Skip to content

Mereka Bilang Aku Cacat

by pada 9 April 2013
(Foto: Esther)

(Foto: Esther)

Oleh Esther Wijayanti dan Erri Subakti

Pernahkah Anda berada di sebuah universitas, memandangi para mahasiswa yang semangat menuntut ilmu di situ, dan berpikir, betapa mereka adalah anak-anak bangsa yang memiliki masa depan yang baik?

Tidak terduga saya menemukan yang spesial dari antara anak-anak hebat di sini. Namanya Billy Sukanta, lahir 23 tahun yang lalu. Sekilas tidak ada yang berbeda, antara Billy dengan mahasiswa lain. Berwajah cerdas, berkaos oblong, celana jeans, membawa buku. Namun, Anda akan mengetahui perbedaannya saat menyapanya. Billy adalah pemuda tuna rungu dan tuna wicara.

Dilahirkan dengan memiliki kekurangan, Billy harus menjalani kehidupan yang lebih keras dari anak-anak lainnya agar dapat memiliki masa depan yang mandiri. Tidak tergantung pada orang lain.

Perjuangan yang keras dalam meraih masa depan, dimulai sejak remaja. Tinggal jauh dari keluarganya di Samarinda, Billy kost di Jakarta sejak berusia 15 tahun untuk bersekolah di SLB-B Panggudi Luhur di Kembangan, Jakarta Barat.

Billy memulai kerja kerasnya belajar berbicara setiap hari, agar dapat berkomunikasi. Latihan berbicara adalah hal yang tidak mudah baginya, namun Billy pantang berputus asa. Karena kemampuan berkomunikasi, merupakan dasar untuk dapat berinteraksi dengan masyarakat.

Lulus dari SLB-B, Billy melanjutkan kuliah di jurusan Design Komunikasi Visual, Universitas Tarumanegara Jakarta. Billy tidak mengalami kendala ketika mendaftar di Universitas Tarumanegara, Universitas ini, mengizinkan penyandang cacat tuna rungu untuk bersekolah di sini. Dosen dan teman-teman sangat baik, mau membantu Billy dalam proses belajar.

Bagaimana rasanya menjadi anak yang berbeda dengan yang lain? Apakah tik ada kendala saat kuliah? Billy tertawa renyah, lalu menulis. Dan menyodorkan tulisannya pada saya: “Saya tidak pernah putus asa.”

Aku berbicara tanpa kata,
aku beteriak tanpa suara,
aku hanya memiliki mimpi sederhana,
agar tidak dipandang sebelah mata saja.

Mereka bilang aku cacat,
mereka bilang aku tak sempurna.

Memang, aku tidaklah sehebat Bethoven,
yang meski tuli,
namun mampu mengkomposisi musik-musik nan abadi,
hingga namanya layak dikenang umat manusia seisi bumi.

Aku hening bukan berarti menyepi,
aku diam bukan berarti senyap.

Karena aku berbicara bukan lewat suara,
melainkan lewat aksara.

Dalam diam,
aku terbang melalui sayap sayapNya..

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: