Skip to content

Roda Kehidupan Pedagang Mainan Keliling

by pada 7 Mei 2013
(motzter.com)

(motzter.com)

Oleh Nadya Nur’aini

Hidup Juki seakan berputar 180 derajat seperti roda. Dulu, ia pernah mencicipi masa sulit karena tidak mendapat pendidikan yang layak. Masa-masa itulah yang menjadi motivasi Juki untuk gigih mengubah nasibnya. Sekaligus memotivasi diri dengan memberikan bekal pendidikan, bagi anak semata wayangnya.

Juki (55) begitulah namanya. Ia adalah seorang pedagang mainan kelililing, yang menggantungkan hidupnya selama 25 tahun dengan berdagang mainan di SDN Pajeleran 1, Cibinong, Kabupaten Bogor. Untuk menuju lokasi tempatnya berjualan, Juki selalu mengendarai sepeda tua bewarna oranye yang setia menemaninya hingga kini. Bahkan karena selalu pergi berdua, ia telah mengangggap sepedanya sebagai isteri kedua.

Sejak pukul 06.00 pagi, pria yang selalu mengenakan kemeja batik ini siap berangkat mencari nafkah. Jarak yang ditempuh dari rumah petaknya di Cipayung, Bogor ke Sekolah tempatnya berjualan kurang lebih selama 60 menit. Sebelum berangkat Juki menyusun semua mainan ke dalam kotak kayu, yang ditaruh di belakang sadel sepedanya. Ya, tentu saja berat! Dan beban ini membuat sepedanya seolah terseok ketika dikayuh.

Mainan-mainan yang dijajakan Juki beragam, dari yang kecil seperti bola bekel sampai yang besar seperti congklak. Tak hanya mainan, Juki juga menjual makanan ringan seperti Chiki dan permen, yang digemari anak-anak SD. Untuk itu, ia mendapat penghasilan sekitar Rp. 50.000,- per hari.

“Lumayan, sudah cukup untuk makan keluarga,” sahut Juki dalam logat kental Tegalnya.

Bekal Pendidikan

Juki memiliki istri bernama Eni (49) dan seorang anak bernama Toni (23). Untuk menambah penghasilan suaminya, terkadang Eni membantu tetangga mencucikan baju. Begutu juga Toni, menurut Juki ia termasuk anak berbakti, karena tak pernah absen membantunya membuat beberapa mainan. Anak semata wayanganya itu kini telah lulus cumlaude dari Universitas Indonesia.

“Saya bersyukur, biaya sekolah Toni sejak SD sampe kuliah murni dari pemerintah,” terang Juki dengan senyum lebarnya.

Sebagai anak yang berprestasi, setelah lulus kuliah Toni mendapat beasiswa ke Jepang. Namun Toni menolak, lantaran lebih memilih bekerja tak jauh dari orangtua, demi tetap dapat membantu membuatkan mainan. Juki tak membicarakan nominal gaji yang didapat Toni, tapi yang pasti baginya sudah jauh lebih besar jika dibanding dengan hasil dagangannya.

Pria berambut ikal ini memang bertekad memberikan bekal pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Baginya, pendidikan lah yang mampu mengubah kehidupan.

“Saya ingin ngeliat anak saya sukses, agar tidak diremehkan orang lain,” kilah Juki.

Mempunyai Julukan

Juki hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar saja. Akibatnya, Juki bekerja seadanya. Sebelum menjual mainan, pria berdarah Pemalang, Jawa Tengah ini pernah menjadi kuli panggul di desanya.

“Saya sempat jadi kuli panggul di Pamulang,” ungkap Juki sembari membetulkan kaca mata dengan lensa tebal.

Karena itu, ia ingin anaknya tidak bernasib sama dengannya. Setelah menikah dengan Eni, Juki membuat beberapa mainan dan menjual secara berkeliling sampai ditemukannya tempat mangkal. Supaya lebih variatif, ia pun menambahkan dengan mainan jadi yang dibelinya dan beberapa penganan ringan anak-anak. Walaupun penghasilan yang didapat tidak terlalu menggiurkan, ia tetap gigih menggeluti profesinya dengan sepenuh hati.

Sebenarnya Juki memiliki permasalahan dengan pendengarannya. Ia kerap dipanggil Bang Bolot oleh para pembeli dan tetangganya. Sebagian besar malah tidak pernah tahu nama asli Juki, termasuk tetangganya. Walau julukan tersebut kini sudah melekat, sekali pun ia tak pernah marah.

“Bang Bolot, aku beli ini,” teriak seorang bocah, sambil memegang dan menunjukkan kumpulan kartu yang bergambar kartun angry birds pada Juki.

Perlakuan ini sudah biasa baginya, dengan bahasa tubuh si bocah, ia tahu kalau anak tersebut ingin membeli barang dagangannya. Setelah Juki menyebutkan harga, anak kecil yang menjadi siswa di SDN Pajeleran ini pun menyerahkan uang dan kemudian pergi bersama teman-teman yang lain.

Begitu pula setiap lawan bicara Juki yang telah mengenalnya, ketika berbicara dengannya harus menaikkan volume suara agar maksud yang diinginkan dapat tersampaikan secara jelas. Seperti seorang anak kecil yang tidak mengerti penggunaan mainan berbentuk permen karet panjang, si calon pembeli ini pun bertanya sambil berteriak. Untungnya Juki paham maksudnya, ia segera memberi penjelasan dan langsung mempraktekkan penggunaannya dengan sabar.

Kegigihan Tujuan

Begitulah kehidupan Juki. Pria yang memiliki kekurangan di pendengarannya dan kurang beruntung dalam pendidikan ini, terbukti mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus dari salah satu kampus ternama di Indonesia. Kegigihannya mencapai suatu tujuan, dapat kita tiru. Ia tak pernah berputus asa selama hidupnya. Semua pengalaman kurang menyenangkan yang diterimanya, malah ia jadikan motivasi untuk tetap semangat.

Kini ia telah merengguk kehidupan yang manis. Toni meminta Juki dan Eni untuk tidak bekerja lagi. Semua kebutuhan hidup keluarganya akan ditanggung anak tunggalnya. Ketika ditanya apa yang kelak masih diinginkannya, Juki malah tertawa.

Liat nantilah, yang penting saya akan pensiun dulu,” sahut Juki, sekaligus menutup obrolan.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: