Skip to content

Kreativitas Mahasiswa yang Tertunda

by pada 11 April 2013

Oleh Vania Rahmayanti

(jusman-dalle.blogspot.com)

(jusman-dalle.blogspot.com)

Plagiarisme, siapa yang tidak tahu tentang ini? Paham tentang jiplak-menjiplak yang melanggar hak cipta ini, sangat terkenal seantero jagad raya. Bagaimana tidak, seseorang yang malas dan selalu ingin menjadi yang tercepat pasti akan memilih plagiarisme, dibandingkan harus bersusah payah mengembangkan ide.

Di dunia pendidikan, kegiatan plagiat ini seolah menjadi candu bagi sebagian mahasiswa. Demi terkumpulnya tugas, mereka akan menghalalkan segala cara untuk menyelesaikannya. Termasuk menjiplak karya orang lain, seakan mereka tak peduli akan sebutan plagiator.

Potret buram ini sudah tak asing lagi di kalangan mahasiswa. Buktinya, tidak ada perasaan bersalah, apalagi menyesal, ketika melakukan plagiat. Justru pada diri mereka akan merasakan adiksi (kecanduan/ketagihan) yang luar biasa, ketika melihat hasil bagus yang didapatkan dari proses plagiat. Hal semacam itu akan menjadikan plagiarisme sebagai suatu kebiasaan, bahkan keharusan, untuk mendapat hasil yang maksimal dalam berkarya.

Sebagai dosen penulisan feature –yang sesekali dihadapkan dengan plagiarisme mahasiswa– Azhmy Fawzi menyatakan, penyebab mahasiswa melakukan kegiatan menjiplak itu dikarenakan mereka tidak ingin bersusah-payah, ingin menjadi yang tercepat, tidak kreatif, dan tidak memiliki ide.

Maka, ketika mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat “dijual” atau dibanggakan, mereka akan memakai karya milik orang lain yang diakui sebagai karyanya sendiri. Atau melakukan copy-paste dari karya orang lain, untuk kemudian memuatnya di karya pribadi. Akibatnya sangat berbahaya, sang plagiat tak pernah tumbuh inisiatifnya. Bahkan pada gilirannya, akan mampu melumpuhkan kreatifitas di masyarakat pada umumnya.

Banyak contoh yang disinyalir terjadi, misalnya beberapa cerita dan poster film kita yang “mirip” film asing. Atau lagu Indonesia yang katanya “disadur” dari lagu Barat, bahkan ada beberapa kelompok Band remaja kita yang habis-habisan “mengekor” Girls and Boysband K-Pop.

Masih terkait dengan dugaan plagiat yang dilakukan oleh kaum akademisi, ternyata berdasarkan informasi DIKTI, sebagaimana dikutip Pikiran Rakyat Online, edisi Jum’at, 02 Maret 2012, total ada 20 PTN yang stafnya diduga melakukan pelanggaran akademik.

“Kalau beberapa ilmuwan –terlebih Pengajar– saja diduga menjadi plagiat, bagaimana dia akan bisa menerapkan ilmu-ilmu yang bukan hasil pengembangan pemikirannya? Apalagi sebagian mahasiswa yang lebih “kreatif” memanipulasi data, tanpa disadari perilaku itu akan menjadi habit (kebiasaan). Contohnya, boleh dilihat pada tugas harian hingga tugas akhir mereka. Bila sudah begitu, masa depannya akan sangat sulit,” lanjut Azhmy.

Termotivasi Berkarya

Mungkin beberapa orang akan bertanya, apakah tidak ada sanksi untuk mereka yang melakukan plagiarisme? Tentu ada, semua terangkum dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan peraturannya pada Undang-undang Hak Cipta. Namun, agaknya semua itu kini masih normatif.

Pada kenyataannya, hak cipta belum membudaya di masyarakat. Keberanian untuk menolak ataupun mengklaim mereka yang melakukan plagiat belum ada. Apalagi melihat hukum positif di negara ini yang kadang sangat mudah “diatur” dan tak jelas keberpihakannya. Sangat ironis, memang.

Di dunia pendidikan, seorang dosen semestinya mau menegur mahasiswa yang melakukan plagiat dan melakukan pengujian ulang terhadap karyanya, seperti yang dilakukan Azhmy terhadap mahasiswanya.

Alhamdulillah, belum pernah terbukti. Yang pertama saya lakukan adalah memancingnya. Pancing di sini maksudnya, saya mau tahu sampai dimana kejujuran dia, keberanian untuk mengakui bukan hasil tulisannya. Ketika dipancing pun dia tidak merasa atau tidak mau mengakui, saya akan panggil dia dan menyandingkan tulisan yang dikumpulkan sebagai tugas dengan tulisan yang ditiru sebagai bukti,” jelas Azhmy buka kartu.

Tapi jika masih berkilah, sambung dosen muda ini menjelaskan, akan saya uji lagi. Saya akan berikan ide dan saya minta dia untuk mengembangkannya sendiri. Biasanya seorang plagiat cenderung tak memiliki kreativitas, sehingga jika dihadapkan pada situasi seperti itu dia akan kebingungan.

Seolah geram dengan kata plagiarisme yang memekakkan telinga, Azhmy selalu berusaha untuk menghindarkan mahasiswanya terjebak. Salah satu caranya dengan menerapkan sanksi untuk yang meniru dan memberi penghargaan untuk yang benar-benar bekerja sendiri.

Dengan adanya sanksi dan penghargaan, biasanya akan menjadikan orang berpikir jernih. Apalagi bagi plagiator, mereka akan berpikir dua kali jika ingin meniru. Karena selain sanksi, dia juga akan dikucilkan oleh teman-temannya.

“Sebagai makhluk sosial, manusia yang dikucilkan membuat jiwanya tertekan yang boleh jadi akan ‘membunuh’ secara perlahan. Sebaliknya dengan penghargaan, mahasiswa akan senang dan termotivasi untuk terus berkarya,” pungkasnya menutup perbincangan.

From → Feature

One Comment
  1. Disadari atau tidak, budaya plagiarisme memang belum dapat dihapus secara tuntas dalam wajah pendidikan negeri ini.
    Faktanya, banyak teman-teman saya mahasiswa eksak yang selalu mengumpulkan tugas praktikum dari laporan hasil “awetan” data dari angkatan atas. Pun angkatan atas dari angkatan lama lagi. Hingga awet kata-katanya sama persis dan struktur datanya.
    Ini bisa jadi instrospeksi, wajah pendidikan di indonesia memang benar harus di kemas dengan kreativitas dalam bingkai kejujuran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: