendidikan mampu mengembangkan manusia sesuai tujuan pendidikan Islami. Dalam pendidikan Islami manusia terdiri atas empat elemen, intelektual, emosi, inderawi-fisik, dan spiritual.  Tiap-tiap elemen ini memiliki sisi-sisi yang harus dikembangkan.

Daya Emosi adalah perpaduan keseimbangan kesadaran diri dan kesadaran sosial, yang bertumpu pada kecerdasan spiritual. Puncak Daya Emosi adalah Spiritualitas

Daya Pikir, adalah kemampuan optimum dari berfikir linear, asosiatif dan integral. Puncak dari berfikir intelektual adalah berfikir integral atau holistik.

Daya Fisik atau kematangan fisik, dapat optimum, jika memperhatikan asupan makanan yang bergizi, thoyib, dan halal. Puncak dari kebaikan perkembangan fisik adalah kehalalan.

Jika ke empat elemen ini menyatu dalam sebuah limas, akan diperoleh segitiga yang menyatukan ketinggian setiap elemen. Daya Spiritual akan menyatu dengan daya pikir integral dan menyatu dengan daya fisik optimum.

Sebagai ilustrasi kondisi ini dapat dikatakan, mata secara fisik dapat menginderai yang serba nyata, dan dengan daya spiritualitas dapat merasakan yang tak terinderai. Telinga dapat mendengar secara fisik, dan dengan daya spiritualitas dapat merasakan yang tak terinderai. Jika demikian bangunan elemen manusia, maka pendidikan Islam haruslah memiliki kerangka yang mampu membangun tubuh dan jiwa manusia agar dapat tegak berdiri seperti di atas.

Jika elemen spiritual merupakan tujuan akhir pengembangan optimum manusia, maka bangunan kerangka pendidikan Islami harus dimulai dari elemen spiritual. Dengan demikian, bangunan kerangka pendidikan Islami harus dimulai dengan  limas terbalik, hal ini disebabkan spiritual merupakan fondasi awal yang harus dibangun sebelum elemen lain ditambahkan..

Maka Pemikiran Syed Naquib Al-attas dimulai dari pemikiran, proses pendidikan harus dimulai dari individu-individu. Hal ini berkaitan dengan pertanggunganjawab individu di hadapan Allah SWT. Kebodohan atau ketersesatan manusia berkembang dari kekeliruan cara pandang manusia terhadap diri manusia itu sendiri, yang membuatnya menjauh dari hakikat kebenaran.

Naquib Al-Attas mengingatkan, untuk mengecek ulang cara dan corak pandang manusia yang telah salah dalam mempersepsi manusia itu sendiri, sehingga akan terjadi perusakan diri manusia oleh manusia sendiri. Naquib membebaskan manusia dari mitos, dan mitologi yang mempengaruhi pemikiran. Bagi Naquib, membebaskan adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju pencerahan, dari yang mati kepada yang hidup. Sebab manusia terdiri atas jiwa, raga dan ruh.

Menemukan Kebenaran Final

Penemuan-penemuan di atas, dapat digunakan untuk mengkaji lebih jauh tentang kesadaran Barat terhadap dunia pendidikan. Antara lain sebagai berikut :

    1. Pendidikan bukanlah proses robotisasi otak – akal rasional semata
    2. Pendidikan bukanlah mekanisme copy paste – sehingga hilang kreativitas
    3. Kebenaran ilmiah tidak mutlak – tetapi belum mengetahui dengan cara apa kebenaran dapat ditempuh.
    4. Pendidikan tidak dirasakan memanusiawikan manusia. Pendidikan bagaikan menghasilkan manusia-manusia cerdas yang kering, dan kaku serta bersifat materilistis.

Keberhasilan hanya diukur dari material.

Sampai sejauh ini, Barat belum memiliki kesepakatan tentang konsep pendidikan yang terintegrasi. Sebab bagi mereka pendidikan hanyalah masalah transfer pengetahuan belaka. Problem yang disebabkan kegagalan pendidikan hanya diselesaikan oleh sistem ekonomi negara, dengan memberi bantuan subsidi bagi para lulusan sarjana yang tidak atau belum tertampung di bursa-bursa kerja.

Orientasi belajar –bekerja bukan belajar – berkarya, menjadi salah satu indikasi bahwasanya output pendidikan masih terbatas kemampuannya untuk memberi keleluasan siswa dalam memilih yang diminati atau disukainya. Artinya, seharusnya pendidikan mampu memberi bekal yang cukup pada siswa untuk memiliki banyak kemampuan pilihan, apakah bekerja atau menjadi entrepreuner.

Barat[1] menyadari manusia adalah mahluk yang sekaligus bersifat fisis, biologis, psikologis, kultural, sosial dan historis. Kesatuan kodrat manusia yang kompleks ini terpecah-pecah akibat pendidikan yang terkotak-kotak ke dalam berbagai disiplin ilmu. Oleh karenanya, kini kita tidak dapat lagi belajar apa artinya menjadi manusia. Manusialah penghubung antara kesatuan dan keberagaman dari semua hal.  Perbedaannya dalam pandangan Islam adalah menempatkan Allah SWT sebagai penyatu, sehingga kebenaran dapat ditemukan dan bersifat final, benar dan baik menurut Allah SWT. (Bersambung)

============================================================================================

Daftar Pustaka

[1] Edgar Morin  Tujuh Materi Penting, bagi Dunia Pendidikan, Kanisius, hal 15.

[2] Syed N. M. Naquib Al-Attas, The Concept of Education In Islam, A framework for an Islamic Philosophy of Education, Kuala Lumpur, 1999, ISTAC. Hal ix

[3] Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed M Naquib Al-attas, An Exposition of The Concept of Islamization ,1998, ISTAC.

[4] Tauhid Islam bukan sebatar pernyataan dengan lisan, dan bukan juga sebatas konsep filosofis mengenai hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ia adalah kekuataun revolusi yang dengan segala potensinya akan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesuatu yang lain. Pengakuan hanya terhadap keesaan dan ketuhanan Allah swt semata, aka menjadikan keimanan kepada Allah swt sebagai spirit yang mengalir dan kekuatan yang mengarahkan segala perbuatan manusia, sehingga segala kreasi dan inovasi manusia yang baik dalam bidang apapun merupakan shalat yang khusyu’ di mihrab kosmos terhadap Tuhan yang menciptakan dan menjaganya.  Tauhid Islam pada dasarnya mempunyai kandungan falsafah yang istimewa karena ia menghubungkan antara manusia dengan Sang Pencipta dan juga dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan oleh Allah swt dan mereka adalah wakil-Nya yang ditugaskan untuk membangun alam sesuai dengan tujuan-tujuan syari’at – kontrak dan perjanjian sebagai wakil. DR. Muhammad Imarah, Manhaj Islami, hal 8-9.

[5] Muhammad Imarah, Manhaj Islami, AlGhuraba, Jakarta, 2008, hal 8

============================================================================================

DR. Amie Primarni adalah Pemerhati Pendidikan yang bekerja sebagai Dosen dan Konsultan Pendidikan

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: