Skip to content

Cerpen: Rindu Seorang Anak (1)

by pada 13 April 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(dewipuspasari.wordpress.com)

(dewipuspasari.wordpress.com)

Oleh Ani Sri Nuraini

Laut siang itu sangat bersih dan indah. Terlihat bersinar seperti kristal berwarna biru, sangat menyejukan. Ia berdiri di sisi kapal yang lain, menjauh dari para penumpang. Memandangi langit yang begitu biru. Awan yang putih terlihat bagai gumpalan permen kapas yang siap dilahap.

Ia berjalan menuju ujung kapal. Terlihat butiran air laut memental, terhantam ujung kapal yang menimbulkan buih busa. Sangat indah. Butiran yang terlihat bersinar bak mutiara, karena pantulan cahaya matahari siang. Dan burung-burung camar terbang di atas kepalanya, seolah hendak menyapa.

Tak henti-hentinya ia takjub dengan keindahan di atas kapal feri, karena ini kali pertama ia menaiki kapal besar. Biasanya di kampungnya, Musi Rawas, Palembang, ia hanya menggunakan perahu kecil yang disebut bidu’. Dan ini kali pertamanya pula, ia berpergian jauh dari kampungnya.

Satu setengah jam lagi kapal merapat di Pelabuhan Merak. Tak sabar rasanya sampai dan bertemu bapaknya di Jakarta. Memang sangat lama sudah, kurang lebih enam tahun lalu. Semenjak bapaknya merantau dan menetap dengan istri mudanya di Jakarta. Mereka memiliki dua anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Ia senang, walaupun bukan dari ibu yang sama.

Terakhir bersama bapaknya ketika ia duduk di kelas 6 SD, beliau membawa seorang gadis kecil –sepertinya baru kelas 1 SD– yang manis, ke rumah. Gadis kecil yang terlihat lucu saat tertawa ini selalu mengganggunya, tetapi ia suka. Ani, begitulah gadis kecil itu dipanggil Ayah. Nama yang cantik, pujinya sebatas dalam benak.

“Ka Andi, main yuuk,” rengeknya. Ha, apa yang gadis itu bicarakan? tanya Andi dalam hati. Ia tidak mengerti. Karena di kampung, ia selalu menggunakan percakapan dalam dialek Palembang, bukan bahasa Indonesia. Ia hanya tersenyum dan melirik bapak yang berada di sampingnya. Akhirnya, bapak lah yang menerjemahkan.

Wajar, jika adik kecilnya berbicara dengan bahasa Indonesia.  Meski sama-sama lahir di Palembang, Ani sudah empat tahun tinggal di Jakarta. Karenanya, Andi mengajak adiknya bermain selama berlibur di kampung. Dari berenang di sungai Musi, hingga mengunjungi sanak saudara. Kebersamaan yang singkat, tetapi Andi sangat senang.

Andi adalah anak terakhir dari dua bersaudara, yang berasal dari Mama sebagai istri tua. Kakaknya yang bernama Anton tidak terlalu dekat dengannya, karena ia selalu bermain tanpa pernah mengajaknya. Itulah alasan ia menjadi sangat senang diajak bermain dengan Ani, adik kecilnya.

*******

Sekarang Andi 18 tahun, sudah berani berpergian jauh sendirian. Rencananya, ia akan bertemu bapaknya dan kuliah di Jakarta. Keinginan ini disampaikan sebelumnya melalui SMS, dan bapak menyetujuinya.

Ah, rasanya tak sabar untuk bertemu bapak, risaunya dalam hati. Ia pandangi lagi burung-burung camar yang terbang mengelompok di atas kapal. Meskipun ada rasa benci terhadap bapak –karena sudah meninggalkannya selama lebih enam tahun– namun entah mengapa, rasa benci itu malah berubah menjadi rasa bahagia. Mungkin, karena akan bertemu dengan figur yang sangat ia rindukan.

Andi memang sudah lama sekali tak memiliki figur bapak di hidupnya, bahkan terkadang iri dengan teman-temannya yang memiliki bapak. Ketika teman-temannya memancing bersama bapaknya, ia hanya memancing sendirian. Ketika teman-temannya membantu bapaknya memanen buah sawit, ia juga memanen sendirian. Betapa pedih hatinya dilanda kerinduan, sedangkan bapaknya jauh darinya. Sangat jauh.

Ketimbang larut dalam kesedihan, ia pun kembali ke tempat para penumpang berkumpul. Perutnya kini mulai terasa lapar, sehingga langsung berjalan menuju kantin di kapal.

“Ibu, pop mie satu ya,” pintanya.

Segera ia mencari tempat duduk yang nyaman, untuk menikmati segelas mie instan yang membangkitkan selera.

*******

Kapal sepertinya akan berlabuh, perjalanan panjang yang ditempuh sebentar lagi pun berakhir. Andi ingin cepat-cepat turun dari kapal, ia sudah bosan berada di atas kapal, terus menerus selama kurang lebih dua jam.

Sesampainya di Pelabuhan Merak, Andi sangat heran. Yang menjemput dirinya bukanlah bapaknya, melainkan Uwak-nya.

Wak, kenapa bukan Bapak yang menjemput? Apakah beliau sibuk?”

Uwak-nya terdiam sangat lama. Lalu pria tua di sampingnya itu menjawab dengan sedikit ragu, “Iya.”

Selama perjalanan, di dalam mobil Andi tidak berani menanyakan soal bapaknya lagi. Ia tak ingin merusak rasa senangnya dan berusaha menikmati perjalanan. Tak henti ia melayangkan pandangannya ke luar jendela mobil, banyak sekali gedung tinggi dan pemandangan yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Rencananya, bila nanti tinggal di Jakarta, ia sangat ingin mengunjungi Monas dan tempat-tempat rekreasi seperti Kota Tua, Dunia Fantasi, dan lainnya. Ia sangat penasaran dengan semua tempat itu, karena ia hanya mengetahui dari televisi saja. Namun, sepertinya rencana itu tidak akan tercapai. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: