Skip to content

Cinta dan Makanan

by pada 9 Februari 2013
(rianbelajar.blogdetik.com )

(rianbelajar.blogdetik.com )

Oleh Risa Anandita

Bertemu dengan ibu sehabis pulang kuliah merupakan hal yang paling menentramkan hati. Lelah lamanya perjalanan tak terasa, saat sampai di rumah dan mencicipi masakannya.  Itulah alasannya, mengapa saya tidak pernah berniat untuk kost seperti halnya mahasiswa lain.

Tangan ibu yang ku cium saat sepulang kuliah selalu sama seperti sentuhannya saat aku masih kecil, penuh cinta. Tangan yang memanjakan anak-anaknya dengan masakan dengan ciri khas pedasnya. Tangan yang memanjakan anak-anaknya dengan gula yang ia tuang sedikit di gelas ukuran besar.

Ya, itulah ibuku yang dinikahi ayahku tahun 1992. Melahirkan ku setahun setelah menikah, melahirkan untuk kedua kalinya pada 1996, dan melahirkan kembali di tahun 2003. Mempunyai tiga anak dirasa cukup untuk ibuku karena telah hadir anak lelaki di antara para ‘dewi-dewi’nya.

Saat pulang ke rumah, hal yang ditunggu kami para anak-anaknya adalah masakannya. Daging goreng pedas khas Manado, ayam bumbu woku, ikan cakalang pedas, tumis kangkung, bahkan hanya sekedar tempe goreng tepung khasnya pun selalu kami tunggu. Tentu saja tetap dengan rasa pedas ciri khasnya.

Ibuku orang Sunda, namun masakannya selalu condong ke masakan Manado karena rasa pedas yang disukai oleh anak-anaknya. Sekalipun masakannya manis, entah mengapa rasanya tetap enak padahal ia pernah berkata bahwa ia tidak suka memasak.

Di perkumpulan ibu-ibu rumahku saja, ia selalu menjadi ‘juru masak’ bahkan hanya sekedar Sayur Asem pun selalu ia yang diminta untuk memasakanya. Baginya, kemampuan memasak tumbuh karena anak-anak. Ia tidak mungkin membekali anak-anaknya makanan hanya satu jenis setiap harinya.

Tak heran, Rasulullah saja menyebutkan ibu sebanyak tiga kali saat ditanya tentang siapa yang berhak untuk memperoleh perbuatan baik kepadanya. Ibu memang menyimpan sejuta kebaikan, bahkan di dalam hal kecil seperti makanan.

Bagi setiap anak, cinta ibu bisa ditemukan dibalik masakannya. Pulang ke rumah setiap hari dan bisa menikmati makanan ibu dapat memperbaiki keadaan hati. Percaya atau tidak, masakan ibu memang menyimpan rasa tersendiri

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: