Skip to content

Cerpen: Cinta Seorang Suami (1)

by pada 30 Maret 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(arikellu.blogspot.com)

(arikellu.blogspot.com)

Oleh Ayu Apriliyanti

Aku membencinya. Itulah yang selalu kubisikkan dalam hati, hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suami sendiri.


Meskipun membencinya, aku tak pernah menunjukkan dalam sikap. Hal ini akibat kami terpaksa menikah, kendati setiap hari aku tetap melayaninya sebagaimana tugas seorang istri. Ya, aku melakukan semuanya semata karena aku tak punya pegangan lain.

Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya, tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan dari siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayanginya, karena menurut mereka suamiku adalah sosok sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

*******

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hati. Suamiku juga memanjakan sedemikian rupa. Sungguh, aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri.

Aku selalu bergantung padanya, karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidup padanya, sehingga tugasnya lah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suami. Aku tak suka, handuk basah yang diletakkannya di tempat tidur. Aku sebal, melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket.

Aku benci ketika ia memakai komputerku, meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah, kalau ia menggantung bajunya di kapstok bajuku. Aku juga marah saat ia memakai pasta gigi, tanpa memencetnya dengan rapi. Aku marah jika ia menghubungi hingga berkali-kali, ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-teman.

*******

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam, sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokter pun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kebencian makin bertambah setelah ternyata aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit.

Seusainya, aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku, karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

*******

Waktu berlalu tak terasa, hingga anak-anak berulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi di hari-hari sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah.

Hari itu, ia mengingatkan peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan, tanpa mempedulikan kata-katanya. Ia sempat menceritakan ulang peristiwa tahun sebelumnya, saat aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yah, karena merasa terjebak dengan per-kimpoi-anku, aku jadi membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipi saja yang kemudian diikuti anak-anak. Tetapi hari itu ia juga memelukku, sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya, meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, aku pun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku, sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik, termasuk saling memamerkan kegiatan kami.

Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya ketika menyadari dompetku tertinggal di rumah. Kurogoh tas hingga bagian terdalam, tetap saja aku tak menemukannya. Sambil berusaha mengingat-ingat  yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan, aku menelepon suami untuk menanyakan.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan. Kebetulan aku tak punya uang kecil, maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu. Kalau tak salah, aku letakkan di atas meja kerja,” sahutnya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, kuomeli kecerobohannya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphone-ku kembali berbunyi. Meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak.

“Apalagi?”

“Sayang, aku pulang sekarang. Aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang, sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali.

Aku menyebut nama salonku. Tanpa menunggu jawabannya lagi, langsung kututup telepon.

Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan suamiku akan datang membayarkan tagihannya. Si empunya salon –yang sahabatku juga– sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan bisa membayarnya nanti saat kunjungan nanti, Tapi rasa malu karena “musuhku” juga ikut mendengar, membuatku gengsi berhutang.

*******

Rinai hujan menderas ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam. Aku semakin tidak sabar, sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban, meski sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering, teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Akhirnya teleponku diangkat. Suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat, sebelum lelaki asing itu memperkenalkan diri.

“Selamat siang, Bu. Apakah ibu istri dari Bapak Armandi?”

Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi. Ia memberitahu suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Aku hanya terdiam dan menjawab terima kasih.

Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang. Beberapa pegawai salon mendekatiku, dengan sigap bertanya mengapa wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana, akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga, tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa, menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa, karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku.

*******

Setelah menunggu beberapa jam –tepat ketika kumandang adzan Maghrib terdengar– seorang dokter keluar dan menyampaikan berita. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat, tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, baru lah aku termangu menatap wajahnya. Kusadari, inilah pertama kali aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.

Saat itulah dadaku menjadi sesak, teringat segala yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin. Lagi-lagi kusadari, inilah kali pertama juga aku menyentuh wajahnya, yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.

Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandangan. Aku terkesiap, berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya. Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya, agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja.

Tapi bukannya berhenti, airmata justru kian deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari Imam Masjid yang mengatur prosesi pemakaman, tidak mampu membuatku berhenti menangis.

Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: