Skip to content

Hiperbolisme Isu Bola Salju

by pada 8 Februari 2013
Azhmy F Mahyddin

Azhmy Fawzi My

Oleh Azhmy Fawzi My

Teori ‘Bola Salju’ ternyata benar adanya. Tresnawati tersenyum. Baru saja ia mendengar gunjingan tetangga tentang sikap pak Ricky, yang menjawab ketus saat terpergok membeli bensin premium untuk BMW 520 i miliknya di SPBU cukup jauh dari kompleks perumahan mereka. Padahal bu Rochim sekadar menyampaikan say hello, menurut bu Fitni yang memang tengah mendampingi bu Rochim berbelanja dan cuci mata.

Bu Fitni pun kemudian menceritakan kembali kronologi kejadian kepada ibu-ibu yang sedang merubung tukang sayur. Dengan ‘Semangat 45’ yang dimiliki para penggosip, ia memanfaatkan keingintahuan bergosip dari para ibu yang masih ‘sibuk’ menawar sayuran.

“Jeng, wah kemarin seru deh. Mosok pak Ricky ngotot ketika kami sapa di SPBU. Heran, kenapa ya?” ujar Bu Fitni membuka percakapan.

Lho, emang kenapa? Lagi berantem kali sama istrinya. Bu Ricky kan tukang ngatur, cerewet lagi. Pantes, deh..” sahut bu Welly sigap, meski tangannya sibuk memilih tomat.

“Iya, memang. Waktu arisan bulan lalu saja, dia sendiri yang sibuk atur-atur. Semua serba dikomentari, padahal yang ketempatan arisan kan bukan dia. Untung bu Istiqomah sabar dan pengertian, jadi tidak sampai timbul masalah,” jawab mbak Jayus menimpali.

“Mungkin juga, ya. Tapi waktu itu sebenarnya saya dan bu Rochim kaget juga. Wong cuma ditanya, beli bensinnya banyak pak.. eh pak Ricky langsung marah,” tukas bu Fitni mengembalikan tema pembicaraan, takut obrolan melebar tak karuan.

“Terus? Pak Ricky jawabnya apa?” selak Tante Icam tergesa, sampai menjatuhkan sebungkah kol akibat tersenggol sikunya.

“Ketus. Dia bilang, ini kan hak semua rakyat, meski ada aturan yang membatasi siapa pun untuk membeli premium. Saya kan rakyat juga, terserah saya mau beli banyak atau sedikit. Apa saya salah? Pemerintah dong yang salah, kenapa hanya himbauan, bukannya berupa aturan hukum untuk membatasi penggunaan BBM bersubsidi.” jelas Bu Fitni, mengulang jawaban pak Ricky dengan seksama.

Meski Tres –begitu panggilan akrab Tresnawati– diam saja, tetapi pikirannya sibuk menyahut. Kalau mereka yang kaya semua bersikap begini, hancurlah Negara. Untuk urusan harta, mereka tak ragu menyerobot jatah rakyat jelata. Keserakahan membutakan etika dan menghinakan diri. Duh, ini pemafaatan isu demi nafsu..!!

*******

Tres menyadari nafsu merupakan sifat alami manusia, yang jika tidak dikendalikan akan membuahkan kepedihan. Seperti contoh di atas, keserakahan pak Ricky atas selisih harga premium dan pertamax yang sedikit –untuk ukuran dirinya yang memiliki mobil sekelas BMW—cukup mampu memutuskan urat malunya dan berkilah dengan alasan yang salah. Sehingga yang dipersoalkan adalah haknya sebagai rakyat, bukan pemahaman tentang penderitaan rakyat jelata atas kesulitan hidup mereka. Menyedihkan, memang.

Ya, banyak orang yang menanggapi sebuah persoalan hanya sebatas permukaan. Yang lebih menyedihkan, ‘cuplikan’ persoalan itu –yang seringkali menjadi sekadar isu– kemudian dibesar-besarkan. Bagai bola salju kecil yang digelindingkan dari puncak bukit es, kian ke bawah makin membesar hingga ketika sampai di kaki bukit bola salju sanggup menghancurkan sebuah pondok. Begitu pula isu dari bahasan persoalan yang mengemuka, cenderung malah menutup intisari persoalan sebenarnya yang jauh lebih penting.

Terlebih rakyat Indonesia yang cukup dikenal sebagai masyarakat easy going. Yang bukan dalam arti membuat mudah persoalan, tetapi menganggap mudah segala persoalan. Ngentengke, begitu istilah dalam bahasa Jawa ngoko menyebutnya dengan lebih tepat.

Apa yang salah dalam kultur Indonesia, begitu pikir Tres mencoba menguraikan satu persatu yang mungkin menjadi penyebab. Apa akibat mental jajahan, sehingga cenderung minder dan memilih yang mudah saja dan inginnya instant? Atau keterbatasan pendidikan pada rakyat kebanyakan, sehingga tak tak berani mengemukakan pendapat yang menentang agar ‘selamat’? Atau naluri dasar manusia yang egois sehingga menutup kemauan berpikir analitis? Ah..

*******

Begitulah. Saat menyimak tayangan berbagai kasus yang tengah ramai diberitakan saat ini, sungguh membuat asumsi orang Indonesia yang suka membesar-besarkan ‘cuplikan’ masalah kian tergambar nyata.  Tres tak habis pikir, kasus-kasus yang melibatkan selebritis  –baik dari pekerja seni maupun partai– mampu menutup penuntasan kasus-kasus korupsi besar yang melibatkan orang-orang “besar” seperti Century dan Hambalang.

Memikirkan hal itu, Tres jadi teringat Firman Allah SWT dalam Surah Adz-Dzaariyaat (51) ayat 8-11 yang artinya: “Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al-Qur’an) orang-orang yang dipalingkan. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang  terbenam dalam kebodohan lagi lalai..

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: