Skip to content

Mini Novelet: Hikmah di Balik Cobaan (3)

by pada 10 Februari 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan semester. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran..

Oleh Mutia Avrinanda (Pb 3A)

(goldituemas.wordpress.com )

(goldituemas.wordpress.com )

Bagian Ketiga

Sampai di rumah sakit, aku melihat Papa terbaring tak berdaya di tempat tidur. Mukanya pucat pasi dan pipinya semakin cekung. Ia tidak segagah dulu lagi. Lalu dokter memberitahukan kalau Papa harus masuk ke ruang ICU, karena kondisinya yang semakin memprihatinkan. Biaya administrasinya juga harus dipenuhi, saat itu juga.

Mama menangis, karena tidak tahu harus berbuat apa. Adikku berusaha menenangkan Mama. Aku ikut menangis, karena tidak bisa membantu Papa di saat seperti ini. Uang tabunganku pun tak mencukupi untuk biaya Papa. Aku mencari bantuan untuk membayar sisanya. Aku berdoa kepada Tuhan, agar Ia menolongku. Akhirnya aku menelepon kakak Papa, yang kami panggik Om Kris.

 “Halo, Om ini aku, Karen,”

“Iya, ada apa, Ren? Kok, suaranya panik, gitu?”

“Om, tolong kami. Papa masuk ICU. Kami tidak cukup biaya membayarnya, tabunganku tak menutupi semuanya. Aku bingung, harus minta tolong kemana lagi, Om. Kalau Om bersedia, aku mau meminjam uang untuk biaya ICU. Nanti kalau sudah ada uang, aku akan ganti, Om.”

“Iya, Ren. Om, kan, kakak Papamu. Pasti akan Om bantu. Om akan ke sana sekarang bersama Tante, kamu tunggu di sana saja.”

“Baik Om, terima kasih banyak. Hati-hati di jalan, Om.”

“Iya Ren, sama-sama. Oke. Om akan siap-siap ke rumah sakit.”

Telepon ditutup.

*******

Om Kris sampai di rumah sakit. Ia langsung membayar semua biaya Papa.

“Om, kok,  dibayar semua? Sisanya saja, uangku cukup untuk bayar setengahnya.”

Nggak apa-apa, Ren, kamu simpan saja uang kamu untuk keperluan yang lain. Biar Om yang bayar semuanya, kamu juga tidak perlu menggantinya. Om ini kakak papamu, sama saudara sendiri mosok hitung-hitungan. Sekarang yang terpenting, kita berdoa untuk kesembuhan Papamu, Ren.”

“Terima kasih banyak, Om sudah mau membantu kami. Iya. Om, aku selalu berdoa untuk Papa.

Dalam hati aku bersyukur kepada Tuhan. Terima kasih Tuhan, kau telah menolongku di saat-saat sulit seperti ini. Aku percaya, kau tak akan memberikan ujian kepada kami, kalau kami tidak sanggup memikulnya.

Namun, ujianku dari Tuhan belum berakhir. Selang beberapa lama Papa masuk ICU, kondisinya tidak semakin baik. Malah semakin memprihatinkan. Aku terpaksa izin tidak masuk kuliah, untuk menjaga Papa. Terkadang bergantian dengan adik, jika aku mau bekerja.

Saat di kantor, aku mencoba fokus. Namun, pikiranku terpaku pada kondisi Papa. Aku menangis di meja, tidak kuat untuk menahan beban yang demikian berat. Akan tetapi, Tuhan memang adil. Tiba-tiba, atasanku menghampiri. Ia menyampaikan, kalau aku naik jabatan dan menjadi pegawai terbaik. Uang hasil kerjaku, juga sudah dikirimkan ke rekening.

Aku terkejut dan tak sanggup berkata apa-apa. Aku hanya berterima kasih kepada atasanku atas kebaikannya. Lalu, aku pergi ke rumah sakit untuk menyampaikan berita bahagia ini. Namun, sesampai di rumah sakit, aku melihat Mama dan adikku sedang duduk di luar kamar. Mereka menangis tersedu-sedu. Saat aku tanya ada apa, mereka bilang kondisi Papa semakin menurun. Bahkan dokter bilang, umurnya hanya sebentar lagi. Aku langsung terkulai lemas di sebelah Mama. Ia langsung memelukku dan kami menangis dalam duka.

*******

Esok harinya, aku berkata pada Papa yang masih tak sadarkan diri.

“Pa, jika memang ini jalan Tuhan, aku ikhlas melepas Papa. Aku sangat mencintai Papa, bagaimana pun kondisi Papa.”

Tiba-tiba aku merasakan badan Papa dingin dan sulit bernapas. Aku segera memanggil dokter. Aku menunggu di luar kamar bersama mama dan adik. Kami menunggu dengan cemas. Tak beberapa lama, dokter keluar ruangan. Ia menyatakan, nyawa Papa tidak tertolong lagi.

Bagai disambar petir saat mendengar kabar itu. Papa yang kucintai telah tiada. Kami langsung masuk ke ruang ICU dan melihat Papa terbujur kaku. Mama langsung memeluk Papa yang sudah tak bernyawa. Ruangan diselimuti duka atas meninggalnya papa.

Aku berusaha mengikhlaskan kepergiannya. Begitu juga Mama, adik, serta saudaraku yang lain. Kami mengantarkan jenazah Papa ke pembaringannya yang terakhir. Aku mencoba tegar dan tabah. Kulihat wajah Mama, ia sosok wanita yang kuat. Mama berusaha mengikhlaskan kepergian suami yang sangat dicintainya.

*******

Beberapa tahun setelah kematian Papa, aku tumbuh menjadi wanita yang dewasa dan matang. Aku menyelesaikan kuliahku dengan lancar dan mendapatkan predikat cumlaude. Karierku terus menanjak, walaupun umurku belum 25 tahun. Biaya hidup Mama dan adik, aku penuhi. Aku sudah bisa membeli rumah dan kendaraan pribadi sendiri.

Bahkan, aku mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan ke Eropa gratis, karena prestasiku di kantor. Tuhan memang selalu punya jalan lain, karena kita tidak tahu di setiap cobaan akan ada hikmah yang besar.

Benar pepatah yang mengatakan, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kini, aku merasakan kebahagiaan kembali, walau tanpa paPa di sisiku.. (Selesai)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: