Skip to content

Cerpen: Rindu Seorang Anak (2)

by pada 14 April 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

Oleh Ani Sri Nuraini

(www.cumicumi.com)

(www.cumicumi.com)

Akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar, dinding bercat hijau dan memiliki gerbang di depannya. Rumah itu terlihat bagus bagi Andi.

Tetapi ia sangat bingung, banyak sekali orang yang berdatangan ke rumah mungil. Sangat banyak, sehingga ia tidak dapat menemukan figur bapak dari pandangannya.

Apakah ini sebuah pesta? tanyanya dalam hati. Tetapi ia sangat heran, jika pesta mengapa orang-orang memakai baju koko dan berkerudung. Mengapa wajah setiap orang yang datang terlihat sedih. Tiba-tiba, entah mengapa, ulu hatinya merasa sangat sakit. Ia bingung, perasaan apa ini.

Andi melayangkan pandangan kepada uwak-nya, yang ternyata dari tadi memegang pundaknya. Raut wajah uwak-nya terlihat sangat sedih. Dari mata yang sudah menua, terlihat butiran kecil air mata turun di pipi.

Ada apa ini? Mengapa semua orang menangis dan bersedih, tanyanya makin gelisah. Andi semakin heran dengan keadaan ini.

Andi ditemani uwak-nya berjalan menuju teras rumah. Ia baru menyadari, ada bendera kuning di sana. Bukannya bendera itu menunjukan adanya seseorang yang meninggal? Mengapa bendera itu berada di sini? Siapa yang meninggal? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya.

Di teras itu terlihat horden yang dibentuk menjadi ruangan, entah ada apa di dalamnya. Tiba-tiba uwak membukanya, Andi melihat sosok pria yang terbujur dtutup kain hingga ke wajahnya. Ketika kain penutup dibuka, betapa terkejutnya Andi.

Astagfirullah,” Andi tak kuasa menahan air matanya menitik.

Ternyata, sosok pria itu adalah bapaknya. Seorang yang tak pernah ditemuinya enam tahun belakangan ini, yang membawa adik kecilnya ke kampung ketika ia masih kelas 6 SD. Butiran rindu yang terbungkus air mata, kini mengalir sangat deras. Lututnya sangat lemas, hingga ia pun terjatuh ke lantai.

“Ya Tuhan, mengapa hal ini harus terjadi denganku?” Ia menangis meronta-ronta, histeris. Seperti kerasukan, gerak badannya tak terkontrol. Ia menangis sejadi-jadinya. Semua mata tertuju padanya.

Di kerumunan orang yang mengelilingi dirinya, terlihat sepasang mata lentik memperhatikan. Mata di wajah gadis kecil itu juga terlihat membengkak, seperti habis menangis. Ia memandangi Andi yang tak henti menangis di samping jenazah bapaknya. Sepasang mata itu milik gadis kecil yang dulu mengajaknya bermain. Ya, Ani. ia sudah kian besar dari terakhir mereka bertemu.

Andi tidak menemukan sosok emak mudo-nya. Ternyata ibu tirinya berada di kamar, setelah pingsan berkali-kali. Beliau tidak kuat menghadapi kenyataan, ditinggal suami selama-lamanya. Sama halnya dengan perasaan Andi saat ini. Bagaimana tidak? Figur yang sangat dirindukannya, kini terbaring tak bernyawa.

Makin siang, semakin banyak orang yang berdatangan. Hati Andi terasa sesak. Ia masih tidak menyangka, hal ini terjadi padanya. Mau tidak mau, ia harus membatalkan semua keinginannya di Jakarta. Ia memutuskan setelah peringatan seratus hari wafat bapaknya nanti, ia akan kembali ke kampungnya di Palembang. Ia akan kuliah di sana.

*******

Lima tahun setelah hari berduka, Andi mengabarkan pada emak mudo dan adik-adiknya dari Palembang. Bahwa dirinya sudah lulus kuliah dan menjadi sarjana hukum. Kini ia sudah menikah, dan memiliki seorang anak laki-laki.

Meski sudah menikah dan memiliki anak, ia akan selalu mengingat kebersamaannya bersama mendiang bapak dan adiknya tercinta. Semoga kau bahagia di surga Pak, saya selalu menyayangimu selamanya. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: