Skip to content

Semangat Penjual Kue Tradisional

by pada 4 April 2013
(peluangusahabisnisbaru.blogspot.com)

(peluangusahabisnisbaru.
blogspot.com)

Oleh Andita Novita Rahayu

Kesadaran bahwa hidup tak selamanya menyenangkan, menjadi lecutan semangat bagi Yuli untuk selalu menghadirkan kebahagiaan di setiap pertumbuhan anak-anak dan keluarganya. Lewat kue-kue tradisional yang dibuat dari tangan halusnya, ia tak peduli seberapa besar pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk mewujudkan kebahagiaan itu.

Sejak pertengahan 1998, Yuli dan suaminya di PHK sebagai buruh pada sebuah pabrik di bilangan Kota Depok. Praktis ia dan keluarganya kehilangan penghasilan, yang selama ini menjadi gantungan hidupnya. Keadaan yang cukup sulit bagi Yuli, mengingat saat itu ia harus tetap melanjutkan masa depan kedua anaknya dan satu adik perempuan yang menumpang hidup bersamanya.

Kiamat Kecil

Menjadi seorang penjual kue tradisional, mungkin tidak ada di dalam daftar mimpinya. Namun, pekerjaan yang sudah dilakoninya selama 13 tahun, diakui sebagai satu-satunya mata pencaharian yang ia pertahankan hingga saat ini.

Meski usianya lebih dari setengah abad, kondisi yang memprihatinkan ini tak menyurutkan semangat Yuli. Karena itulah, saat sang fajar belum menyapa dunia dan ayam pun masih tertidur lelap, dalam kesenyapan dirinya harus bangun untuk mengolah aneka kue tradisional yang sehat untuk dijual dan memenuhi setiap pesanan yang datang dari tetangganya.

Sebelumnya, ia dan suami pernah mencoba membuka warung mie dan bubur ayam, tetapi tidak bertahan lama. Sang suami menderita sakit dan terlebih dahulu dipanggil Yang Kuasa, sehingga otomatis dirinya menjadi tulang punggung utama keluarga dan meneruskan pekerjaan seorang diri.

“Hari itu bisa dibilang sebagai ‘kiamat’ kecil buat saya. Bapak ‘pergi’ terlalu cepat. Walaupun anak perempuannya, Anis, diterima bekerja, tetapi belum mencukupi untuk terus bertahan dalam kehidupan yang begitu susah. Saya ikhlaskan saja semuanya dan pasrah,” kenang Yuli dalam genangan butiran yang mengembang di kelopak matanya.

Terlilit Hutang

“Sejak Bapak meninggal pada 2005, saya niatkan melanjutkan usaha kue ini meski sendirian. Syukur jika bisa diwariskan, kendati saya meninggal nanti,” dambanya optimis, diiringi senyum yang tak mampu menyembunyikan guratan keriput di pipinya.

Perjalanannya sebagai penjual kue, tidak selalu berjalan mulus. Beberapa kali ia pernah ‘dihutangi’ pemilik warung tempat menitipkan dagangannya, yang membuatnya terpaksa harus terlilit hutang untuk membeli bahan-bahan kuenya. Meski begitu, tetap tak menyurutkan semangatnya.

“Tahun 2006, sewaktu usaha baru berjalan beberapa tahun, saya dapat masalah. Pemilik warung tempat saya menitipkan kue, nggak mau setor hasil penjualan kue sampai berjumlah ratusan ribu. Katanya, dia lagi butuh uang buat sekolah anaknya. Saya kasihan, tapi akibatnya saya juga terpaksa ikut ngutang buat beli bahan kue,” kisah Yuli yang memang memiliki jiwa pengasih.

“Hutang saya yang menumpuk, membuat pemilik warung yang tadinya baik menjadi marah. Saya sampai nangis, dikatain macam-macam. Akhirnya, saudara yang bayarin hutang, karena nggak terima saya diperlakukan seperti itu. Pernah juga saya difitnah sesama penjual kue, sehingga cuma sedikit yang laku. Rasanya, mau berhenti saja berjualan,” lanjut Yuli, sambil menyeka air mata yang membasahi wajah tuanya.

Namun, kepedihan ujian yang dialaminya beberapa tahun silam, sedikit demi sedikit mulai memudar. Saat ini, Yuli sudah menjual lebih dua puluh macam kue tradisional yang dibuat sendiri di dapur kecilnya. Meski hanya dijual Rp..800 per kue, Yuli mengaku dapat meraup keuntungan sampai Rp. 500.000 setiap hari. Baginya, karunia ini sudah mencukupi untuk menghidupi diri serta anak-anaknya.

“Saya bersyukur sajalah, dengan penghasilan ini Walaupun ada yang bilang kecil, yang penting kan bisa buat beli beras sama lauknya,” ujarnya merendah.

Tetap Tersenyum

Saat ini Yuli memiliki dua karyawan yang membantunya di dapur, serta beberapa orang yang membantu menjualkan kuenya ke beberapa warung maupun menjajakan berkeliling kampung dan komplek perumahan. Bisa dibilang, selain untuk menghidupi keluarganya, usaha ini juga ternyata mampu menjadi lahan penghasilan bagi orang lain.

Sebagai orang tua, ia hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang SMA dan STM. Meski demikian, ia tetap berharap anaknya memiliki daya juang dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan.

Ia percaya, anak-anaknya kelak sanggup melewati takdir pahit kehidupan dengan tetap tersenyum dan penuh keikhlasan, seperti dirinya dulu. Ia juga berdoa, agar anak-anaknya dapat bermanfaat bagi orang-orang di sekelilingnya.

“Kalau saja dulu saya menyerah dengan cepat, mungkin saya tidak sempat merasakan kebahagiaan hari ini,” pungkasnya menutup perbincangan.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: