Skip to content

Mitos Android

by pada 2 April 2013

Oleh Trankgono Try Atmojo

(designofgreenfly.blogspot.com)

(designofgreenfly.blogspot.com)

Siapa yang tidak mengenal Sistem Operasi Android, yang kita lihat pada perangkat telepon pintar dan tablet? Tiap-tiap seri sistem operasinya diberi nama kudapan-kudapan manis berdasarkan alphabet, mulai dari Donat, Éclair, Froyo (Frozen Yogurt), Ginger Bread, Honey Comb (khusus tablet), Ice Cream Sandwich, Jelly Bean, dan seterusnya.

Perangkat lunak ini berhasil melejit dengan cepat dan menjadi Sistem Operasi mobile yang banyak digunakan. Awalnya Android ini didirikan pada tahun 2003 oleh Andy Rubin, Rich Miner, Nick Sears dan Chris White, yang berbasis di Palo Alto, California. Dalam angannya, Rubin ingin membuat perangkat lunak mobile yang peka tehadap penggunanya.

Sistem Operasi Android merupakan salah satu turunan Linux (pendahulunya adalah Unix), seperti IOS, Macintosh, Linux Mint, Ubuntu, Kubuntu, Red Hat, Debian dan Slackware. Masih banyak lagi yang tidak disebutkan, bisa dilihat pada tabel Sistem Operasi pada personal computer maupun server di bawah ini.

Sistem Operasi Turunan Linux

Sistem Operasi Turunan Linux

Sangat rumit dan memusingkan skema hasil turunan Linux ini, bukan? Saya juga sangat bingung dengan tabel di atas. Begitu banyak turunan Sistem Operasi Linux, yang memang terkenal bandel dan imun terhadap virus maupun malware. Karena itu, banyak dipergunakan untuk membangun sistem operasi maupun server.

Walau orang-orang sangat familiar dengan Sistem Operasi yang satu ini, tetapi masih banyak paradigma yang dipahami secara salah dalam menggunakan Sistem Operasi Android. Kesalahan ini bukan hanya akibat ketidaktahuan pengguna, namun juga pengembang “sok tahu” yang memperlakukan Sistem Operasi Android layaknya Sistem Operasi Windows.

Apa saja, sih, yang sering kita salah pahami? Saya pernah mengalaminya. Untunglah, rasa penasaran membuat saya menelusuri dunia maya, sehingga akhirnya dapat mengerti.

“Aduh, RAM gue penuh, harus kill app yang enggak perlu.”

Bukan hal baru bagi saya, mendengar ucapan tersebut dari teman-teman yang menggunakan Android. padahal membuang aplikasi yang mereka lakukan itu, sesungguhnya sia-sia. Mengapa begitu? Sistem Operasi turunan Linux punya kemampuan mengatur aplikasi yang berjalan di RAM sesuai kebutuhan, seperti memperbarui email masuk atau notifikasi aplikasi.

“Ah, Android gue boros banget.”

Begitulah hasilnya, jika Anda rajin memangkas aplikasi dan cache yang ada di RAM Android Anda.

Lho, apa hubungannya?”

Anda pasti senang melihat free RAM di Android Anda tersedia banyak, padahal cara Sistem Operasi Android menggunakan RAM sangat berbeda dengan Windows.

Bila free RAM di Windows berdampak positif ketika membuka dan menjalankan  aplikasi, untuk Android malah sebaliknya. Karena saat Anda memangkas isi RAM, secara otomatis Android akan memuat kembali aplikasi yang berjalan.

Tentunya hal ini membutuhkan daya, yang didapat dari baterai. Jadi makin sering dipangkas, semakin cepat baterai Anda kosong seperti terjun bebas. Bayangkan, jika Anda melakukan pembersihan RAM tiap menit di Android..

Android rentan terhadap virus.”

Tak ada satu pun Sistem Operasi yang kebal terhadap virus, termasuk IOS yang menarik ucapannya setelah sistemnya berhasil ditembus virus. Sementara berdasarkan laporan, 99% virus mobile ditujukan ke Android. Namun sampai saat ini, tak ada infeksi virus dan malware yang sampai merusak ke dalam sistem.

Jika Android Anda sering mendapat iklan yang muncul pada baris notifikasi, segera hapus aplikasi yang terakhir kali dipasang. Kuat dugaan, aplikasi yang Anda pasang dari luar Google play disisipi malware. Karenanya, jangan pasang aplikasi sembarangan.

“Harus di-root.”

Masih banyak pengguna Android —meski pada level advance user— yang bergaya, tetap tak paham istilah root. Apa kegunaan dan akibatnya? Root ialah akses administrator ke dalam sistem, untuk mengubah sesuai kebutuhan kita.

Saran saya, lakukan root jika memang benar-benar butuh. Karena besar kemungkinan Anda akan membuat kesalahan fatal terhadap sistem, yang berakibat Android mati total (brick) dan gadget Anda menjadi sekadar barang pajangan.

Untuk menghindarinya, bacalah artikel-artikel –yang bisa dicari lewat mesin pencari Google— atau mengunjungi situs grup pengguna Android yang Anda pakai, sebelum melakukan root.

Yang perlu diperhatikan, meski sesama Android namun bila beda perangkat kerasnya, beda pula cara melakukan root-nya. Keisengan memodifikasi Android, akan menyebabkan batalnya garansi. Jadi kalau tidak benar-benar butuh akses root, nanti saja lah.

“Let Android be Android.”

Android tidak sama dengan Windows, jangan perlakukan ponsel pintar Android layaknya Sistem Operasi Windows. Mereka bergerak dengan cara yang sangat berbeda, karenanya hanya gunakan Sistem Operasi Android untuk gadget Android..

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: