Skip to content

Cerpen: One Day in Seoul (1)

by pada 27 April 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

Oleh Ratih Ramadyawati

(sidomi.com)

(sidomi.com)

“Aaaaaa! Gue masih ga percaya sekarang kita ada di Korea,” jerit Khansa senang.

“Sssttt!” bisik Rina seraya menyikut Khansa. Kini perhatian orang-orang yang ada di bandara Incheon tertuju pada kedua mahasiswi jurusan Sastra Korea itu.

“Emangnya lo ga senang?”

“Bukan gitu. Lo ga lihat apa pandangan orang-orang di sekitar kita?” tanya Rina seraya melirik ke sekeliling.

Udah lah, jangan peduliin mereka.” seru Khansa bersemangat sambil menarik tangan Rina. “Ayo, kita ke hotel, habis itu shopping di Myeongdong, deh! Hahaha.” Khansa tertawa girang.

“Rin, kita ke kafe itu, yuk!” ajak Khansa pada Rina saat mereka berdua tengah berada di Myeongdong, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul, Korea Selatan.

“Hmm, rame banget nih, Sa,” gumam Rina pada saat mereka masuk ke kafe yang penuh oleh pengunjung. “Ga ada bangku yang kosong.”

“Eh, di sana ada tempat yang kosong.” Khansa menunjuk ke arah sebuah meja yang ada di pojok kafe.

“Akhirnya dapat tempat duduk juga,” ujar Khansa lagi. “Mana, nih, pelayannya? Gue udah haus banget.”

“Sabar, Sa. Mungkin pelayannya lagi sibuk. Lo kan tau sendiri, kafe ini lagi penuh.”

Khansa menopangkan dagunya ke tangannya. “Iya, sih,” ujarnya sambil manyun. “Oh iya, mumpung kita lagi ada di Seoul, gue pengen ke asrama Super Junior sama Hyundai Department Store,” ujarnya sambil tersenyum sumringah.

“Eh, Hyundai Department Store?” Rina menatap Khansa tidak mengerti.

“Aduh Rin, masa lo ga tau sih kalau Hyundai Department Store tuh milik ayahnya Siwon,” jelas Khansa. “Kali aja gue bisa ketemu sama Siwon di sana. Hehehe.”

Rina mendengus pelan. Sahabatnya yang satu ini memang penggemar berat Choi Siwon, salah satu anggota boyband asal Korea Selatan, Super Junior. Selain penyanyi, Siwon juga merupakan aktor ternama. Beberapa drama telah dibintanginya, seperti Oh! My Lady, Poseidon, dan Skip Beat!

“Sa, titip tas gue dulu, ya? Gue mau ke toilet sebentar,” ucap Rina.

Cepetan ya, Rin. Lo kan tau sendiri, bahasa Korea gue ga fasih-fasih banget. Ga kayak lo,” sahut Khansa sambil menerima tas Rina. “Bisa gawat, kalau ada orang Korea yang nyapa gue.”

“Tenang aja. Gue cuma sebentar, kok.”

*******

Clek, Rina membuka bilik toilet dan berjalan ke arah wastafel yang berada tepat di depannya. Ia membuka keran dan mulai mencuci tangannya.

“Kau lihat ribut-ribut tadi?” Tiba-tiba seorang perempuan masuk ke dalam toilet. “Kudengar, tadi ada yang melihat Siwon sedang berjalan di Myeongdong,” katanya dalam bahasa Korea.

“Yang benar?” sahut temannya yang menyusul masuk dengan antusias.

“Entahlah,” jawab perempuan yang pertama masuk tadi sambil mengangkat bahu. “Mana mungkin seorang Choi Siwon ada di tempat seperti ini.”

“Ya, kau benar,” balas temannya sambil masuk ke dalam bilik toilet.

Siwon? Sepertinya nama itu tidak asing bagiku, ujar Rina dalam hati. Tunggu dulu, bukankah itu…

Seakan teringat sesuatu. Rina buru-buru keluar dari toilet. Karena terburu-buru, ia tidak melihat ada seorang pemuda yang berjalan ke arahnya sambil membawa gelas kertas berisi kopi. Tabrakan pun tak dapat dielakkan. Naasnya, kopi tersebut tumpah mengenai jaket Rina.

“Aaawww…” desis Rina saat merasakan kopi tersebut mengenai jaket putih kesayangannya.

Mianhae, mianhae,” ucap laki-laki yang tadi ditabrak Rina.

“Ah, tidak apa-apa,” jawab Rina dalam bahasa Korea. “Ini salahku. Aku tadi terburu-buru dan tidak melihat jalan,” tambahnya sambil berusaha membersihkan jaketnya dengan tangannya.

Laki-laki itu membuka masker yang ia pakai. Ia lalu merogoh kantong celananya dan mengambil saputangan. “Ini, pakailah.”

Gomawo,” jawab Rina.

Sejenak Rina memperhatikan laki-laki yang ada di hadapannya. Laki-laki itu sangat tinggi, mungkin lebih dari 180 cm. Ia memakai topi berwarna hitam, mantel berwarna abu-abu, sweater hitam, sarung tangan hitam, celana hitam, dan masker berwarna abu-abu. Rambutnya hitam pendek seperti kebanyakan orang Asia.

Rina memperhatikan laki-laki itu sekali lagi. Bukan karena ia tampan, hanya saja Rina seperti pernah melihat laki-laki itu di suatu tempat. Apa mungkin ia salah satu pramugara di pesawat yang kemarin atau mungkin petugas bandara Incheon, batin Rina mencoba mengingat-ingat.

“Kau tidak apa-apa?” tanya laki-laki itu, membuyarkan lamunan Rina.

“Eh? Ne, aku tidak apa-apa,” jawab Rina sambil tersenyum kikuk. Ia kemudian membersihkan jaketnya dengan sapu tangan itu.

“Ah!” terdengar suara seseorang menjerit histeris. “Bukankah Anda…” seorang pelayan pria tampak terpana melihat laki-laki yang tadi ditabrak Rina.

“Maaf, Anda salah orang,” jawab laki-laki itu sambil memakai kembali masker yang tadi ia lepaskan dan menarik tangan Rina untuk segera keluar dari kafe itu melalui pintu belakang.

Rina yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi, tidak menolak. Bahkan, juga tidak menepis tangan laki-laki itu. Terlalu banyak pertanyaan yang melintas di benaknya.

Setelah berada di tempat yang cukup sepi, laki-laki itu melepaskan tangan Rina.

“Maaf sudah menarik tanganmu,” ujar laki-laki itu pada Rina. “Maaf juga karena sudah mengotori jaketmu.”

“Ah, seharusnya aku yang meminta maaf, karena sudah menabrakmu hingga kopimu tumpah,” sahut Rina.

“Tapi, gara-gara aku, jaketmu jadi kotor,” ujarnya sambil memandang jaket Rina.

“Tidak apa-apa, kok. Kalau dicuci, nodanya akan hilang.” Rina menenangkan.

“Sebagai permintaan maaf, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

“Eh, kemana?” tanya Rina.

“Nanti juga kau akan tahu,” ucap laki-laki tersebut.

*******

Laki-laki itu membuka pintu sebuah butik kecil di sudut Myeongdong.

“Selamat datang.” Terdengar suara seorang wanita menyambut kedatangan mereka.

Pemuda tersebut melepaskan maskernya. “Hai, Bibi. Apa kabar?”

“Ah, rupanya kau,” sahut bibi tadi. “Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu.” Ia tampak senang bertemu dengan laki-laki itu. Bibi itu kemudian menoleh ke arah Rina. “Siapa yeoja itu? Apa dia yeojachingu-mu?”

Pemuda itu tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya. “Aniyo. Tadi aku tidak sengaja menumpahkan kopi ke jaketnya.”

“Astaga, kau ini! Bagaimana kejadiannya?” Bibi itu tampak memarahi pemuda tersebut. “Mari, akan kucarikan pakaian yang cocok untukmu,” ucap bibi itu ramah sambil menghampiri Rina.

Rina hanya terdiam saat dituntun oleh bibi itu. Belum sempat pertanyaan di otaknya terlontarkan, sekarang sudah muncul lagi pertanyaan baru.

*******

Srekkk, terdengar bunyi tirai yang dibuka. Bibi —yang sepertinya pemilik butik tersebut— keluar dari dalam tirai bersama dengan Rina di belakangnya.

Rina melihat laki-laki yang tadi bersamanya sedang duduk, menunggu sambil memainkan handphone-nya.

“Bagaimana, dia cantik bukan?” ujar bibi pemilik toko, membuyarkan kesibukan pemuda itu.

Pemuda itu menoleh dan melihat Rina dari atas ke bawah. Gadis itu memakai mantel tanpa lengan berwarna pink baby, dengan pita berwarna putih serta dress selutut dengan warna yang sama. Legging berwarna hitam dan sepatu boots dengan warna pink menambah kesempurnaan pakaian tersebut.

Belum sempat laki-laki itu menjawab, Rina sudah lebih dulu berbicara. “Maaf ahjuhma, tapi aku tidak suka warna pink..

“Jangan diganti,” sela pemuda itu. “Baju itu sangat cocok denganmu. Kau terlihat manis.” Lagi-lagi ia tersenyum dan memperlihatkan kedua lengsung pipitnya.

Semburat rona merah tampak di pipi Rina. Entah itu karena senyuman manis laki-laki itu atau karena pujiannya. Yang jelas, Rina merasa senang sekali. Lebih senang daripada mendapatkan kesempatan ke Seoul secara cuma-cuma.

Pemuda itu kemudian berjalan ke arah rak yang berisi aksesoris untuk musim dingin dan mengambil sesuatu dari sana. Ia kemudian menghampiri Rina yang masih mematung. Menarik tangan kanan Rina dan memakaikan sarung tangan berwarna pink baby, begitu juga dengan tangan kiri Rina. Dan terakhir, ia memakaikan pelindung telinga dengan warna yang sama di kepala Rina.  

Rina merasa bukan hanya pipinya saja yang memerah, tetapi jantungnya juga terasa seperti akan meledak. Andai ia bisa menghentikan waktu, ia ingin waktu berhenti sekarang juga. (Bersambung)

Catatan:

Ahjuma                        : bibi
Aniyo                            : bukan
Gomawo                      : terima kasih
Mianhae                      : maaf
Ne                                 : iya
Yeoja                            : perempuan
Yeojachingu                : pacar (perempuan)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: