Skip to content

Aku Anak Jalanan, Tapi Tak Selamanya

by pada 23 April 2013
Muhammad Rahman (Foto: Hamidah)

Muhammad Rahman (Foto: Hamidah)

Oleh Hamidah Ahmad

Hidup bersama keluarga yang harmonis, pasti menjadi impian setiap anak. Namun, banyak hal di dunia ini yang tidak sesuai dengan harapan kita. Itulah yang dihadapi Muhammad Rahman (18). Sejak usianya 8 tahun, Rahman memilih hidup di jalan.

Apalagi alasannya, kalau bukan masalah ekonomi.

Gak kuat liat Bapak dan Ibu berantem terus,” ucapnya dengan datar.

Sepuluh tahun lalu, Rahman masih tinggal bersama kedua orang tua nya, Dedeh (48) dan Supri (54) yang berprofesi sebagai penjual nasi. Serta kedua saudarinya Nansih (21), dan Sinta (15) di daerah Jatinegara. Tidak banyak yang dapat dilakukan Supri dan Dedeh, saat anak lelaki mereka meninggalkan rumah.

Pengalaman Pahit

Tentu tidak mudah, bagi anak usia 8 tahun hidup sendiri di jalanan. Rahman harus mengalunkan suaranya, lagu demi lagu, dari satu angkot ke angkot lain, dari satu lampu merah ke lampu merah lain, demi mengumpulkan satu satu rupiah. Menahan dinginnya angin ketika malam tiba, menahan teriknya matahari Jakarta yang menyiksa, dan menahan lapar ketika hasil ngamennya sedang sepi.

Kalo lagi sepi, paling dapat 10 ribu seharian,” ungkap Rahman.

Terlebih tak semua orang menghargai profesinya. Tak sedikit mereka yang memandang sinis, ketika Rahman menadahkan tangan seusai melantunkan suaranya. Suara Rahman memang tak semerdu Ariel Piterpan idolanya. Tapi itulah satu-satunya modal, yang dimiliki Rahman muda untuk mengisi perut.

Dua tahun sudah Rahman hidup di jalanan Jakarta, ketika akhirnya hijrah ke Depok bersama sahabatnya, Bogel. Saat itu usia Rahman 10 tahun. Awal tiba di Depok Rahman “berdinas” di Pondok Cina. Dan ketika malam tiba, ia biasa merebahkan badannya di pelataran lampu merah, bersama anak jalanan lain di dekat terminal Depok.

Rahman berkisah, pernah saat ia sedang terlelap tidur karena lelah bekerja, tiba-tiba saja terdengar suara riuh. Badannya diguncang-guncangkan oleh rekannya sesama pengamen. Ternyata satpol PP melakukan “pembenahan” anak jalanan di malam buta. Tentu seketika itu juga Rahman terjaga, lari bersama rekan-rekannya. Itu hanya satu dari sekian banyak pengalaman pahit, yang harus dialami Rahman kecil.

Menata Ulang Hidup

Hari itu, seperti biasa Rahman ngamen di daerah Pocin (Pondok Cina, Pasar Minggu, Jakarta Selatan). Saat malam tiba, seorang lelaki datang membawa kantong hitam besar. Ia menghampiri Rahman dan teman-temannya, yang kala itu sedang nongkrong seusai mengamen.

Segera dibukanya kantong besar dan mengeluarkan sejumlah bungkusan coklat sesuai jumlah anak yang ada di situ. Ya, nasi bungkus. Dengan cekatan, lelaki itu membagikan nasi bungkus kepada semua anak. Rahman dan teman-temannya yang memang lapar, langsung menyantap tanpa pikir panjang.

Dua hari kemudian lelaki itu datang lagi dan melakukan hal yang sama. Hingga beberapa hari kemudian berulang lagi dan lagi. Lama-kelamaan Rahman dan beberapa temannya mulai bersimpati padanya. Barulah lelaki itu mengajak Rahman dan teman-temannya ikut mengaji di tempatnya, di daerah Depok Lama setiap sore.

Setelah berbagai bujukan dan pertimbangan, akhirnya Rahman dan beberapa temannya menyetujuinya. Untuk pertama kali Rahman menjejakan kaki di masjid kecil di belakang terminal Depok, yang di kemudian hari akan menjadi “rumah”-nya. Setelah mulai mengaji, Rahman dan teman-temannya tak lagi tidur di lampu merah.

Dialah Nurokhim, lelaki yang berusaha menata ulang hidup anak-anak yang kurang beruntung. Awalnya, Nurokhim hanya mengajar anak-anak yang dibawanya dari jalanan untuk mengaji. Sedikit demi sedikit pelajarannya ditambah, mulai ada pelajaran baca dan hitung. Lama kelamaan kian meningkat, sampai memasuki materi pelajaran umum.

Nurokhim juga menyediakan sebuah ruangan kecil di samping masjid untuk anak-anak itu tidur. Satu, dua, sampai lima tahun, berlalu tanpa terasa. Anak-anak jalanan pun makin betah, karena Nurokhim dengan sabar membina mereka. Tak sia-sia, semua yang dilakukan Nurokhim menarik simpati banyak pihak. Dan para dermawan pun mengulurkan bantuan.

Mengikuti Pelatihan

Sekolah Master (Foto: Hamidah)

Sekolah Master (Foto: Hamidah)

Perjalanan Nurokhim membina anak jalanan, tentu tidak mudah. Setelah perjuangannya selama 10 tahun, kini sekolah Master telah berdiri kokoh. Ketika masih di masjid, murid Nurokhim hanya lima orang, termasuk Rahman. Sekarang mencapai sekitar 2000 orang, setelah didirikan 12 tahun lalu,

Seiring dengan sekolah Master yang terus berkembang, begitu pula kehidupan Rahman. Anak Jatinegara yang dulu putus sekolah ini, sekarang duduk di bangku kelas 3 SMA.

“Sudah jarang mengamen, enakan juga sekolah,” kilah Rahman.

Dirinya yang 10 tahun lalu keluar dari rumah dengan sejuta amarah pada orang tuanya, kini sudah tidak lagi. Nurokhim berhasil membujuk Rahman untuk pulang dan memperbaiki hubungan dengan kedua orangtuanya. Sesekali Rahman pulang ke rumahnya di Jatinegara, walau ia mengaku tetap memilih tinggal di sekolah Master.

“Enakan di sini, tapi kadang-kadang pulang juga,” ungkapnya.

Rahman yang dulu putus sekolah sejak SD,  tak pernah menyangka akan sekolah hingga SMA. Sewaktu kecil Rahman bercita-cita menjadi TNI, namun semenjak mendapat pelajaran komputer di Master, Rahman mengaku ingin kuliah di bidang Teknologi Informasi. Untuk meniru jejak seniornya, Wildan, sesama murid Master yang kini duduk di bangku kuliah. Rahman pun giat belajar dan mengikuti pelatihan dariYyayasan.

Tahun 2012 lalu, Rahman dan dua temannya pernah diutus Yayasan mengikuti pelatihan pengembangan dan proksi perikanan di Bogor selama enam bulan. Sebelum berangkat, Rahman pulang ke Jatinegara meminta izin pada kedua orang tuanya. Rahman bertutur kedua orang tuanya terlihat lebih baik, setelah mengetahui dia bersekolah di Master.

“Jaga diri, ya, Man” pesan sang ibu, sesaat sebelum Rahman berangkat ke Bogor.

Tentu Rahman bahagia bukan kepalang, akhirnya dia bisa pulang dengan membawa kebanggaan bagi kedua orangtuanya. Selama pelatihan, Rahman dan peserta lain diajari tentang cara pengembangbiakan lele sedari benih hingga siap panen.

”Senang aja selama pelatihan, dapat banyak temen baru juga,” tuturnya.

Setelah pelatihan perikanan, Rahman pernah ditawari mengikuti pelatihan menjahit. Ia menolak.

“Saya gak suka jahitm soalnya”, ucapnya.

Tanggal 10 Januari 2013 ini Rahman akan kembali mengikuti pelatihan pertanian di Bogor. Kali ini selama empat bulan.

Melanjutkan Kuliah

Rahman bercerita sama seperti pelatihan pertama, mereka yang berangkat dipilih langsung oleh Ketua Yayasan, Nurokhim.

Deg-degan dan senang banget pas dipilih,” ucap Rahman sambil berurai senyum.

Kali ini Rahman akan berangkat bersama Ari dan Hendro. Sebelum berangkat, seperti biasa, Rahman pulang ke Jatinegara untuk mengabari dan meminta izin pada kedua orangtuanya.

Sebagai anak lelaki satu-satunya Rahman juga ingin bisa mengirim uang untuk kedua orangtuanya. Terlebih mengingat keadaan kedua orangtua Rahman, yang hidup pas-pasan.

Pengen-nya bisa kirim, tapi boro-boro.” Rahman mengaku malu. Setiap kali pulang bukannya membawa rupiah untuk kedua orangtuanya, malah diberi uang saku.

Asrama Master (Foto: Hamidah)

Asrama Master yang tengah dibangun (Foto: Hamidah)

Rahman mengaku sangat senang, dia dan adiknya bisa melanjutkan sekolah. Adik Rahman, Sinta, kini berhasil masuk sekolah negeri dan telah duduk di kelas 3 SMP.

Kakak Rahman, Nansih, harus putus sekolah ketika SD dan tak bisa melanjutkan lagi. Terlebih setelah Sinta bersekolah, Nansih memilih untuk mengalah.

Dunia berputar, seseorang tak selamanya ada di bawah. Adakalanya kita akan mencapai titik yang lebih tinggi. Itulah yang kini tengah terus diusahakan Rahman. Ia ingin mengangkat darajat keluarganya dan mengubah hidupnya. Tak ingin lagi melihat orang tuanya masih membanting tulang di usia senja, dan tak mau lagi harus menengadahkan tangan meminta belas kasih orang lain.

Jalanan sudah mengajarkan banyak hal bagi Rahman. Tentang perjuangan hidup dan cara mempertahankannya. Tapi, cukup sudah ia hidup di jalan. Kini saatnya bagi Rahman meniti tangga-tangga baru hidupnya.

Ia ingin lulus dengan nilai yang baik, dan melanjutkan ke bangku kuliah. Setelah itu, tentu Rahman berharap mendapat pekerjaan yang layak. Agar ia sanggup membahagiakan kedua orangtua dan saudarinya.

Semoga matahari yang sudah mulai menyembul di ufuk langit, segera terbit dan benderang di hidupnya.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: