Skip to content

Cerpen: One Day in Seoul (2)

by pada 28 April 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(m.boleh.com)

(m.boleh.com)

Oleh Ratih Ramadyawati

“Kau orang Korea?” Laki-laki itu membuka pembicaraan, setelah ia dan Rina beranjak dari butik milik bibi tadi. Mereka berdua kembali berjalan di kawasan Myeongdong. Laki-laki itu kembali memakai maskernya, begitu keluar dari butik.

“Bukan, aku orang Indonesia,” jawab Rina.

“Ah, Indonesia?” tanyanya terkejut. “Aku pernah ke Jakarta. Itu kota yang bagus.”

Belum sempat Rina menanggapi pernyataan itu, pemuda tersebut menyela omongan Rina.

“Bagaimana kalau kita mampir ke sini untuk makan siang?”

Tanpa menunggu persetujuan Rina, pemuda itu langsung menarik tangan Rina.

Rina memandang ke sekeliling restoran. Restoran itu tampak sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Pemuda itu terus menarik tangan Rina dan memilih duduk di pojok restoran, di tempat yang tidak terdapat kaca menghadap keluar.

“Selamat datang,” sapa pelayan ramah. “Silakan, ini menunya,” katanya sambil menyodorkan daftar menu.

Rina dan laki-laki itu memutuskan untuk memesan dua porsi Bibimbap dan dua botol softdrink. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka berdua berbincang-bincang seputar tempat wisata Korea Selatan dan Indonesia.

“Oh iya, ngomong-ngomong apa pekerjaanmu?” tanya Rina tiba-tiba, sedikit melenceng dari topik sebelumnya.

“Itu…”

Tiba-tiba seorang pelayan datang mengantarkan makanan. “Maaf sudah menunggu,” katanya ramah.

“Terima kasih,” jawab laki-laki itu. Saat pelayan pergi, laki-laki tersebut membuka kembali maskernya. “Ayo, makan,” ucapnya sambil tersenyum.

*******

Setelah mereka berdua selesai makan, pemuda itu memanggil pelayan untuk meminta bill-nya.

“Biar aku saja yang bayar,” ujar Rina.

“Tak apa. Biar aku saja,” balas pemuda tersebut.

“Aku saja. Aku kan tadi sudah menumpahkan kopimu,” kata Rina tak mau kalah. Ia hendak mengambil dompetnya dari dalam tas. Ketika ia tidak mendapati tasnya, ia baru teringat kalau tadi ia menitipkan tasnya pada Khansa.

Melihat raut muka gadis di depannya yang berubah drastis, pemuda itu bertanya. “Ada apa?”

Dengan paduan raut muka antara sedih dan shock, Rina menatap laki-laki yang ada di hadapannya. “Aku menitipkan tas dan dompetku pada temanku. Eotteohke? Bagaimana aku kembali ke hotel?”

“Biar aku saja yang bayar, setelah itu aku akan mengantarmu ke hotel,” saran pemuda tersebut.

Jinja?” Rina menatap pemuda itu tak percaya. “Ah, kamsahamnida,” ujarnya sambil membungkukkan badan.

“Sudahlah, tidak apa-apa,” kata laki-laki itu sungkan. “Lagipula, aku yang tadi menarikmu, hingga kau terpisah dengan temanmu.”

*******

Kamsahamnida,” ucap Rina sekali lagi, sambil membungkukkan badan pada pemuda tadi begitu taksi yang mereka tumpangi tiba di depan hotel.

“Ah, tidak usah,” ujar pemuda itu sungkan. “Seharusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih sudah menemaniku hari ini.” Lagi-lagi ia melemparkan senyuman, yang membuat jantung Rina berdegup kencang.

Rina hanya tersenyum kikuk. “Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu,” katanya sambil beranjak pergi.

“Tunggu,” kata laki-laki itu sambil menarik tangan Rina, mencegahnya untuk pergi. “Sebelum kita berpisah, kalau aku boleh tahu, siapa namamu?”

“Rina, Sabrina Alisa,” jawab Rina.

“Akan kuingat baik-baik nama itu,” ujar laki-laki itu sambil tersenyum.

Seakan teringat sesuatu, Rina merogoh kantong dress-nya. “Ah, saputanganmu,” katanya, sambil menyodorkan saputangan itu pada pemuda itu.

“Untukmu saja,” jawabnya, sambil tersenyum lembut. “Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu,” ucapnya, sambil masuk kembali ke dalam taksi.

Rina memperhatikan saputangan biru itu baik-baik. Di sudut kirinya terdapat sulaman yang membentuk dua huruf, ‘SW’. Tiba-tiba saja Rina teringat bahwa ia belum menanyakan sesuatu yang penting.

“Tunggu, siapa namamu?” teriak Rina tepat sebelum taksi tersebut pergi.

“Siwon, Choi Siwon,” jawab laki-laki itu dari jendela taksi sambil melambai-lambaikan tangannya.

Rina terdiam. Ia tidak membalas lambaian tangan itu ataupun tersenyum ke arah laki-laki itu. Ia hanya bisa menatap kosong ke arah taksi yang semakin lama semakin menjauh.

*******

“Rina?” jerit Khansa kaget. “Lo tau, gue cemas setengah mati,” katanya sambil memeluk Rina erat. “Darimana aja, sih, lo? Gue udah cari lo kemana-mana. Dan lo tau, gue berniat ngelaporin lo ke polisi, kalau lo ga balik ke hotel malam ini,” ujarnya panjang lebar.

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi sama lo?” Khansa bertanya sekali lagi, membuyarkan lamunan sahabatnya. Ia kemudian melepaskan pelukannya. “Oh iya, mumpung lo udah datang, gue mau ceritain sesuatu, penting banget.”

Rina mengangkat alisnya.

Khansa mengambil handphone android-nya dan menunjukkannya pada Rina.

“Apa ini?” tanya Rina tidak mengerti, saat Khansa menunjukkan padanya status Twitter seseorang.

“Aduh Rina, lihat baik-baik dong! Itu akunnya Siwon,” jawab Khansa gemas. “Baca, deh. Masa katanya tadi dia ketemu cewek cantik, terus kata dia cewek itu ga tau siapa dia. Siwon juga bilang ‘I love her smile’! Siapa, sih, sebenarnya cewek itu?” ucapnya panjang lebar. “Tapi, cewek itu bego banget, deh. Masa, dia ga kenal Siwon? Yang pasti dia beruntung banget, bisa jalan sama seorang Choi Siwon.”

Rina terdiam. Ia membaca lima kalimat yang Siwon tweet pada hari ini.

Meet a beautiful girl today
It’s look like she doesn’t know me
I love her smile
It’s time for saying good bye to her, really sad
Hope I can meet her again next time

“Oh iya, jadi lo kemana aja seharian ini?” tanya Khansa lagi. “Gue nunggu lo lama banget. Eh, pas gue cari lo ke toilet, lo udah ga ada,” ceritanya. “Pas gue balik lagi ke tempat nungguin, banyak orang ribut-ribut bilang Siwon ada di Myeongdong. Makanya gue ikutan nyari ke luar kafe.”

Rina hanya menatap sahabatnya dengan lesu. “Lo ga akan percaya, sama apa yang baru aja gue alamin.” (Selesai)

Catatan:

Eotteohke                    : bagaimana ini
Jinja                             : benarkah
Kamsahamnida         : terima kasih

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: