Skip to content

Melantunkan Pesan Moral Dalam Musik

by pada 28 Maret 2013

Oleh Yulida Medistiara

(mengenalbudayajawa.blogspot.com)

(mengenalbudayajawa.blogspot.com)

Fenomena musik di tanah air saat ini, sudah mengubah paradigma pendengar musik di seluruh tanah air. Diawali demam K-Pop maupun lagu barat yang artisnya menunjukan perilaku hedon, musik pop yang selalu bertema cinta, galau, dan move on. Semuanya itu mulai mendoktrinisasi generasi muda saat ini.

Musik hampir setiap saat bisa didengarkan masyarakat. Perkembangan teknologi informasi  yang sangat berkembang memudahkan akses setiap orang, misalnya melalui media televisi, radio, maupun menonton video musik lewat internet. Namun, musik yang berkembang di Indonesia saat ini sudah jarang sekali mampu mendidik pendengarnya. Tidak lagi membahas tentang kehidupan sosial budaya, tetapi malah musik sekarang melunturkan moral bangsa.

Musik dangdut yang identik dengan goyangannya yang seronok, juga dengan bermunculannya girlband dan boyband yang justru malah mengikuti ciri khas musik negara lain. Saat ini, jarang pemusik yang nasionalismenya besar serta peduli akan kemerosotan moral bangsa.

Band metal indie –yang merupakan adaptasi dari band metal luar negeri– menjadi kegemaran sendiri bagi kalangan tertentu. Di sisi lain, aliran yang diminati sebagian pemuda Indonesia ini juga menularkan kebiasaan negatif para musisi band metal, semisal mabuk-mabukan. Sebenarnya hal ini tergantung individu masing-masing, mudahkah ia terpengaruh atau dapatkah mem-filter yang baik maupun yang buruk.

Ironis, memang. Di mana musik tradisional, lagu nasionalisme, lagu daerah, serta lagu khusus anak-anak? Sepertinya, saat ini sudah tidak lagi diminati masyarakat. Kurangnya publikasi mengenai lagu-lagu tersebut, juga sebagai faktor utama. Tidak seperti zaman dulu, ketika masih sering terdapat iklan dan lagu anak-anak di televisi. Kini, banyak anak kecil yang malah lebih berminat kepada aliran musik dewasa.

Padahal, generasi muda saat ini diharapkan ada yang bisa mengikuti jejak Iwan Fals, si penyambung lidah rakyat. Lirik-lirik lagu Iwan Fals sangat merakyat dalam mengkritisi kehidupan melalui karyanya. Entah mengapa kekuatan musik belum sepenuhnya dipergunakan para musisi sebagai sebuah inovasi baru, agar para penikmat musik dapat mendapatkan manfaat dari karya mereka.

Jika pemusik dapat memberikan efek positif bagi para penikmatnya, akan memacu penikmat musiknya untuk tetap berfikir positif dan bertindak sesuai pesan moral lagu yang dibawakan oleh penyanyi favoritnya. Maka tak jarang seorang pemusik akan tetap setia berada di hati penggemar setianya, jika saja pemusiknya sadar betul yang ia perdengarkan untuk mayoritas anak muda.

Maraknya plagiat musik membuktikan pemusik hanya mencari keuntungan, tanpa memikirkan pesan moral kepada penikmatnya. Tahu-tahu mereka naik popularitasnya, akibat ‘mengadopsi aransemen penyanyi lain. Benarkah perilaku ini, secara moral?

Kesadaran masyarakat Indonesia tentang pembelian album yang asli, bukan bajakan, masih minim. Padahal bagaimana kita bisa memajukan industri musik sendiri, kalau masih ada saja masyarakat yang membeli keping bajakan?

Kembali pada kualitas musiknya, kalau karyanya bagus pasti akan banyak yang mau membeli keping aslinya. Tetapi kalau memang genre yang diminati anak muda –seperti boyband— tolong fikirkan juga pesan moral yang akan didapat pendengar.

Ada pula musisi rock Indonesia yang peduli akan nasib anak bangsa, dengan lirik lagu yang menyerukan larangan mendekati narkoba. Meski pun begitu, masih sangat sedikit musisi yang mampu memberikan makna dan pesan moral yang bagus.

Anda kah?

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: