Skip to content

Mini Novelet: Hikmah di Balik Cobaan (2)

by pada 8 Februari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semester. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Mutia Avrinanda (Pb 3A)

(ecc.ft.ugm.ac.id )

(ecc.ft.ugm.ac.id )

Bagian Kedua

Awal masuk kuliah berjalan lancar. Aku juga memiliki teman yang baik dan mau membantu. Namanya Lara, ia seperti sahabatku Angel yang dulu. Meskipun sekarang kami terpisah jarak dan berbeda kampus, kami masih berkomunikasi.

Aku bekerja part time, pagi harinya kuliah lalu sore hingga malamnya bekerja. Tak ada waktu untuk bermain, layaknya teman-temanku yang lain. Mereka bisa jalan ke mall, pergi dengan pacar dan bisa berbelanja. Di saat inilah aku membutuhkan teman seperti Lara. Ia selalu menemani di saat aku  membutuhkannya.

“Ra, tolongin gue dong,” kataku saat di kelas.

“Tolong apaan, Ren?” jawabnya.

Lo ada channel nggak buat bantu bisnis gue? Pengen dapat uang, supaya bisa nyembuhin Papa,” kataku sambil berlinang air mata.

“Coba aja tawarin sodara-sodara gue, Ren. Nanti gue kasih nomor handphone sama alamatnya. Jangan sedih gitu.. Kalo ada apa-apa, cerita aja sama gue, Ren. Kita kan teman dan teman harus saling bantu,” hiburnya.

“Iya, Ra. Makasih banget, ya. Lo memang teman gue yang paling baik, hehe.. Walaupun kita belum kenal lama.”

“Iya, Karen, sama-sama. Jangan sungkan, ya. By the way, gimana Papa lo, Ren?”

“Papa makin kritis Ra, gue bingung cari uang kemana lagi. Perhiasan Mama udah dijual semua, penghasilan gue nggak bisa sepenuhnya bantu buat Papa berobat. Setengahnya, kan, buat biaya adik gue sekolah.”

“Ya, sudah, Ren. Berdoa aja dan terus berusaha. Pasti Tuhan akan bantu kita, karena Tuhan nggak pernah tidur. Ada hikmah di balik setiap cobaan Ren.”

“Iya. Ra. Gue akan selalu usaha. Doain gue, ya, Ra. Semoga Papa cepat sembuh.”

“Karen.. lo nggak minta, juga gue doain, kok. Lo, kan, temen baik gue,” lalu kami saling berpelukan.

*******

Aku pulang malam hari, setelah lelah bekerja. Perutku lapar sekali, karena tidak terisi makanan sejak pagi. Namun, uangku tak cukup untuk membeli makanan. Di meja makan juga tidak ada makanan. Mama dan adikku sedang menunggu Papa di rumah sakit. Aku tidak tega, kalau meminta uang untuk makanku malam ini.

Akhirnya aku hanya minum air putih yang banyak, agar rasa laparku berkurang. Aku duduk di meja makan, tanpa sadar air mataku mengalir. Teringat dulu, saat kami makan malam bersama di meja makan dengan makanan yang lezat. Akan tetapi, kondisiku sekarang berubah drastis tidak seperti dulu, saat Papa masih sehat. Aku berdoa, supaya Tuhan memberikan aku kekuatan dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan.

 Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Saat aku lihat di layar, tertera nama Mama. Seketika, aku merasa hatiku tidak enak. Lalu, aku langsung mengangkat teleponnya.

“Halo Ma, ada apa?”

“Karen kamu cepat ke rumah sakit, sekarang juga. Papa kamu kritis, Nak. Mama nggak tau lagi, harus berbuat apa.. Kata dokter, Papa harus masuk ICU,” kata Mama dengan panik.

“Iya, Ma. Aku ke rumah sakit sekarang juga.”

Klik, telepon ditutup. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: